
***
"Bagaimana kabar kamu Dek? Apa kamu senang bisa kembali ke rumah?" tanya Revan setelah keduanya sama sama terdiam selama hampir 30 menit berlalu.
"Baik Bang, Mama ngajakin jalan jalan terus. Cape, tapi seneng sih,"
"Kalau Abang yang ngajak jalan, seneng nggak?"
Deg...
"Hah? Maksudnya?"
Jantung Ana kian berdebar saat Revan bicara secara ambigu. Entah apa maksud dari ucapan nya itu.
Namun, apapun itu artinya. Hati Ana tetap saja berdebar sangat kencang saat mendengar ucapan yang entah itu ajakan atau sekedar pertanyaan saja.
"Boleh saja, memang nya Abang sama Bang Ghafin mau kemana? Kok tumben ajakin Ana? Biasanya kalian kalau pergi cuma pengen berdua aja,"
Deg...
Hati Revan kembali terasa diremas saat Ana mengungkit kebiasaan nya dulu. Dulu Ghafiin dan Revan memang selalu melarang Ana untuk ikut setiap kali mereka akan pergi jalan jalan.
Namun larangan itu bukan karena Ghafin dan Revan ingin pergi berdua saja. Namun di antara mereka selalu ada Kaila yang saat itu tengah menjalin hubungan dengan Revan.
__ADS_1
Dan tentu saja, baik Ghafin mau pun Revan akan selalu menolak saat Ana ingin ikut dengan mereka. Dan gadis itu akan selalu menuruti semua permintaan dari Revan dan Ghafin.
Meski sangat menyukai Revan, Ana selalu menomor satukan kenyamanan pria itu. Jika kehadiran nya membuat Revan tidak nyaman maka Ana akan berusaha menahan diri untuk tidak menemui nya.
Dan hal itu pun terbawa sampai saat ini. Ana akan selalu bersembunyi jika kehadiran nya membuat Revan tidak nyaman.
Meski di depan Ghafin Ana terlihat begitu agresif dan begitu terobsesi pada Revan, namun kenyataan nya, gadis itu sama sekali tidak pernah menampakan dirinya didepan Revan jika Revan sudah menunjukan ketidak nyamanan nya jika ada Ana disekitarnya.
"Nggak ada, aku nggak ada agenda jalan sama Ghafin,"
"Terus tadi apa? Ngajakin Ana jalan kan?"
"Kalau itu iya, tapi jalan berdua saja. Nggak sama Ghafin. Gimana? Mau nggak?"
Deg...
Ana tampak begitu shock hingga hanya terdiam menatap tak percaya pada pria yang duduk disamping nya namun masih dengan jarak aman.
"Dek, kok bengong? Gimana, mau nggak?" desak Revan benar benar tidak membuang buang waktu dan kesempatan.
"Eeemmm, itu. Aku___,"
"Wah, disini sejuk sekali ternyata ya? enak banget buat santai santai,"
__ADS_1
Seketika ucapan Ana terpotong dengan suara seseorang yang tiba tiba hadir di sana. Ana dan Revan pun kompak menoleh ke arah sumber suara.
Di sana tampak seorang gadis dengan pakaian yang cukup minim berdiri tidak jauh dari pintu. Kaki jenjang nya kian terlihat panjang karena wanita muda itu tengah mengenakan hot pants dengan atasan sebuah tank top yang dibalut kembali oleh sebuah kemeja oversize.
Yang membuat tampilan nya begitu trendi ala anak jaman sekarang. Gadis itu berjalan mendekati Ana dan juga Revan yang tengah duduk berdua di gazebo kecil yang ada di sana.
"Hai, kamu pasti Revan ya? Kenalin, aku Sarah. " ucap nya sembari mengulurkan tangan nya.
Revan tidak langsung menyambut uluran tangan itu. Revan lebih dulu melirik ke arah Ana, seolah meminta persetujuan gadis yang ada disamping nya itu untuk menerima atau tidak uluran tangan dari Sarah.
Melihat tidak adanya respon dari Ana, yang seolah merasa keberatan jika Revan berjabatan tangan dengan wanita lain.
Revan pun akhirnya memilih mengatupkan kedua tangan nya di depan dada saat menyambut salam perkenalan dari Sarah.
"Maaf, Revan." jawab Revan singkat dengan kedua tangan yang mengatup didepan dada.
Sontak hal itu, membuat dua wanita itu kaget. Bukan hanya saja Sarah yang kaget karena Revan menolak uluran tangan nya. Namun juga Ana yang tidak menyangka jika Revan akan menolak uluran tangan itu.
Setahu Ana, Revan bukan pria yang begitu agamis hingga menghindari sentuhan dengan lawan jenis. Bahkan dulu, Ana pernah menyaksikan langsung pria itu mencium mesra Kaila bahkan sebelum keduanya terikat oleh pernikahan.
Namun kini, ada apa dengan pria itu?? Kenapa dia jadi berubah begini??
*
__ADS_1
***