
***
1 Minggu kemudian...
Revan menatap nanar sepasang kekasih yang saat ini tengah berbahagia. Senyum manis Ana yang dulu selalu ditujukan padanya kini beralih pada sang adik yang pada akhirnya berhasil menyematkan cincin dengan nama Reynaldi di jari manis Ana.
Berulang kali Revan harus menghela nafas panjang demi mengurai rasa sesak yang terasa begitu menghimpit saat melihat wanita yang dia cinta bersanding dengan pria lain.
Namun, sepertinya Revan harus belajar mengikhlaskan saat melihat binar bahagia di wajah Ana saat Rey menyematkan cincin di jari manisnya lalu mendaratkan kecupan sayang di kening Ana.
Dua insan itu begitu saling menyayangi dan mengagumi satu sama lain dan itu terlihat jelas dari tatapan keduanya saat saling menatap.
Setelah acara pertukaran cincin itu selesai, acara pun berlanjut dengan para tamu yang silih berganti mengucapkan selamat pada pasangan yang berbahagia itu.
Revan berjalan gontai menghampiri Ana dan juga Rey yang tengah menyapa para tamu undangan yang di dominasi oleh rekan sejawat kedua orang tua masing masing.
"Selamat atas pertunangan kalian," ucap Revan saat tiba didepan sepasang kekasih itu.
"Terima kasih Bang, semoga Abang juga bisa segera menyusul ya," jawab Rey memeluk erat tubuh sang Kakak.
Revan tersenyum getir saat Rey mengurai pelukan nya dan melihat dengan begitu jelas bagaimana Ana bergelayut manja di lengan sang adik.
__ADS_1
"Bahagia selalu kalian," jawab Revan sendu berlalu begitu saja tanpa menyapa Ana sama sekali.
"Apa Bang Revan marah sama Ana ya Mas?" tanya Ana membuat jantung Rey berdetak lebih cepat.
Mendapatkan nama panggilan baru membuat tubuh Rey membeku, serta lidah yang kelu. Hingga dia tidak merespon pertanyaan yang Anak berikan.
"Kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Ana saat Rey hanya diam menatap lekat padanya.
"Eemm, tadi, sepertinya aku mendengar seseorang memanggil ku Mas. Apa aku salah dengar ya?" jawab Rey yang keluar dari pertanyaan yang Ana berikan.
Dan hal itu juga mampu memunculkan semburat rona merah di wajah cantik Ana. Ana langsung memaling kan wajahnya untuk menyembunyikan rona merah itu.
"Kok berpaling sih? Lihat sini dong sayang, calon suamimu itu di sini bukan di sana," lanjut Rey menarik bahu Ana hingga kini gadis itu berbalik dan menghadap nya.
"Cantik sekali sih, calon istrinya siapa sih ini?" goda Rey yang kembali membuat wajah Ana merona.
"Rey, malu ih," seru Ana kembali memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Hus, manggilnya kok masih nama? Itu nggak sopan sayang, di biasakan ganti dari sekarang ya," tegur mama Laras saat mendapati putrinya masih menyebut nama pada calon suaminya.
Pasalnya, sebelum acara ini berlangsung mama Laras sudah mewanti wanti agar Ana mulai membiasakan diri untuk memanggil Rey dengan sebutan 'Mas'.
__ADS_1
Meski Rey jauh lebih muda dari pada Ana. Namun tetap saja, Rey akan menjadi imam dan kepala keluarga untuk keluarga Ana kelak.
"Eh, Mama. Maaf habis masih kaku Ma, masih belum terbiasa," jawab Ana tentu saja dibuat malu saat ditegur didepan Rey langsung.
"Nggak apa apa Ma, pelan pelan saya. Nanti juga pasti terbiasa," jawab Rey membela calon istrinya yang saat ini kena tegur calon mama mertua.
"Jangan lupa ingat kan terus ya Nak Rey. Ya, sudah Mama kesana dulu ya mau menyapa tamu yang lain,"
"Iya Ma," jawab ke duanya kompak.
"Oh iya, tadi kamu tanya apa sayang?" tanya Rey lagi saat mama Laras sudah pergi ke sudut ruangan lain.
"Apa Bang Revan marah sama Ana Mas? Kok tadi dia nggak nyapa Ana?" tanya Ana sendu.
"Tidak, Abang mungkin masih merasa kecewa. Kamu tenang saja, semua pasti baik baik saja. Lagi pula, mungkin saat ini Abang masih butuh waktu untuk menerima semua ini,"
"Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Biarkan saja dulu, lambat laun, Abang pasti bisa menerima ini semua," lanjut Rey membawa Ana masuk kedalam pelukan nya demi memberikan ketenangan untuk calon istrinya itu.
*
***
__ADS_1