Takdir Cinta Ghayana

Takdir Cinta Ghayana
Bab.25


__ADS_3

***


Revan hanya mampu mengepalkan kedua tangan nya saat Rey membalas ucapan nya tadi. Dia tidak menyangka jika sang adik akan begitu marah saat Revan mengungkit nama Ana.


Mungkin perasaan nya selama ini tidaklah salah, jika Rey memang menaruh hati pada Ana. Tapi, bukan kah usia mereka terpaut cukup jauh? Bahkan Rey belum menyelesaikan kuliah nya. Akan kah Ana mau menerima Rey untuk menjalin hubungan spesial? benak Revan bermonolog sendiri.


Revan menjatuhkan tubuhnya di atas sofa yang ada di unit milik adiknya itu. Revan terduduk merenungi apa yang selama ini terjadi padanya.


Kenapa semua jadi kacau seperti ini, hidupnya bahkan terasa hambar dan tidak memiliki motifasi untuk melanjutkan langkah nya.


Apa yang sebenarnya Revan ingin kan? Kenapa setelah Ana pergi dari hidup nya, hidup Revan seperti tidak terarah lagi. Padahal jelas jelas dulu Revan meyakini jika tidak ada perasaan spesial untuk gadis manja itu.


Bahkan sampai nekad menerima ajakan Kaila untuk berpacaran hanya demi meyakinkan jika dirinya tidaklah mempunyai perasaan apa apa pada Ana, dan hanya menganggap gadis itu sebagai seorang adik perempuan.


Namun apa yang terjadi? Saat Ana pergi, bahkan semua yang dia kerjakan tidak pernah berjalan dengan baik. Bahkan hubungan nya dengan Kaila pun mulai terasa membosankan.


Padahal saat masih ada Ana, perasaan untuk Kaila terasa begitu menggebu hingga mampu membuat Revan menjadi seorang pria pembohong yang berbohong pada Ana saat gadis itu menghubunginya, baik itu lewat chat atau pun telpon.


Lantas apa ini? Kenapa sekarang Revan bertingkah posesif layaknya seorang kekasih. Pantaskah dia melakukan itu? Dan jawaban nya tentu saja tidak.


Revan pun menghela nafas panjang nya, mungkin sekarang sudah waktunya untuk dirinya untuk berintrospeksi diri dan memperbaiki diri, seperti yang Ana lakukan.

__ADS_1


Patah hati dan keterpurukan membuat gadis yang dulu nya begitu manja itu kini sudah berubah menjadi wanita yang mandiri dan sukses.


Sungguh, hal itu membuat Revan dibuat kagum oleh nya. Lantas haruskah Revan kembali hadir dalam hidup Ana yang sudah baik baik saja itu?


Entahlah, semua masih terasa abu abu untuknya. Merasa tidak pantas, namun untuk pergi dan membiarkan Ana bersama pria lain rasanya juga tidak sanggup.


*


*


Sementara ditempat lain...


"Abang belum tidur?" tanya Ana saat keluar kamar melihat jika sang kakak masih terjaga dengan laptop dipangkuan nya.


"Nggak tahu, nggak bisa tidur," ujar nya kembali manja dengan sang kakak.


Ghafin terkekeh saat melihat sifat manja Ana kembali keluar. Tidak seperti kemarin kemarin yang begitu menunjukan jika dia bukan lagi gadis yang manja.


"Sini, bobo disini, dipangkuan Abang," ujar Ghafin menepuk sofa kosong yang ada disamping nya lalu menepuk pahanya yang tertutup celana training tengah dia pakai malam ini.


Ana pun mulai merangsek duduk manja lalu membaringkan tubuhnya disamping sang kakak dengan menggunakan paha Ghafin sebagai bantalan.

__ADS_1


"Kenapa? Tumben nggak bisa tidur? Ada yang kamu pikirkan?"


"Eeemmm,"


"Apa itu? Mau cerita nggak sama Abang?"


"Nggak mau ah, aku mau belajar main rahasia rahasiaan sama seperti Abang sama Bang Revan lakukan dulu,"


Deg...


Dada Ghafin bagai dihantam bongkahan batu besar saat Ana mengungkit kejadian 5 tahun lalu, dimana Ghafin yang membantu Revan menyembunyikan hubungan nya dengan Kaila.


Meski Ana tidak mengatakan secara gamblang, namun Ghafin tahu betul kemana arah pembicaraan yang dilakukan oleh adik kecilnya itu.


"Maaf,"


Ana langsung mendongakkan kepala, menatap wajah tampan sang kakak dari bawah saat pria dewasa itu meminta maaf padanya.


"Kenapa minta maaf? Apa Abang melakukan kesalahan?"


"Iya, Abang melakukan kesalahan Ana, Abang melakukan kesalahan itu 5 tahun yang lalu. Maaf, maafkan Abang yang ikut menutupi hubungan Revan dan Kaila yang membuat kamu tersakiti," lirih Ghafin yang tidak bisa lagi menahan air matanya, kala menyadari apa yang dia lakukan begitu menyakiti sang adik.

__ADS_1


*


***


__ADS_2