
***
..."Intro sebentar ya sebelum kita lanjut. Alhamdulillah, dan terima kasih atas respon nya pada postingan kemarin. Sungguh, Othor tidak menyangka jika responnya akan serame itu. Sungguh Othor ucapkan banyak banyak terima kasih....
...Berhubung hasil dari voting kemarin ada 3 opsi dan ternyata cukup berimbang ya. Maka dengan sangat berat hati Othor akan lanjut ke konsep awal kisah ini....
...Mohon maaf apabila lanjutan kisah ini, kurang berkenan di hati reader lain. Semoga masih berkenan membaca kelanjutan kisahnya....
...Terima kasih dan selamat membaca...yuukk kita lanjut cerita merekanya."...
.
...*********...
.
Ana mengerjapkan matanya saat sinar matahari menyapa wajah cantiknya itu. Ana meregangkan tubuhnya yang terasa begitu pegal pegal saat terbangun dari tidurnya.
Namun diambang kesadaran nya Ana tiba tiba merasakan sesuatu yang berat tengah menindih tubuhnya, seperti ada sesuatu yang melilit dan memenjara tubuh mungilnya itu hingga untuk bergerak saja rasanya begitu sulit.
Dengan mata yang masih terasa mengantuk berat, Ana mencoba meraba raba bagian tubuhnya yang terasa dihimpit benda berat itu demi mencari tahu, apa gerangan yang tengah menindihnya saat itu.
__ADS_1
Seketika Ana tersentak kaget saat ada tangan kekar dan kokoh tengah membelit perutnya dan memeluk posesif tubuh mungil Ana yang ternyata tidak tertutup sehelai benang pun alias polos.
Dengan gerak cepat Ana pun membalik tubuhnya dan bagaikan disambar petir disiang hari. Mata Ana membulat sempurna dengan mulut yang menganga saat tahu siapa orang yang masih tertidur lelap di samping nya itu.
Ana bahkan sampai menutup mulutnya dengan kedua tangannya saat menyadari jika mereka berdua kini tengah dalam keadaan polos.
"Ba_Bang Revan? Ke_kenapa aku bisa disini dengan Bang Revan dengan keadaan kami yang____ ya tuhan Ana. Apa yang sudah kamu lakukan dengan Bang Revan?" gumam Ana dalam hati.
Dengan bergerak cepat Ana pun segera melepaskan diri dari pelukan pria yang selama ini dia hindari itu. Bahkan Ana berencana untuk tidak bersinggungan lagi dengan nya dalam bentuk apapun.
Namun, apa ini? Ana malah menghabiskan malam bersama dengan nya. Yang lebih parah mungkin saja mereka sudah melakukan hal yang tidak diinginkan dan melewati batas.
Namun pergerakan Ana disadari betul oleh Revan yang masih tertidur disamping Ana. Dan menjadi terbangun karena adanya pergerakan yang dilakukan oleh Ana.
Revan pun kembali menarik tubuh polos Ana dan kembali mendekap erat tubuh mungil itu. Hingga Ana dibuat tidak bisa berkutik lagi.
"Mau kemana? Ini masih terlalu pagi untuk bangun sayang,"
Deg...
Jantung Ana secara mau lepas saja dari tempatnya saat Revan memanggilnya dnegan sebutan 'sayang'. Namun detak jantung itu berubah menjadi rasa ngilu di hati, saat menyadari. Mungkin saja panggilan itu Revan tujukan untuk Kaila, bukan untuknya.
__ADS_1
"Ba_bangun Bang, i_ini Ana, bukan Kaila," lirih Ana menekan rasa sakit kala menyebut nama mantan sahabatnya itu.
"Iya, Abang tahu kalau kamu ini Ana. Lagi pula siapa yang menganggap kamu Kaila? Abang tahu ini kamu Ghayana,memang nya kenapa, Hhmm?" bisik Revan yang semakin menyusupkan wajah nya di tengkuk Ana hingga membuat tubuh gadis itu meremang sempurna.
Ana pun menghela nafas panjang lalu mencoba mengumpulkan keberanian nya untuk membalik tubuhnya hingga bisa menatap wajah bantal Revan yang ternyata jauh lebih tampan dari biasanya.
Dan hal itu semakin membuat jantung Ana tidak baik baik saja. Ternyata, hatinya masih berdebar dengan hebatnya saat menatap wajah tampan tapi nyakitin itu.
"Tolong jelaskan, apa yang terjadi Bang? Kenapa_kenapa kita_kenapa kita ada disini dalam ke adaan yang___yang___tolong jelaskan, apa yang terjadi dengan kita, Bang?"
Ana tidak bisa lagi melanjutkan ucapan nya yang berantakan itu. Saking shock nya dengan apa yang terjadi pagi ini, Ana pun sampai tidak bisa menyusun kata kata dengan benar saat meminta penjelasan dari Revan tentang apa yang terjadi pada mereka.
"Maaf Abang Dek, Abang melakukan kesalahan yang besar padamu. Tapi kamu tenang saja, Abang akan bertanggung jawab dengan apa yang sudah kita lakukan,"
Deg...
Jantung Ana kian terasa dihimpit saat mendengar kebenaran yang di ucapkan oleh Revan baru saja. Ana tidak menyangka jika takdir kini membawanya kembali pada pria yang sudah ingin dia lupakan dan ingin dia hilangkan dari hidupnya.
*
***
__ADS_1