
***
"Loh, kita mau kemana Rey? Ini kan bukan jalan pulang ke rumah aku?" tanya Ana saat Rey melajukan mobil nya bukan ke arah rumah keluarga Herlambang.
"Kita ke suatu tempat dulu ya? Sebentar saja kok, kita butuh ruang untuk bicara. Dan ini serius jadi jangan menolak lagi," jawab Rey mulai memasukan mobilnya ke sebuah gedung apartemen yang menjulang tinggi.
Rey memarkir mobilnya di tepat yang masih kosong lalu meminta Ana untuk ikut turun bersama dengan nya.
"Ayo turun, kita sudah sampai," ajak Rey sembari membuka seatbelt nya.
Meski masih bingung kenapa dirinya dibawa kesana oleh pemuda itu. Namun Ana tetap menuruti nya.
Ana pun ikut turun dan berjalan mengikuti langkah kaki Rey menuju kesebuah lift yang akan membawa mereka naik ke lantai 10, dimana unit yang dimiliki oleh Rey berada.
Sepanjang perjalanan menuju ke unit miliknya, Rey sama sekali tidak melepaskan genggaman tangan nya dari tangan mungil Ana.
Ceklek
Seketika, mata Ana disuguhkan dengan suasana unit apartemen yang rapih, bersih, luas dan mewah.
Entah berapa digit yang harus dikeluarkan untuk mendapat kan unit mewah di gedung apartemen yang elit itu.
"Ayo, sini masuk. Assalamu'alaikum," ucap pemuda itu menarik Ana untuk masuk kedalam unit yang mereka datangi itu.
"Ini, unit milik siapa Rey?" tanya Ana saat Rey membawanya masuk kedalam sana.
"Alhamdulillah, ini sudah menjadi milik aku An. Ayo masuk, kita bicara didalam,"
__ADS_1
Rey membawa Ana semakin kedalam ruangan itu, melewati ruang tamu yang di desain dengan begitu apik dan rapih.
Mengusung gaya mini malis modern, ruangan tamu yang ada di unit apartemen itu cukup enak dipandang mata.
Rey pun membawa Ana ke ruangan santai, disana ada sebuah sofa besar yang panjang dengan karpet bulu di bawahnya sebagai alas.
Didepan sofa itu ada sebuah televisi berukuran cukup besar dan juga beberapa bingkai foto yang ada di atas nakas tepat dibawah televisi besar yang menempel didinding.
"Duduklah dulu, mau minum apa? Biar aku ambilkan,"
"Apa aja yang ada disini,"
"Eemm, mau soda apa jus?"
"Jus saja deh,"
"Ok kalau begitu, tunggu disini ya. Aku ambil minuman nya dulu,"
Ana sendiri hanya memperhatikan pergerakan pemuda itu dari ruang santai. Setelah mendapat kan minuman dingin dan juga beberapa cemilan.
Rey pun kembali menghampiri Ana lalu duduk disamping gadis itu. Rey menyimpan minuman yang dia bawa dengan beberapa cemilan juga di atas meja.
"Kamu tinggal disini?"
"Eemm, baru rencana sih. Kan masih harus balik ke Jepang, jadi belum tahu mau tinggal disini apa di rumah Mama," jawab nya sembari membuka kan tutup botol minuman jus untuk Ana.
"Lalu, apa yang ingin kamu bicarakan?"
__ADS_1
"Tentang kita, memang nya apa lagi?"
"Memang nya, kenapa dengan kita?"
"Hey, ayolah. Aku serius Ana,"
"I_iya, memang nya kenapa dengan kita?" tanya Ana lagi tiba tiba kembali gugup saat pemuda itu menatap nya dengan intens.
"Ok, sekarang coba jelaskan padaku. Kenapa menolak lamaran Bang Revan?" tanya Rey sembari mengubah posisi duduknya menjadi menghadap ke arah Ana.
Rey menopang kepalanya menggunakan tangan yang dia sandarkan di sandaran sofa. Membuat pria itu terlihat begitu santai. Namun entah mengapa hal itu membuat Ana malah merasa gugup.
"Eemm, karena memang sudah bukan dia yang menjadi harapanku,"
"Lalu, siapa dong yang kini menjadi harapan mu?" tanya Rey lagi semakin gencar menggoda Ana yang saat ini sudah merona dan salah tingkah.
"A_apa perlu ditanyakan lagi?" tanya Ana mulai salah tingkah dan juga malu.
"Tentu, semua harus diperjelas kan biar lebih jelas lag. Sekarang, katakan siapa orang itu? Siapa orang yang berhasil menggeser posisi Bang Revan di hati seorang Ghayana?"
Ana pun tampak berdehem dan menghela nafas panjang sebelum akhirnya menjawab pertanyaan yang di ajukan oleh Rey padanya.
"Seorang pemuda yang ngeselin, ngeyelan, pemaksa, tukang ngancam tapi__,"
*
***
__ADS_1
Ok, lanjut besok lagi ya...
berhubung di tempat othor lagi musim panas, jadi jangan marah ya kalau digantung lagi, kan biar jemuran punya othor ada teman nya, 😁😁😁✌✌✌