
***
Yona sudah melihat ekspresi yang menggambarkan sesuatu yang aneh dari ayahnya, namun Yona tetap akan melanjutkan pembicaraan nya.
Tetapi belum sempat Yona melanjutkan pembicaraan nya Herman ayah Yona langsung memotong pembicaraan.
"APA? KAU INGIN MEMBICARAKAN SOAL PERMINTAAN PERCERAIAN MU?" decak Herman dengan nada yang sangat lantang dan suara yang gemetaran seolah Herman begitu murka akan apa yang akan putrinya katakan.
"Loh, ayah kok tahu?" tanya Yona kebingungan, padahal Yona belum lah mengatakan perihal perpisahan kepada siapapun kecuali pada Daniel suaminya sendiri.
"Apa Yona? apa maksudmu?" teriak Siska yang tidak menyangka jika Yona akan mengkonfirmasi pernyataan suaminya tentang Yona yang meminta perceraian dengan Daniel.
Siska begitu terpukul dan tidak menyangka, jika malam ini akan begitu menyakitkan, Siska merasa sudah dibohongi oleh putrinya sendiri.
__ADS_1
"Yona, apakah kau sadar? aku dan Braham, mendiang ayah suami mu sudah mengikat janji sehidup semati! bagaimana mungkin kau mau menodai hal itu? apakah kau ingin melihat ayahmu mati dengan cepat?" teriak Herman dengan tubuh yang bergetar, dia hampir jatuh dari kursi rodanya namun di tahan oleh istrinya, Siska.
"Ayah," decak Yona sudah begitu khawatir melihat keadaan ayahnya yang begitu terpukul, padahal Yona bahkan belum menjelaskan apapun.
Yona sangat sadar, jika semua ini sudah berada dalam rencana Daniel.
"Oh, jadi ini maksud dari perkataan mu tadi siang? kau monster, aku membencimu!" gumam Yona sudah menangis dengan Hebat saat melihat keadaan ayahnya yang begitu lemah.
"Ayah, dengarkan Yona dulu, ada alasan untuk itu semua," seru Yona dengan tangisan di wajahnya.
"Yona! jika kau ingin melihat aku mati saat ini juga, kau boleh bercerai dengan Daniel. Tapi jika kau masih ingin melihatku hidup, kau harus pergi ke Daniel sekarang dan meminta maaf padanya!" decak Herman langsung berusaha menjalankan kursi rodanya sendiri ke ruangannya.
"Ayah, jangan pergi, dengarkan Yona," ucap Yona dengan pilu kepada ayahnya, namun ayahnya yang sudah sangat kecewa terhadap perilaku putrinya, tetap saja tidak menoleh dan tetap mengayuh kursi rodanya sampai ke ruangannya.
__ADS_1
"Ibu, Ibu percaya padaku kan Ibu? aku punya alasan ku sendiri, kumohon percaya padaku Ibu," tangis Yona melihat ke arah Ibunya yang sudah menampilkan ekspresi syok dan sedih.
"Yona, dengarkan perkataan ayahmu dan pulanglah sekarang. Kau menikah dengan Daniel disamping karena perjodohan, bukankah karena kau ingin memperjuangkan nya dahulu? kau harus konsisten Yona, sekarang Ibu ingin menenangkan diri dulu, kau harus kembali ke rumah suamimu," sahut Siska meninggalkan meja makan yang penuh dengan makanan yang sudah susah-susah ia masak.
"Huhu, aku sudah bertahan selama tiga tahun, tapi dia tidak kunjung mengingat ku! apakah salah bagi seseorang untuk menyerah? dia yang melupakan aku, tapi mengapa yang disalah kan aku?" ucap Yona sembari menangis dengan pilu.
Entah hubungan apa yang dulu Yona dan Daniel punyai, namun seperti yang Yona bilang, Daniel sama sekali tidak mengingat dirinya.
***
Di rumah Daniel,
"Hemm, sepertinya rencanaku berjalan dengan lancar, Yona, sebaiknya kau menurut dan menjadi istriku yang baik saja, aku bukanlah seseorang yang bisa kau kalahkan dan tentang!" decak Daniel sembari meminum segelas wine yang sudah berada di tangannya.
__ADS_1
Saat ini, Daniel sedang menunggu kepulangan Yona di kamar mereka. Entah mengapa Daniel sangat haus akan perminta maafan Yona.