Takdir Cinta Ghayana

Takdir Cinta Ghayana
Bab.48


__ADS_3

***


"Saya rasa, saya pernah menjawab permintaan ini kemarin. Meski pada orang yang berbeda, tapi kamu juga ada di sana dan jawab saya akan tetap sama." jawab Papa Bian yang membuat Ana dan juga Rey menahan nafas.


Menanti jawaban selanjutnya yang akan diberikan oleh Papa Bian atas permintaan Rey saat ini.


"Semua keputusan ada di tangan Ana. Dia yang akan menjalani dan tentu saja dia juga yang harus menentukan pada siapa dia akan menggantungkan hidupnya di masa depan. Namun, sebagai seorang ayah yang akan melepaskan tanggung jawab atas kehidupan putrinya pada pria yang menjadi pilihan putrinya. Jika berkenan, boleh saya tahu apa yang akan kamu janji kan untuk membuat putri saya bahagia. Secara, yang saya tahu, kuliahmu saja belum selesai,"


"Terima kasih atas jawaban nya Pa, jujur, saya tidak bisa menjanjikan apa apa untuk membuat Ana bahagia. Namun, akan saya pastikan jika Ana tidak akan kekurangan baik itu kasih sayang, cinta dan juga materi. Alhamdulillah, sudah sedari 5 tahun ini saya memiliki penghasilan dari sebuah perusahaan kecil yang diam diam saya bangun untuk masa depan nanti. Jadi Papa tidak perlu mengkhawatirkan itu, saya akan selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk Ana nantinya,"


"Lalu, bagaimana dengan kuliah mu?"


"Untuk saat ini masih berjalan, karena itulah. Saya ingin segera meresmikan hubungan saya dan juga Ana. Nanti, setelah kami menikah, saya akan mengajak Ana untuk ikut menemani saya di sana."


"Bagaimana Ana? Apa kamu siap menerima lamaran ini?" tanya Papa Bian pada Ana.


"Insya Allah siap Pa, Ma,"


"Alhamdulillah, kalau begitu apa rencana kalian selanjut nya?"


"Insya Allah minggu depan saya akan datang bersama dengan keluarga besar untuk meresmikan lamaran ini. Selanjutnya mungkin bisa kita diskusikan lagi masalah pernikahan nya setelah acara pertunangan kami,"

__ADS_1


"Baiklah, semoga diberi kemudahan dan kelancaran hingga kalian sah nanti ya,"


"Aamiin. Terima kasih Ma, Pa,"


Semua nya tampak larut dalam suasana suka cita, dimana keluarga Herlambang akan melepas putra bungsunya yang akan dipersunting oleh pria yang menjadi pilihan nya.


Sementara Ghafin sendiri hanya bisa menjadi pendengar saja. Jujur, Ghafin sangat berharap jika ANa bisa memberikan kesempatan untuk Revan.


Tapi, setelah melihat bagaimana bahagia nya Ana saat bersama dengan Rey, tentu saja dia tidak ingin merusak kebahagian sang adik dan akhirnya memilih untuk mendukung keputusan yang telah di ambil oleh Ana.


Toh tidak bersatunya Ana dan Revan semua berawal dari Revan yang terlalu menurut pada Kaila, hingga membuat Ana sakit hati dan terluka.


*


*


Revan terus saja mengurung diri didalam kamar apartemen milik Ghafin. Revan terus saja merenungi semua yang terjadi.


Menyesal, itulah kata kata yang saat ini begitu membuatnya tersiksa. Seandainya dulu dia jujur akan hubungan nya dengan Kaila mungkin Ana tidak akan pernah menggantikan posisi dihatinya dengan pria lain.


Seandainya dulu dia lebih cepat menyadari siapa wanita yang sebenarnya dia cinta, mungkin saat ini dia telah hidup bahagia bersama dengan Ana dan juga anak anak nya.

__ADS_1


Seandainya dan seandainya saja. Namun sayang, kata seandainya itu selalu hadir disaat sebuah penyesalan itu hadir menyiksa hingga relung hati yang terdalam.


"Apa aku benar benar tidak memiliki kesempatan Dek? Sungguh, sakit sekali rasanya. Apa sesakit ini juga kah yang kamu rasakan saat aku bersama dengan Kaila?" gumam nya sembari terus menghisap batang nikotin yang saat ini menjadi teman setia yang menemani kegalauan nya.


Tidak lama kemudian, terdengar suara pintu yang dibuka dari arah luar. Revan hanya melirik sekilas lalu kembali menghisap rokok nya.


Dia tahu siapa yang akan masuk kesana hingga dia tidak perlu repot repot membukakan pintu atau menyambutnya.


"Mau sampai kapan kamu mengurung diri disini? Ini sudah 2 hari kamu disini dan absen dari kantor," ucap Ghafin saat masuk kedalam unit apartemen nya dan masih menemukan Revan masih ada disana.


"Entahlah, aku masih belum bertenaga untuk melakukan apapun," jawab Revan lesu dan kembali menghisap batang nikotin yang ada di tangan nya.


"Lo itu cowok Van, masa lo kalah sama Ana dulu. Dia patah hati karena lo, tapi dia bangkit dan bisa membuktikan jika dia bisa berubah jauh lebih baik. Terus lo, mau nunjukin kalau lo terpuruk gitu? Ga akan ada guna nya, Ana dan Rey minggu depan tunangan." ucap Ghafin yang membuat Revan tersentak kaget hingga bangkit dari duduknya.


"Apa kamu bilang? Ana dan Rey tunangan?"


"Iya, mereka tunangan minggu depan dan satu bulan setelah nya, mereka akan menikah,"


Deg...


*

__ADS_1


***


__ADS_2