Takdir Cinta Ghayana

Takdir Cinta Ghayana
Bab.46


__ADS_3

***


"Reynaldi Adinata, CEO Epic Mobile Games." gumam Ana saat melihat dan membaca sebuah kartu nama yang tadi dikeluarkan dari dalam dompet milik Rey.


"Kamu?" tanya Ana setengah tidak percaya jika dibalik game terkenal itu adalah pemuda tengil yang selama ini selalu saja mengikuti nya dan selalu memaksakan kehendaknya pada Ana.


"Gimana? Masih meragukan penghasilan ku?" tanya Rey sembari menyelipkan rambut Ana yang menghalangi wajah cantik itu ke balik telinga sang gadis.


"Bukan begitu, hanya saja___,"


"Apa lagi? Karena usiaku? Atau karena kuliah ku?"


"Bukan begitu juga, tapi, apa tidak terlalu cepat jika kita langsung menikah?"


"Niat baik itu bukan kah lebih baik di segera kan? Lagi pula, kita bisa mulai pacaran setelah status kita halal bukan? Pacaran halal itu bukan kah lebih seru dan lebih baik,"


"Iya sih, hanya saja,"


"Dengar sayang, aku tahu pasti banyak yang menjadi pertimbangan untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius. Tapi, asal kamu yakin dan aku juga yakin, semua pasti baik baik saja. Lagi pula, usiaku sudah 21 tahun, di daerah daerah pria seusiaku bahkan mereka sudah memiliki anak lebih dari satu. Terus kalau masalah kuliahku. Aku bisa menyelesaikan nya saat kita sudah menikah. Jadi nggak ada masalah lagi kan? Kamu, mau kan nikah sama aku?" tanya Rey menatap serius ke arah Ana.


"Kamu sedang melamar ku?" tanya Ana terperangah saat Rey tiba tiba melamarnya.


"Ya ampun, gemesin banget sih ni cewek," ujar Rey yang merasa gemas, lalu menarik Ana kembali masuk kedalam dekapan nya.


Keduanya kembali terkekeh dalam dekapan masing masing. Gila memang, tapi apalah daya, kala hati yang sudah berbicara. Ana sendiri pun tidak menyangka jika perasaannya kini bisa berpaling pada pria yang jauh lebih muda dari nya.

__ADS_1


"Mau ya?" tanya Rey lagi tanpa melepas pelukan nya di tubuh Ana.


"Mau apa dulu?" tanya Ana balik, pura pura tidak tahu apa maksud dari pertanyaan dari Rey. Lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang Rey.


"Ya ampun, gemesin banget sih. Serius dong sayang," keluh Rey setengah putus asa menghadapi sikap Ana saat ini. Lalu semakin mengeratkan pelukan nya ditubuh Ana


"Iya mau apa dulu? Kamu yang nanya nya nggak jelas,"


"Nikah sama aku. Jadi istri dan ibu untuk anak anak aku nanti, gimana?"


"Insya Allah,"


"Kok insya Allah sih?"


"Mau jawaban yang pasti. Iya atau tidak?"


"Eemm, iya, insya Allah,"


"Tuh kan gitu lagi? Ayo dong sayang,"


Rey kemudian mengurai pelukan nya lalu menatap lembut wajah Ana yang ada didepan nya.


"Please Ghayana, will you merry me?" tanya Rey menatap serius ke arah wajah cantik Ana.


Rey sampai menahan nafas saat Ana hanya terdiam menatap wajah cemasnya, menunggu jawaban dari pujaan hatinya itu.

__ADS_1


Hingga senyum penuh rasa lega pun akhirnya muncul di wajah tampan itu saat Ana menjawab lamaran nya lengkap dengan anggukan kepala.


"Yes, i do,"


Rey kembali memeluk tubuh Ana, mendekap erat tubuh mungil itu lengkap dengan ciuman bertubi di pucuk kepala Ana. Melepas semua risalah hati yang tadi sempat menyapa nya.


*


*


*


Berbeda dengan Ana dan Rey yang tengah berbahagia atas perasaan mereka masing masing yang telah bersambut.


Saat ini seorang pria dewasa tengah menghabiskan waktunya didalam sebuah kamar apartemen, untuk merenung.


"Mau sampai kapan kamu mengurung diri disini? Ini sudah 2 hari kamu disini dan absen dari kantor," ucap Ghafin pada sahabatnya yang tengah patah hati, Revan.


"Entahlah, aku masih belum bertenaga untuk melakukan apapun," jawab Revan lesu dan kembali menghisap batang nikotin yang ada di tangan nya.


"Lo itu cowok Van, masa lo kalah sama Ana dulu. Dia patah hati karena lo, tapi dia bangkit dan bisa membuktikan jika dia bisa berubah jauh lebih baik. Terus lo, mau nunjukin kalau lo terpuruk gitu? Ga akan ada guna nya, Ana dan Rey minggu depan tunangan." ucap Ghafin yang membuat Revan tersentak kaget hingga bangkit dari duduknya.


*


***

__ADS_1


__ADS_2