
***
Bagai disambar petir di siang hari. Baik Ana maupun Rey sama tertegun dengan penuturan yang di ucap kan oleh Revan.
Kedua muda mudi yang masih tampak shock itu hanya bisa saling menatap dalam diam. Raut wajah Rey pun tiba tiba berubah muram, meski pemuda itu masih menampilkan senyum di wajah tampan nya.
Namun itu semua tidak bisa menutupi kesedihan yang terlihat jelas dari tatapan matanya. Sejak awal pemuda itu mencoba mendekati Ana, Rey sudah menyadari jika hal ini akan terjadi suatu saat nanti.
Apalagi sejak Rey mulai tahu jika Revan juga sebenarnya menyimpan perasaan khusus pada wanita yang sudah sejak dulu dia sukai itu.
Namun rasanya masih belum siap saja jika itu terjadi saat ini, dimana hubungan nya dengan Ana sudah semakin dekat. Meski pun hubungan itu terjalin secara Virtual.
"Bagaimana Om, tante apa Om dan tante berkenan untuk memberi ijin dan restu agar saya dan Ana bisa melanjutkan ke hubungan yang lebih serius lagi?" lanjut Revan yang ditujukan untuk kedua orang tua Ana.
Eehheemm
Eehheemm
__ADS_1
Suara deheman dari Papa Bian membuat suasana sore itu kian menegang. Apalagi saat papa Bian menatap Ana dengan cukup intens.
"Begini Nak Revan, jujur. Saya sebagai seorang ayah masih menyimpan rasa kecewa pada Nak Revan atas kejadian hampir 6 tahun silam. Dimana Nak Revan sempat membuat Ana terluka dan pergi dari kami. Saya tahu, mungkin saat itu Ana bersikap terlalu kekanak kanakan. Tapi, Nak Revan tahu sendiri kan sudah sejak kapan Ana menaruh hati pada Nak Revan? Seandainya saat itu Nak Revan jujur, mungkin Ana tidak akan kecewa seperti itu. Tapi, menimbang lagi apa yang Nak Revan lakukan setelah nya. Mencoba perbaiki semuanya, tidak berhenti berusaha mencari Ana untuk meminta maaf, dan Om hargai itu. Meski berat namun Om akan memberikan ijin dan restu Om pada siapapun yang dekat dengan Ana dan berniat baik melanjutkan hubungan ke yang lebih serius,"
Deg...
Seketika, Rey pun langsung menunduk lesu saat papa Bian memberikan lampu hijau nya pada Revan untuk melangkah ke hubungan yang lebih serius dengan Ana.
Rey tahu jika dia akan berada dititik ini. Dimana dirinya akan kalah dari sang kakak dalam segala hal termasuk untuk mendapatkan Ana.
Selain Revan adalah pria yang Ana cintai sudah sejak lama, Revan juga pria yang sudah matang dan mapan dengan karir yang sudah stabil.
Belum lagi perusahaan yang dia bangun bersama dengan sahabatnya Ghafin. Membuat tabungan pria itu tak berseri lagi.
Sementara Rey sendiri, statusnya saja masih menyandang status mahasiswa yang masih jauh dari kata sukses dan mapan.
Rey pun akhirnya tidak bisa berbuat apa apa dan hanya bisa pasrah. Mencoba mengikhlaskan jika memang Ana bukan lah jodohnya.
__ADS_1
"Tapi, semua itu kembali lagi pada Ana Nak Revan. Ana yang akan menjalani semua itu dan biarkan Ana yang memutuskan. Apa dia akan menerima lamaran ini atau menolaknya," lanjut Papa Bian yang kian membuat tegang suana di dalam rumah itu.
Kini, semua mata pun tertuju pada gadis yang sedari tadi hanya diam. Menyimak apa yang terjadi setelah insiden kepergok nya dirinya dan Revan didalam kamar tadi.
"Bagaimana sayang? Apa bisa kami dengarkan pendapat mu atas lamaran ini?" tanya papa Bian yang kini tengah menggenggam tangan putri bungsunya itu.
Seketika, tubuh Ana dibuat menegang. Ana juga sempat melirik ke arah Rey yang saat ini tersenyum begitu teduh padanya. Namun Ana tahu, dibalik senyuman itu ada rasa sakit dan juga kecewa yang tengah pemuda itu berusaha sembunyikan.
Perasaan itu masih nyata ada, namun harus kan Ana menerima lamaran dari pria yang selama ini dia cintai? Lalu bagaimana dengan pria yang mencintainya dengan tulus itu? Apa yang harus Ana lakukan ditengah sebuah pilihan yang begitu sulit ini.
"Sebelumnya, Ana ingin mengucapkan terima kasih karena Bang Revan sudah memilih Ana untuk menjadi pendamping hidup Abang selanjutnya. Dan setelah melihat bagaimana perjuangan yang Bang Revan lakukan, maka dengan ini saya_____."
.
*
***
__ADS_1
Isi sendiri di kolom komentar ya guys...😁😁