TERIKAT TALI PERNIKAHAN

TERIKAT TALI PERNIKAHAN
Aku menemukanmu


__ADS_3

***


Daniel yang berada di rumah sakit sekarang sudah menenangkan dirinya, dia sudah tahu dimana Yona berada, jika dugaan nya benar maka pasti Yona sedang tinggal di pedesaan yang dulu Daniel carikan untuk menjadi tempat tinggal mereka kelak.


"Henry, aku sudah mengingat semua detail ingatanku yang sudah di ubah dengan se enaknya, aku ingin kau menyelidiki kasus kecelakaan yang terjadi tiga tahun lalu, itu adalah kecelakaan yang di sengaja. Kau jaga Melly dengan keamanan ketat, dia adalah salah satu kunci untuk membongkar rahasia kecelakaan itu."


"Aku tahu ini terdengar gila dan tidak masuk akal, tapi periksa semua jadwal pamanku saat kecelakaan itu terjadi, semua orang yang dia hubungi dan orang-orang yang bersangkutan dengannya,"


Saat ini Daniel memberikan perintah pada assistennya dengan wajah yang serius, kecelakaan yang menimbulkan mala petaka, kecelakaan yang memberikan penderitaan tiada berakhir, sampai dunia kiamat pun Daniel harus menemukan dalangnya dan membalas perbuatan nya seribu kali lipat.


Saat mendengar perintah atasannya membuat Henry sedikit kebingungan, paman Daniel adalah orang yang begitu hangat, ramah dan juga sangat sopan.


Perilaku nya begitu baik sampai terkadang dikira bodoh oleh orang lain. Namun, saat ini bukan saat nya bagi Henry meragukan kecurigaan Daniel, atasannya. Apapun itu, Henry akan melakukan yang terbaik untuk membantu atasannya.


Setelah Meneguhkan hatinya, Daniel segera pergi menuju tempat yang Daniel curigai menjadi tempat Yona saat ini.


***


Disuatu tempat,


"Sepertinya Daniel sudah mencurigai sesuatu, ikuti kemana pun dia pergi dan saat ada kesempatan langsung bunuh dia! sepertinya aku telah melakukan kesalahan berkerjasama dengan wanita itu!" sahut seseorang yang begitu misterius melalui telepon genggamnya.


Saat ini orang misterius itu memang sedang menghubungi suruhan kepercayaannya, saat tempo lalu gagal membunuh Melly. Dirinya memutuskan untuk langsung membunuh Daniel saja sebelum semuanya terbongkar.


"Aku tidak akan melepaskan apa pun, kau harus mati jika itu diperlukan!" sahut pria misterius itu dengan mata dan pandangan yang begitu tamak dan tajam.


***


Daniel yang sudah mengumpulkan keberanian hatinya saat ini sedang berangkat secepatnya menuju tempat yang menurut nya akan menjadi tempat persembunyian bagi Yona.


Daniel berpikir keras apa yang akan ia ucapkan jika bertemu dengan Yona. apakah meminta maaf? apakah berlutut? beribu-ribu tindakan sedang berputar di kepala Daniel saat ini.

__ADS_1


Tapi, ada satu hal yang pasti jika dia menemukan Yona, Daniel tidak akan melepaskan nya lagi.


Tidak terasa Daniel sudah sampai di desa yang menjadi tujuannya, tidak sedetik pun Daniel bisa memejamkan matanya, jantungnya berdegup begitu cepat.


Entah mengapa hatinya mengatakan jika Yona sungguh berada di desa itu.


Karena lokasi desanya memang jauh dan jalanan menuju desa tidak terlalu bagus, membuat perjalanan yang di lalui Daniel membutuhkan waktu semalaman.


Saat ini berketetapan sekali dia sampai pukul enam pagi di desa itu, dengan tubuh yang bergetar dan jantung yang tidak tenang, Daniel masuk kedalam rumah yang dulu ia khusus bangun untuk menjadi tempat tinggal mereka kelak.


Rumah itu masih tampak sama persis seperti saat ia meninggalkan rumah itu beberapa tahun lalu.


Dan benar saja, saat dia memasuki rumah itu dia bisa melihat ada sendal rumah di depan pintu. Dengan wajah yang begitu bahagia Daniel langsung berlari hendak memasuki kamar yang terlihat sedikit terbuka.


"Yona?" sahut Daniel langsung membuka pintu kamar itu dengan begitu terburu-buru. Namun, Daniel tidak menemukan Yona di kamar itu, yang ada hanya sebuah buku yang tergeletak di atas meja dekat kasur yang terlihat begitu rapih.


Lagi-lagi hatinya menjadi tidak tenang, apakah benar Yona ada disitu atau tidak. Segera Daniel memeriksa seluruh ruangan, namun lagi-lagi Daniel tidak menemukan Yona.


Saat melihat jika obat itu masih baru, dan tanggal pengambilan merupakan tanggal kemarin meyakinkan Daniel jika Yona memang berada di rumah itu.


"Tapi, kemana dia? apakah dia sudah menyadari kedatangan ku dan pergi kabur?" gumam Daniel mulai risau lagi.


"Zrasshh!" sampai saat suara ombak yang terdengar sampai ke arahnya itu membuyarkan lamunan Daniel.


"Oh iya pantai!" decak Daniel segera berlari dengan begitu cepat hendak menuju pantai yang berjarak begitu dekat dengan rumah itu.


"Aku harap kau ada disini," gumam Daniel sembari berlari sekuat tenaga nya ingin cepat sampai ke tepi pantai.


Langkah kaki Daniel yang tadi begitu cepat mulai melambat saat ia melihat orang yang ada dihadapannya sedang berdiri menghadap matahari yang baru terbit menghiasi lautan.


Daniel memejamkan matanya sejenak, air matanya yang hampir menetes ia tahan, kebahagiaan yang tidak terukur membuat jantungnya berdetak terlalu cepat.

__ADS_1


Dipandanginya pundak gadis yang sedang menggunakan syal menutupi tubuhnya. Hembusan angin yang menyentuh rambutnya membuat Daniel ingin langsung memeluknya.


"Yona," sahut Daniel dengan suara bergetar dan menampilkan ekspresi sendu yang sedikit pucat.


Yona yang seolah mendengar suara suaminya begitu terkejut, Sesaat yang lalu dirinya memang datang ke tepi pantai untuk menikmati terbitnya matahari.


Dengan ekspresi yang kebingungan Yona menoleh ke belakang dan betapa terkejutnya Yona saat melihat Daniel berada tepat di hadapannya.


Mata mereka saat ini saling bersitatap, kerinduan begitu terlihat jelas di mata mereka. Sesaat Daniel merasa pertemuannya saat ini dengan Yona merupakan sebuah mimpi.


"Aku menemukan mu, tidak kusangka kau masih menyukai permainan bersembunyi seperti ini, tapi lihatlah, seperti yang ku ucapkan dahulu, aku pasti akan menemukan mu bahkan jika kau bersembunyi di pelosok bumi manapun, lihatlah, aku tidak berbohong kan?" ucap Daniel dengan suara yang bergetar, matanya begitu sendu sembari berjalan semakin dekat ke arah Yona.


Mendengar ucapan dari Daniel, Yona langsung tahu jika suaminya sudah mengingat dirinya, wajah yang begitu pucat itu langsung tertunduk dan menangis begitu keras.


Nafasnya terasa sesak, dan suaranya parau. Tangisan yang membuat hati sesak seolah-olah sedang bersahutan dengan suara ombak pagi yang sedikit menyentuh kaki Yona.


"Kenapa wajahmu begitu pucat? kulitmu dingin dan tubuhmu lemah? oh iya, pasti karena angin pagi kan? kau begitu menyukai lautan sampai rela kedinginan seperti ini," ucap Daniel memegangi wajah pucat istrinya dengan lembut.


Di usapnya bibir kering istrinya, dan di sentuhnya seluruh wajah Yona dengan tangan yang bergetar.


Daniel sedang membodohi dirinya sendiri, menganggap wajah pucat itu karena angin pagi yang begitu dingin, jika tubuh lemah itu karena terlalu lama berdiri.


"Kenapa kau menangis? apakah karena kau kalah, aku menemukan mu dan kau kalah, kau harus memberikan hadiah untukku," ucap Daniel lagi langsung memeluk istrinya dengan begitu erat.


Dielusnya rambut panjang Yona dengan begitu lembut, matanya terpejam, dia tidak tahu jika pertemuan bisa se-menyedihkan ini.


"Sssttt, jangan menangis, aku sudah ada disini, semuanya akan baik-baik saja," sahut Daniel lagi saat tidak mendapatkan jawaban dari istrinya. Yang ia dengar hanyalah tangisan pilu yang seperti tertahan selama tiga tahun.


Saat ini Daniel mencoba tetap tegar, padahal hatinya begitu hancur saat melihat wajah pucat istrinya. Wajah yang terlihat sama persis saat Yona terbaring sakit di rumah sakit dahulu.


Hatinya terkoyak, semua kemungkinan yang menyesakkan itu sedang ia sangkal. Dia bersikukuh jika istrinya baik-baik saja dan akan segera sembuh.

__ADS_1


__ADS_2