
***
Beberapa saat kemudian,
Orangtua Yona sudah keluar dari ruangan itu, mereka ingin membicarakan sesuatu dengan Daniel mengenai Yona, apakah Yona sungguh sudah tidak bisa diselamatkan.
Diruang tamu,
"Nak Daniel, apakah putri Ibu sungguh sudah tidak bisa di selamatkan? apakah memang sudah tidak ada kesempatan?" tanya Siska pelan pada Daniel suaminya. Karena tadi Siska sudah bisa melihat banyak peralatan kesehatan di ruangan itu menandakan jika Daniel sudah melakukan perawatan pada Yona.
"Aku akan mencari cara Ibu, pasti ada pengobatan di dunia ini yang mampu untuk menyembuhkan istriku, aku akan mencari ke seluruh dunia dan pasti akan menyembuhkan istriku," jawab Daniel dengan nada yang bergetar.
Sesungguhnya Daniel belumlah tahu apakah sungguh ada pengobatan itu, namun Daniel memang tidak bisa mengatakan kenyataan yang bahkan dia sendiri sangkal.
"Baiklah Nak, Ibu percaya padamu, kami akan selalu ada untuk membantu, tolong selamatkan putri Ibu, dia sudah cukup menderita selama ini," ucap Siska sudah menangis lagi. Dia sesaat mengingat jika Yona sudah cukup menderita dalam hidupnya karena keadaan tubuh dan penyakitnya.
"Jangan membebani dia dengan pernyataan itu, aku yakin putriku akan sembuh, apapun yang terjadi aku yakin dia akhirnya akan kembali kepada kita," ucap Herman pada Siska.
Siska yang mendengar teguran hanya bisa terdiam dan terisak, dia tidak peduli saat ini harus membebani siapa yang penting putrinya selamat.
"Tidak masalah Ayah, sudah tugas ku untuk menjaga Yona. Aku berjanji akan membuat Yona sembuh, aku juga sudah bersumpah pada nya akan membuatnya sembuh, jadi aku akan melakukan segalanya," jawab Daniel meyakinkan orangtua Yona bahwa Daniel juga tidak akan menyerah pada pengobatan Yona.
Pembicaraan panjang antara Daniel dan orangtua Yona akhirnya usai. Siska dan Herman memutuskan untuk tetap tinggal di rumah itu. Mereka tidak akan meninggalkan putrinya untuk saat ini, dan jikalau mereka dibutuhkan mereka akan langsung cepat dapat membantu.
***
Di kamar Daniel,
__ADS_1
Daniel sudah kembali ke kamarnya menemui istrinya yang sedang terbaring.
"Sayang, apakah kau sudah tidur?" sahut Daniel mengusap lembut rambut Yona yang terlihat sedang tidur.
Melihat jika Yona sama sekali tidak membuka matanya membuat Daniel yakin jika Yona sungguh sudah tidur.
"Selamat tidur sayang, aku bersumpah akan menyembuhkan mu apapun yang terjadi, dan ingatlah aku, ayah dan ibu akan selalu berada di sisimu mendukung mu, jadi kumohon jangan menyerah," bisik Daniel dengan kepedihan hati yang seolah tidak mampu ia ungkapkan itu.
Yona yang memang belumlah tidur dan mendengar keinginan suaminya lagi-lagi menginginkan sesuatu yang egois lagi.
Itulah mengapa Yona sungguh ingin berjauhan dari Daniel, karena jika seperti ini Yona akan menginginkan sesuatu lagi, Yona akan melupakan kenyataan dan menginginkan sesuatu yang tidak mungkin lagi.
"Maafkan aku, jika saja aku diberikan kesempatan itu aku pasti akan rela membayar nya dengan apapun, aku akan bersikap baik, aku akan melakukan apapun agar diberikan kesempatan sekali lagi untuk bersamamu dan orangtuaku, aku ingin egois lagi," gumam Yona masih berpura-pura memejamkan matanya namun saat ini hatinya sungguhlah remuk.
Daniel telah lama memeluk istrinya dan memeluknya di bagian dada untuk memeriksa detak jantung Yona. Setiap detak jantung yang terdengar seolah memberikan kebahagiaan bagi Daniel, seolah mengatakan jika saat ini Yona masih baik-baik saja.
***
Tring ... Tring ... Tring
Belum sempat Daniel menghubungi Henry, Henry berketetapan sudah terlebih dahulu menghubungi nya.
"Pas sekali, aku juga ingin menghubungi mu, ada apa Hen?" tanya Daniel pada assistennya melalui telepon genggam.
"Saya punya tiga kabar Pak, yang pertama semua anak buah Roy sudah kita serahkan pada yang berwajib, Roy sudah dikurung dan diikat diruangan bawah tanah, dan sesuai instruksi mu semua kejadian ini sudah ditekan dan pastinya tidak akan tercium oleh media."
"Kabar yang kedua, semua saham yang telah di miliki oleh Roy di perusahaan sudah dibekukan, management juga sudah di audit kembali seperti yang Bapak perintahkan, dan saat ini posisi direktur pusat sedang menunggu kehadiran Bapak untuk mengisi nya kembali,"
__ADS_1
"Kabar yang ketiga adalah bahwa saya telah menemukan jika di negara X memiliki teknologi yang lebih maju dan canggih dalam hal medis, saya juga telah meriset jika angka kesembuhan penyakit tumor di negara itu lebih tinggi dari negara-negara yang lain," sahut Henry menginformasikan segala sesuatu yang memang hendak ia laporkan pada atasannya.
"Benarkah? bagus, bagus, besok siapkan semuanya aku dan Yona akan segera menuju negara itu, oh ya mengenai Roy aku sudah tahu hukuman apa yang pantas untuknya, selama aku pergi, aku akan meninggalkan urusan itu padamu," sahut Daniel begitu bersemangat, dia akhirnya menemukan harapan baru, walaupun masih samar tetapi ini masihlah permulaan. Daniel akan berusaha lebih keras lagi dan mencari tempat yang lain lagi agar bisa menyembuhkan istrinya.
Dan untuk Roy, pamannya, Daniel sudah menemukan cara yang paling sadis untuk menghukum nya. Saat ini Roy hanya tinggal menunggu konsekuensi dari perbuatannya saja.
Setelah panggilan antara dirinya dan Henry berakhir, Daniel kembali ke dalam ruangan dengan ekspresi yang begitu berbeda. Saat ini dia begitu senang, karena telah menemukan sebuah harapan baru.
"Sayang, lihatlah seperti yang kukatakan padamu, pasti ada harapan, semuanya belum terlambat, aku akan berusaha lebih keras lagi untuk mempertahankan mu dan bayi kita. Kita akan hidup bahagia dan tinggal di rumah pantai yang kau suka, bukankah itu terdengar sangat menyenangkan? ah, aku sudah tidak sabar," sahut Daniel kembali memeluk istrinya.
Saat ini dia sudah melayang dan melambung terlalu tinggi
Yona yang memang awalnya berpura-pura tidur saat ini sudah tidur sungguhan jadi dia tidak bisa mendengar ucapan Daniel yang barusan.
***
Di rumah sakit,
Melly yang baru saja sadar mendapati jika dirinya belumlah mati dan saat ini masih berada di rumah sakit.
"Aaagghhhh!" teriak Melly sesaat setelah ia sadar, dia masih tidak bisa menerima jika Daniel sudah pergi darinya. Kesempatan tiga tahun yang ia miliki sudah berakhir.
"Tidak! Tidak! Tidak! Daniel hanya milikku!" teriak Melly sembari mencabut infus yang ada di tangannya dan merusak semua barang yang ada di ruangan.
Karena selama hidup Melly selalu mendapat kan apa yang dia inginkan seolah kehilangan akal nya saat mengetahui jika Daniel maupun hartanya tidak satupun ia miliki.
Obsesi nya terhadap Daniel sungguh mampu membuatnya kehilangan kewarasannya.
__ADS_1