
***
Karena Daniel memiliki postur dan kaki yang jenjang, dalam hitungan menit Daniel sudah berhasil menggendong Yona ala bridal style sampai ke kamar hotel mereka dan sudah meletakkan Yona di kasur tempat tidur mereka.
“Sayang apakah kau cemburu?” tanya Daniel dengan lembut sembari bersimpuh di hadapan Yona, karena saat ini Yona memang sedang duduk ditepian ranjang, dan dalam mode diam seribu bahasa.
Namun, Yona masih saja diam tidak mau menyahuti Daniel.
“Cup!” satu kecupan mendarat di bibir Yona.
“Sayang, jika kau belum menjawab pertanyaanku, aku akan mencium mu terus menerus, apakah kau marah padaku?” tanya Daniel lagi untuk yang kedua kalinya.
Namun, tetap tidak ada respon dari mulut Yona, saat ini Yona memang begitu marah sampai ingin meledakkan semua yang ada disitu.
“Cup! Cup!” dua kecupan langsung mendarat di bibir Yona.
Hal itu membuat Yona melihat kearah Daniel dengan mata yang sudah berair dan tidak lama kemudian air mata itu sudah membasahi pipinya, sekarang Yona sedang menangis dengan begitu derasnya.
“Apakah benar dia hamil anakmu?” tanya Yona dengan nada suara yang bergetar, emosi yang ada dalam dirinya sudah tidak bisa ia bendung lagi.
Sedari tadi, Yona memikirkan bagaimana jika benar Melly sudah hamil anak Daniel, apa yang akan dia lakukan, namun setelah berpikir terlalu lama tidak ada satupun jawaban yang ia temukan.
__ADS_1
“Sayang, maafkan aku, aku yang salah karena telah menjadi pria yang sangat brengsek! Tapi percayalah padaku, aku tidak akan melakukan kesalahan seperti itu, satu-satunya wanita di dunia ini yang kuinginkan mengandung anakku hanyalah dirimu,” ucap Daniel mengusap dengan lembut air mata Yona dan memeluknya.
Yona memang sudah berjanji akan memaafkan kesalahan masa lalu, Yona hanya bisa mengangguk dan terus menangis, saat ini dia sedang meluapkan amarahnya dalam tangisan di dalam pelukan suaminya.
Suaminya, Daniel hanya bisa memeluk istrinya dan mengusap dengan lembut rambut istrinya, semua ini adalah kesalahannya, yang bisa Daniel lakukan hanyalah menenangkan istrinya dan akan bersungguh-sungguh membangun rumah tangga yang baik dengan istrinya.
Setelah beberapa saat memeluk Yona, akhirnya Yona perlahan-lahan mulai tenang dan air matanya sudah berhenti mengalir, memang masalah ini juga berada di luar kendali Daniel. Yona juga tahu persis sifat Melly, jadi saat ini Daniel sama sekali tidak memiliki kesalahan, hanya saja sebagai seorang istri mendengar perkataan seperti itu dari wanita lain tentunya akan membuat hatinya terkoyak, siapapun akan terluka seperti Yona, entah itu kebenaran ataupun kebohongan.
“Sayang, apakah kau sudah tenang sekarang? apakah aku sudah bisa mengajakmu berbicara dengan tenang?” sahut Daniel memastikan jika Yona sudah dalam keadaan tenang dan bisa diajak bicara.
Yona yang memang sudah menenangkan dirinya sekarang mengangguk memberikan kode jika dia sudah dalam keadaan tenang dan bisa di ajak berbicara.
"Sejak saat itu aku salah mengartikan perasaanku, aku mengira jika perasaan hutang budi adalah perasaan suka, karena itulah aku tidak bisa melepaskan nya selama kurang lebih tiga tahun ini, aku tahu aku sangat brengsek dan tidak pantas dimaafkan, tetapi aku ingin berkata jujur padamu,"
"Beberapa hari yang lalu aku sudah memutuskan hubungan kami, dan aku serius akan hal itu, aku sudah jelas dengan perasaan ku, sekarang aku sudah bisa membedakannya, sebenarnya aku ingin mengatakan ini disaat yang tepat tapi akan kukatan sekarang, sepertinya aku sudah lama mencintaimu, namun dulu aku menganggapnya sebagai rasa sakit karena kematian ayahku,"
"Selama kurang lebih tiga tahun aku merasa kesulitan membedakan perasaan ku, tapi aku ingin kau tahu dengan jelas, bahwa orang yang kucintai adalah dirimu, dari dulu sampai sekarang orang itu adalah kamu. Aku mencintaimu,” ucap Daniel berbicara dengan jujur tanpa ada kebohongan pada Yona.
Dia tidak ingin kesalah pahaman ini terus berlanjut dan akan mempengaruhi hubungannya dengan Yona istrinya.
Mendengar ucapan yang tulus dari Daniel malah membuat Yona meneteskan air matanya lagi, dia dengan begitu erat langsung memeluk suaminya. Seperti seseorang yang amat takut kehilangan, setelah pernyataan cinta dari suaminya membuat hati Yona semakin kalut, dia memeluk Daniel seolah tidak ingin berpisah darinya sedikit pun.
__ADS_1
“Daniel, aku ingin kau tahu bahwa aku juga mencintaimu, apapun yang akan terjadi, kau harus tahu bahwa aku sangat mencintaimu,” ucap Yona dengan tangisan pilu sampai dia sesenggukan.
“Sayang kita saling mencintai, seharusnya kau bahagia bukannya malah menangis, aku akan lebih menunjukkan rasa cintaku padamu agar air mata ini suatu saat nanti akan berubah menjadi air mata kebahagiaan,” sahut Daniel mengusap air mata Yona dan mulai menciuminya dengan lembut.
“Sayang, apakah kau pernah mendengar ungkapan seperti ini ‘ setiap pasangan menyelesaikan masalahnya di ranjang ‘ aku ingin mencobanya sekarang,” bisik Daniel sembari menggigit dengan lembut telinga Yona dan mulai menjamah seluruh bagian tubuh istrinya.
Benar saja, seperti yang orang-orang katakan, rasanya dua kali lipat lebih nikmat saat melakukannya selesai pertengkaran.
Beberapa saat kemudian,
Saat ini Daniel sudah menghentikan olahraga panas yang ia lancarkan untuk Yona, sama seperti sebelumnya Daniel sama sekali tidak menggunakan pengaman, karena memang Daniel bertujuan untuk memiliki anak dengan istrinya.
“Sayang, mari kita lewati hari-hari kita seperti pasangan pada umunya, pasangan yang saling mencintai namun tetap ada pertengakaran kecil didalamnya, haha, memabayangkan nya saja sudah membuatku amat bahagia, seperti mimpiku sedang terwujud, kebahagiaan ini akan beratahan selamanya, aku sudah tidak ingin kembali ke masa tiga tahun menyedihkan,” ucap Daniel berbicara panjang lebar sembari mendekat dengan erat istrinya yang masih tidak berbusana.
Namun karena Yona sudah kelelahan saat ini dia sudah tidur begitu pulas. Daniel begitu gemas melihat Yona yang tertidur itu, terlihat begitu lucu dan menggemaskan.
“Selamat tidur sayang, aku mencintaimu,” bisik Daniel mencium kening istrinya dan langsung ikut mengistirahatkan tubuhnya yang juga ikut kelelahan akibat olahraga panas yang berulang-ulang ia lakukan.
Malam itu mereka lalui dengan begitu damai, Daniel sungguh bahagia sekarang, dia tidak pernah tahu jika bersama dengan orang yang kita cintai akan semembahagaiakan ini, akan se mendebarkan seperti ini.
Saat ini, semua yang Daniel inginkan hanyalah keluarga kecil yang bahagia, menjadi kepala keluarga dan mengayomi keluarganya nanti.
__ADS_1