Takdir Cinta Ghayana

Takdir Cinta Ghayana
Bab.31


__ADS_3

***


Baik Ana maupun Revan sama sama memalingkan wajahnya setelah beberapa saat saling bertatapan dalam diam.


Bahkan keduanya kompak berdehem demi menetralkan debaran jantung mereka yang sama sama menggila.


"Tumben pulang ke rumah? Biasanya lebih suka di apartemen," ucap mama Meli saat melihat putra sulung nya itu menyambangi rumah utama.


"Lagi kangen sama Mama, sama masakan Mama. Jadi nggak suka nih lihat aku pulang?"


"Ya ampun, mana ada orang tua yang tidak suka anaknya pulang. Kebetulan Bi Nani lagi masak buat makan siang nanti, kamu tunggu saja dulu ya. Nanti kita makan siang bareng,"


"Iya Ma, Revan masuk saja ya. Ga enak banget, masa kumpul sama ibu ibu,"


"Kenapa memang nya kalau kumpul sama ibu ibu?"


"Malu lah Ma, canggung,"


"Tenang saja Nak Revan, kita sudah jinak kok. Nggak akan gigit," seloroh salah satu ibu ibu di sana yang menggoda putra sulung dari keluarga Adinata itu.


Pria tampan, sukses namun sayang statusnya sudah menjadi seorang duda di muda. Yang bahkan pernikahan itu terjalin hanya 3 bulan saja sampai ketuk palu memutuskan ikatan pernikahan itu.


Revan sendiri hanya tersenyum tipis untuk menanggapi godaan yang dilakukan oleh para ibu ibu yang sudah tidak lagi muda itu.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu, kamu tunggu di atas saja. Oh iya, ajak Ana sekalian Van. Kasihan dia bete dari tadi nggak temen ngobrol,,"


Deg...


"Hah?"


Semua orang langsung menoleh ke kedua muda mudi yang tampak begitu kompak saat menjawab ucapan dari mama Meli.


Lalu keduanya juga kompak memalingkan wajah ke sembarang arah dengan rona merah di wajah mereka masing masing.


"Ciee, kompaknya. Jangan jangan mereka jodoh jeng Mel, jeng Ras," seru wanita yang bernama Irna itu.


"Jangan dong Jeng, Nak Revan kan mau saya kenalin sama anak saya si Sarah. Nanti juga anaknya nyusul kesini kok. Nak Revan, mau ya nanti tante kenalin sama anak tante si Sarah?" sambung wanita paruh baya yang diketahui bernama Mayang itu.


"Jangan sekedar kenalan dong Nak Revan, kalian kan sama sama single. Boleh dong di coba kenal lebih dekat, siapa tahu cocok dan jodoh," lanjut Bu Mayang lagi.


"Sudah sudah, lebih baik biarkan mereka menunggu kita diatas saja. Kita lanjut lagi saja acara arisan nya ya ibu ibu," potong mama Meli yang tahu betul bagaimana perasaan putranya itu, yang sudah terlanjur terpaut pada satu orang gadis yang sudah lima tahun dia tunggu kepulangan nya.


"Sudah, kamu lebih baik naik ke atas sekalian bawa Ana, ya. Kasihan dia nggak ada teman," lanjut mama Meli pada Revan.


"Iya Ma, ayo Dek. Kita ke atas,"


Ana pun mengangguk lalu mengikuti langkah Revan yang sudah lebih melangkah menaiki anak tangga.

__ADS_1


Suasana canggung pun tercipta saat keduanya tiba dilantai atas rumah keluarga Adinata. Revan terlihat kebingungan akan kemana dia membawa Ana untuk sekedar bersantai.


"Kita ke balkon saja Bang," ucap Ana saat melihat kebingungan di wajah Revan.


Jika dulu Ana akan selalu bermain di dalam kamar nya saat berkunjung ke rumah itu, namun saat ini ruangan itu menjadi tempat paling terlarang untuk mereka tempati saat ini.


"Oh, iya baiklah. Kita ke balkon saja kalau begitu,"


Revan kembali berjalan didepan Ana saat keduanya pergi menuju ke arah balkon di lantai dua rumah keluarga Revan.


Di Sana ada sebuah gazebo kecil dengan beralaskan karpet bulu yang halus dan empuk, ada juga beberapa bantal kecil yang bisa digunakan untuk tidur atau hanya sebagai ganjalan saat menopang tangan.


Keduanya terlihat kaku dan canggung hingga sepi dan hening yang tercipta kala mereka hanya berdua saja seperti saat ini.


"Mau minum nggak?" tanya Revan membuka suara disela keheningan yang ada.


"Boleh," jawab Ana yang sama kebingungan nya dengan Revan.


*


***


8

__ADS_1


__ADS_2