Takdir Cinta Ghayana

Takdir Cinta Ghayana
Bab.30


__ADS_3

***


"Ayo sayang, kamu sudah siap Nak?" tanya mama Laras pada Ana yang saat ini tengah di ajaknya untuk ikut arisan bersama dengan teman temannya.


"Iya Ma, sudah kok. Ayo, biar Ana saja yang nyetir,"


Ana pun segera mengambil kunci mobil yang akan dia pakai untuk mengantarkan sang mama pergi arisan bersama teman teman nya.


Sejak pulang ke rumah, Ana belum di perbolehkan untuk bekerja dimana pun. Dan kini, ya seperti ini lah keseharian Ana selama seminggu di tanah air.


Pergi jalan jalan setiap menemani sang mama kemana pun wanita paruh baya itu ingin pergi. Mulai dari tempat wisata, mall, dan beberapa restoran ternama pun telah berhasil Ana datangi karena sang mama tidak membiarkan anak bungsu nya itu berdiam diri saja di rumah.


Selama hampir satu jam menghabiskan dijalan, akhirnya mobil yang Ana bawa mulai memasuki halaman rumah yang begitu luas dengan dipenuhi oleh tanaman hias yang indah dan asri.


Bangunan rumah yang megah nan mewah berdiri tegak dan kokoh ditengah tengah halaman yang luas itu.


Ana memarkirkan mobil nya berjejer dengan mobil mobil yang lain, yang mungkin juga tamu di rumah mewah itu.


"Ayo sayang, kita sudah ditunggu sama tante Meli didalam," ujar mama Laras menggandeng tangan putrinya itu.


Ana pun berjalan berdampingan dengan sang mama yang menuntun nya menuju ke rumah mewah tersebut.


"Assalamu'alaikum," seru mama Laras mengucap salam saat sudah sampai didepan pintu rumah yang sudah terbuka itu.

__ADS_1


"Waalaikumsalam, eh Mbak sudah datang? Oh, ya ampun ini pasti Ana, ya? Ya Allah, kamu cantik sekali Nak," ucap wanita paruh baya yang diperkirakan seumuran dengan mama Laras itu menyambut kedatangan mama Laras dan juga Ana.


"Iya tante, ini Ana. Apa kabar?" jawab Ana sembari melangkah maju lalu menyalami tangan wanita paruh baya itu dengan takzim.


"Alhamdulillah, baik sayang, ayo masuk, masuk. Kita kumpul didalam saja yukkk, biar lebih leluasa."


Mama Meli pun membawa kedua tamu nya masuk ke arah lebih dalam lagi. Dimana beberapa ibu ibu sudah ada disana dan tentu saja tidak Ana kenali.


"Wah Ras, kamu bawa siapa? Cantik sekali," ucap salah wanita yang berhijab merah muda syar'i yang ada diantara 4 ibu ibu lain nya.


"Putriku lah, gimana? Cantik kan?"


"Oh jadi ini toh yang namanya Ghayana? Aslinya cantik banget ya," sambung yang lain nya. Dan hal itu membuat wajah Ana merona karena malu.


Untuk Ana sendiri, hanya bisa menyimak tanpa ikut nimbrung, toh karena Ana kurang mengerti dengan apa yang tengah jadi bahan obrolan para ibu ibu itu.


Ana hanya menyibukkan dirinya dengan ponsel di tangan nya. Dan sesekali membuat story suasana didalam rumah itu dan dia bagikan ke sosmed miliknya.


Dan hal itu langsung mendapat respon dari pemuda yang masih tinggal di belahan bumi lain nan jauh disana.


Hingga keduanya pun asik berbincang lewat udara. Bahkan tidak jarang Ana senyum senyum sendiri menhadapi kekonyolan yang dibuat oleh Rey meski dia tidak bisa melihat langsung pemuda itu.


Tapi Ana bisa membayangkan, bagaimana konyol dan menyebalkan nya pemuda itu, tapi itulah yang membuat Ana selalu merindukan nya.

__ADS_1


"Jangan rindu ya, rindu itu berat kata Dilan juga. Mending cinta aja, biar bisa senyum terus. Aciieeee yang baper,"


Ana mencebik kecil, saat membaca balasan chat yang dikirim oleh Rey. Lalu setelah nya tersenyum sangat manis.


"Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumsalam, nah ini dia. Duren yang kita tunggu tunggu akhirnya pulang,"


Deg...


Celetukan salah satu ibu ibu disana mengalihkan perhatian Ana yang sedari tadi asik dengan ponselnya hingga menatap ke sumber suara.


Dan


Deg...


Jantung berdebar dengan sangat kencang saat netranya bertemu kembali dengan netra yang selama ini dia hindari.


Sungguh tidak di mengerti, padahal sudah berusaha melupakan tapi hatinya itu tetap saja berdebar saat bertatapan dengan mata yang meneduhkan itu.


*


***

__ADS_1


__ADS_2