Takdir Cinta Ghayana

Takdir Cinta Ghayana
Bab.24


__ADS_3

***


"Dari mama kalian? Kenapa selarut ini kalian baru pulang?"


Baik Ana mau pun Rey sama sama saling lirik begitu rentetan pertanyaan itu bukan datang dari Ghafin, melainkan dari Revan yang menghadang kepulangan mereka.


Larut dalam pembicaraan dari hati ke hati yang Ana lakukan bersama Rey di pantai tadi membuat keduanya pulang terlambat.


Bahkan Ana dan Rey baru tiba di apartemen saat jarum jam sudah menunjukkan pukul 11,35 waktu setempat.


Hal yang wajar sebenarnya, toh keduanya masih sama sama single dan tidak memiliki tanggung jawab yang mengharuskan mereka untuk pulang ke rumah lebih cepat karena ada tanggung jawab lain yang menunggu, seperti pasangan halal misalnya.


Namun entah mengapa itu menjadi masalah untuk Revan yang sudah sedari tadi menunggu Ana pulang. Bahkan pria itu sampai menunggu di unit milik Ana hanya demi bisa segera bertemu dengan gadis itu.


"Kami habis jalan jalan dulu Bang, memang nya kenapa?" tanya Rey menatap penuh tanya pada sang Kakak.


"Tidak, aku hanya mengkhawatirkan kalian saja. Ya sudah Rey, lebih baik kita pulang sekarang, biarkan Ana dan Ghafin istirahat,"


Revan pun langsung menarik tangan adiknya untuk kembali ke unit mereka. Sementara Ana sendiri hanya bisa melihat tingkah aneh dari pria itu tanpa bereaksi apa apa.

__ADS_1


"Kamu dari mana saja sih Dek? Revan dari tadi nungguin kamu loh. Sampai gelisah dia nungguin kamu nggak pulang pulang, telpon sama pesan Abang juga kenapa nggak direspon?" tanya Ghafin saat Ana sudah masuk kedalam unit apartemen nya.


"Tadi kami mampir dulu ke pantai. Pekerjaan kami di kantor lagi banyak banyak nya, kalau nggak nyempetin waktu buat sekedar mencari angin, ya bisa bisa kita stress Bang. Memang nya, ada apa Bang Revan nungguin aku?" tanya Ana dengan nada biasa saja dan terkesan acuh.


Tidak se antusias dulu sebelum malam menyakitkan itu terjadi dan hal itu membuat dahi Ghafin mengerut, karena untuk pertama kalinya, Ana tidak peduli dan mengacuhkan segala sesuatu yang berhubungan dengan Revan.


Biasanya gadis itu akan sangat antusias merespon apapun yang berhubungan dengan Revan. Namun kini, semua sudah benar benar berubah.


Ghafin bahkan sudah tidak lagi menemukan Ana yang dulu didalam diri Ana yang sekarang. Gadis manja yang bahkan masak air saja tidak tahu bagaimana caranya kini sudah menjelma menjadi gadis yang mandiri dan hebat.


Bahkan kemampuan memasaknya pun sudah bisa dibandingkan dengan seorang koki. Salut dan kagum, itulah kata kata yang Ghafin ingin ungkapkan untuk Ana saat ini.


"Kamu sudah makan, belum? Kalau belum, mau Abang panasin sayur yang tadi sempat Abang sama Revan masak,"


''Abang bisa masak? Wah, kejutan sekali. Tapi maaf, aku masih kenyang. Tadi sebelum pulang kami makan dulu, jadi masih kenyang Bang. Maaf ya,"


"Ya sudah, tidak apa apa. Kalau tidak mau makan, istirahatlah. Besok juga masih masuk kerja kan?"


"Iya Bang. Ya sudah kalau begitu, Ana masuk duluan ya. Selamat malam dan selamat beristirahat ya Bang,"

__ADS_1


"IYa kamu juga Dek,"


Ana pun masuk kedalam kamarnya untuk beristirahat. Sementara Ghafin mulai menempati sofa yang selama beberap hati ini


Dia sulap mejadi tempat untuk dia tidur.


*


*


"Kamu bawa Ana kemana tadi?" tanya Revan pada Rey saat mereka sudah tiba di unit milik Rey.


"kami hanya pergi jalan jalam sebentar. Kami butuh menghirup udara segar Bang, makanya kami sempatkan main meski sebentar disela kesibukan dan pekerjaan kami yang menumpuk, hingga kami hampir menghabiskan masa muda kami didalam kantor dan di depan meja kerja,"


"Ingat Rey, lebih baik kamu fokus dengan kuliahmu. Jangan aneh aneh, jangan macam macam dengan Ana."


"Aku? Macam macam dengan Ana? Yang benar saja Bang, bukan kah kata kata itu lebih pantas disematkan pada Abang, bukan padaku. Sudahlah Bang, urusan aku dan Ana biar aku saja dan dia yang urus. Lebih baik Abang fokus dengan kehidupan Abang saja, yang berantakan itu,"


*

__ADS_1


***


__ADS_2