
***
"Van,"
"Bangun,"
"Hey, bangun,"
"Iya Ana, maaf kan Abang. Abang janji akan bertanggung jawab,"
"Bangun woy, gue bukan Ana. Gue Ghafin bego, ayo cepat bangun kita harus segera ke bandara."
Seketika Revan tersentak kaget saat kesadaran nya ditarik paksa keluar dari dunia mimpi ke dunia nyata.
"Ghafin? Kok loe disini? Mana Ana? Kenapa jadi loe yang ada disini? Kemana Ana?" cecar Revan pada Ghafin yang masih belum menyadari jika apa yang dia alami hanya lah bunga mimpi semata.
Ghafin menatap penuh selidik pada sahabatnya itu. Entah mengapa Ghafin merasa aneh dengan apa yang baru saja terjadi pada rekan sekaligus sahabat untuk nya itu.
"Ana? Apa maksud loe menanyakan Ana dengan kondisi loe kaya gini. Jangan bilang kalau loe jadikan adek gue objek buat fantasi liar loe ya, dasar brengsek,"
__ADS_1
Ghafin langsung mencengkram kerah kemeja yang dipakai oleh Revan saat ini. Ghafin langsung tersulut emosi saat Revan menanyakan keberadaan Ana dalam kondisi baru saja bangun tidur.
"Tu_tunggu dulu, jadi maksud loe, gue tadi mimpi?" tanya REvan lagi menahan tangan Ghafin yang semakin kuat mencengkram kerah baju nya.
"Jadi loe mimpi mesum dan loe mimpiin adek gue dalam mimpi laknat loe itu. Dasar brengsek loe ya, tidak ada akhlak,"
Ghafin pun langsung menghadiahi REvan bogem mentah saat Revan kepergok memimpikan ada dalam mimpi basahnya.
"Abang, stop Bang. Kenapa kalian malah berkelahi," cegah Ana langsung memeluk erat tubuh Ghafin yang masih emosi dan ingin kembali menyerang Revan.
"So_sorry Fin, gue nggak bermaksud. Sumpah, Gue juga nggak tahu kenapa bisa memimpikan Ana kaya gitu, gu____," sesal Revan yang berusaha bangkit saat tubuh nya sudah terjungkal karena diserang oleh Ghafin.
Namun seketika ucapan nya terhenti saat sadar jika Ana sudah ada di antara mereka berdua dengan menatap nya penuh dengan tanya.
Namun, tampaknya bukan hanya Ana yang kebingungan. Revan dan Ghafin pun sama halnya dengan Ana.
Keduanya kebingungan menjelaskan inti permasalahan kenapa mereka sampai berkelahi padahal sebentar lagi pesawat mereka lepas landas.
"Tidak apa apa Dek, ayo lebih baik kita bersiap. Sebentar lagi pesawat kita akan berangkat." jawab Ghafin dengan cepat mengalihkan perhatian Ana pada hal lain.
__ADS_1
"Baiklah, ayo." ana pun berbalik menuju ke luar dari apartemen milik Rey untuk segera bergegas menuju ke bandara dimana hari ini dia akan kembali ke tanah air setelah hampir 6 tahun meninggalkan negara kelahiran nya itu.
"Awas loe, urusan kita belum selesai." lanjut Ghafin pada Revan yang berbicara tanpa suara dibalik punggung Ana.
Sementara Revan sendiri hanya bisa diam mematung ditempat tanpa bisa berkata kata lagi. Sungguh memalukan, bisa bisanya dia mimpi basah dengan Ana.
Mau ditaruh dimana wajahnya nanti, seandainya saja Ana tahu apa yang menjadi titik permasalahan sampai sampai Ghafin menyerang dirinya.
Setelah nyawanya terkumpul semua, Revan pun mulai berbenah dan keluar dari unit apartemen Rey dengan menyerat kopernya.
Suasana selama perjalanan menuju ke bandara pun menjadi terasa aneh dan canggung saat Ghafin dan juga Revan sama sama memilih bungkam.
Ghafin yang tidak terima adiknya menjadi objek fantasi liar Revan tentu saja masih diselimuti oleh rasa marah.
Sedangkan Revan sendiri lebih memilih diam karena dia juga tidak tahu harus bagaimana menjelaskan semuanya pada sahabat nya itu.
Sungguh, Revan sebenarnya sudah ingin belajar merelakan Ana. Dan memilih menyerahkan semua nya pada jalan takdir.
Lah, malah mimpi basah dengan gadis itu dan sialnya semua itu terciduk langsung oleh Ghafin yang tidak lain adalah kakak dari gadis yang baru saja dia mimpikan.
__ADS_1
*
***