
***
Hingga menjelang sore, semua ibu ibu arisan itu mulai membubarkan diri hingga hanya menyisakan mama Laras dan Ana saja.
"Kita tidak pulang sekarang Ma?" tanya Ana saat melihat sang mama masih duduk santai di ruang keluarga di rumah itu.
"Sebentar lagi ya sayang, masih ada yang perlu Mama bicarakan dengan tante Meli," jawab mama Laras terlihat santai sambil mengetik sesuatu di layar ponselnya.
Tidak lama dari itu, mama Meli pun datang dengan di ikuti oleh Revan di belakang nya. Pria itu terlihat santai saat sang mama memanggilnya untuk membahas kejadian di kamarnya tadi.
"Jangan pergi dulu Bang, Abang hutang penjelasan pada Mama dan juga tante Laras," ucap mama Meli beberapa saat yang lalu saat Revan akan beranjak kembali ke lantai atas.
"Iya, Ma. Revan akan jelaskan semuanya kok," jawab Revan yang tentu saja tidak akan membuang waktu lagi untuk mengatakan niat hatinya untuk mempersunting Ana.
Dan disinilah mereka saat ini. Bersama ibu masing masing dan duduk bersebrangan. Ana yang belum tahu akan apa yang akan dibicarakan hanya menatap bingung pada ketiga orang yang tenang menatap dengan serius ke arah dirinya dan juga Revan.
"Sekarang, jelaskan pada kami. Apa yang kalian berdua lakukan didalam kamar tadi?" tanya mama Meli membuka suara setelah beberapa saat terdiam memperhatikan kedua anak muda itu.
Deg...
Baik Ana mau pun Revan sama sama dibuat tertegun dengan pertanyaan yang diberikan oleh mama Meli saat mereka berempat sudah duduk bersama di ruang keluarga rumah itu.
Ana menatap cemas ke arah Revan yang terlihat begitu santai saat kedua nya di interogasi oleh sang mama mama prihal kejadian tadi, dimana keduanya kepergok ada didalam kamar tengah saling berpelukkan.
Meski sejujurnya, hanya Revan yang memeluk Ana. Sedangkan gadis itu tidak merespon apapun. Hanya diam terpaku, lebih tepatnya Ana tengah shock dengan pengakuan yang dilakukan oleh Revan padanya saat itu.
"Sebenarnya kami tidak melakukan apapun Ma, tante. Tapi kembali lagi, itu tergantung penglihatan dari masing masing mata yang melihat kami," jawab Revan, yang Ambigu sekali jawaban nya itu.
Hingga menimbulkan persepsi berbeda dari sudut pandang yang berbeda juga. Mama Meli dan Mama Laras hanya bisa saling lirik dengan dahi yang mengerut.
__ADS_1
Sementara Ana sendiri, hanya menatap bingung ke arah Revan yang menjawab pertanyaan dari sang mama dengan jawaban yang aneh dan tidak cukup menjelaskan semuanya.
"Maksud kamu apa sih Bang, jangan buat kami kebingungan begini," lanjut mama Meli.
"Kami hanya mengobrol Ma, tapi memang kami membicarakan hal yang penting."
"Hal penting apa? Memang harus ya sampai berpelukan? Didalam kamar lagi, kalian juga hampir berci___. Sudah lebih baik ceritakan lebih detail agar kami bisa mengerti,"
Merasa tidak kuasa untuk melanjutkan ucapannya yang menyinggung hal se sensitif itu. Mama Meli pun akhirnya memilih tidak melanjutkan dan meminta Revan untuk menceritakan saja apa yang sebenarnya terjadi tadi didalam kamar secara mendetail.
"Sebenarnya tadi itu, Revan sedang melamar Ana Ma, tante. Revan meminta Ana untuk menjadi istri Revan,"
Deg...
Shock. Itulah perasaan yang dirasakan oleh ketiga wanita beda usia yang ada di sana. Baik mama Meli, mama Laras, bahkan Ana dibuat shock berat dengan pengakuan Revan.
"Apa maksud kamu? Apa saya tidak salah dengar?"
Deg...
"Papa," lirih Ana, menatap gugup pada sang ayah.
"Om, Om sudah tiba? Mari silahkan duduk. Revan akan jelaskan semua, tapi tunggu sebentar lagi ya? Tunggu Papa datang," ucap Revan menyambut kedatangan Papa Bian yang datang setelah di kabari oleh pemuda yang merupakan sahabat dari putra sulung nya itu.
Papa Bian pun akhirnya duduk disamping Mama Laras. Lalu tidak lama dari itu, Papa Reza pun datang dan tidak disangka sangka jika kepulangan pria paruh baya itu berbarengan dengan kepulangan seseorang yang sudah cukup lama pergi dari rumah untuk menimba ilmu di negeri orang.
"Assalamu'alaikum,"
Seruan salam yang di ucapkan oleh Papa Reza akhirnya mengalihkan perhatian orang orang yang ada di sana dan cukup membuat suasana tegang menjadi semakin tegang.
__ADS_1
"Waalaikumsalam, Papa. Papa sudah pulang? Ayo Pa, duduk." jawab Revan langsung memberi ruang untuk sang ayah menempati tempatnya.
Seketika Ana dibuat terkejut dengan kehadiran seorang pemuda yang mengikuti Papa Reza di belakang nya.
"Rey," gumam Ana menatap wajah pemuda yang tersenyum lembut ke arah nya.
"Rey? Kamu pulang Nak?" tanya mama Meli menyambut putra keduanya yang baru saja pulang dari kuliahnya.
"Iya Ma, sengaja ambil cuti. Buat seseorang yang merindukan aku," jawab Rey melirik sekilas ke arah Ana, yang saat ini menatap tak percaya pada pemuda itu.
"Berhubung kita sudah berkumpul. Apa boleh kita mulai?" tanya Revan memulai buka suara untuk mengutarakan niat nya kenapa dia sampai mengumpulkan semua orang.
"Memang nya apa yang ingin kamu bicarakan? Sampai sampai kamu mengumpulkan kami seperti ini?" tanya Papa Reza pada putra sulung nya itu.
"Pertama tama, Revan ingin minta maaf sebelum nya karena sudah mengganggu waktu sibuk Papa dan juga Om Bian. Kedua, Revan ingin berterima kasih karena Papa dan Om Bian sudah meluangkan waktu sehingga kini kita bisa berkumpul disini. Begini__,"
Deg....
Revan tampak menjeda ucapan nya lalu menghela nafas panjang sebelum melanjutkan ucapan nya.
Dan hal itu membuat suasana semakin tegang. Dan itu begitu dirasakan oleh Ana, gadis itu begitu tegang sampai tubuhnya mengeluarkan keringan dingin.
"Begini Pa, Om. Revan mengumpulkan semuanya, untuk menyampaikan, jika Revan ingin meminta ijin dan restu semuanya untuk mempersunting Ana,"
Deg...
.
*
__ADS_1
***