
***
Daniel yang sudah kembali ke ruangannya sekarang sedang mengistirahatkan tubuhnya di kasur miliknya. Lagi-lagi dia mengingat kesalahan yang sudah ia perbuat pada istrinya. Sesaat Daniel kembali menyalahkan dirinya sendiri. Bagaimana jahat dan tidak berperasaannya dia terhadap istrinya dahulu.
Hanya karena rasa sakit yang tidak ia kenali, Daniel malah melampiaskan nya pada istrinya. Daniel masih saja penasaran, bagaimana hubungannya dahulu dengan Yona mengapa semuanya ia lupakan, lalu apa tujuan pernikahan yang Yona sebutkan di suratnya. Mengapa semuanya penuh teka-teki, lalu mengapa baru sekarang Daniel baru menyadarinya.
“Tiga tahun yang penuh dengan kesakitan dan kehampaan, apakah kau menangis sendirian menungguku? Apakah kau menungguku setiap malam sembari menangis seperti ini? lalu aku dengan mudahnya melampiaskan rasa sakit ku padamu, apakah ini memang hukuman untuk ku? Apakah aku harus menderita seperti ini baru bisa menemukan mu?” ucap Daniel dengan pilu.
Sendirian di ruangan yang begitu besar begitu menyiksa Daniel, baru kali ini dia merasakan apa yang selama ini Yona rasakan saat menunggu dirinya pulang.
Rasa sakit yang begitu menusuk dialami oleh Yona selama hampir tiga tahun. Rasa bersalah lagi-lagi menghujam jantung Daniel, rasanya seperti hampir gila, rasanya seperti neraka yang tiada akhir.
Ingin meminta maaf tapi tidak tahu orang nya dimana, ingin memeluknya tapi orang nya sudah pergi entah kemana. Penyesalan demi penyesalan lagi-lagi meruntuhkan benteng pertahan Daniel. Daniel yang kuat sudah runtuh, yang ada hanyalah manusia yang lemah akibat penyesalan tiada akhir.
Malam yang begitu pilu dan mencekik tidak terasa sudah lewat, Daniel juga telah tertidur dalam tangisan dan kepedihannya. Rasa rindu dan penyesalan sedang memenuhi hatinya sekarang.
Jika Daniel bisa memutar waktu, Daniel rela membayar dengan apapun, agar dia bisa memperbaiki semua kesalahan, agar Yona tidak pergi dari sisinya, agar kesakitan tiada akhir ini tidak pernah ada.
Namun, apalah daya semuanya sudah terlanjur, yang mampu Daniel lakukan saat ini hanyalah memperbaiki kesalahan dan mencari keberadaan istrinya. Selama hidup ini, Daniel tidak akan pernah memaafkan dirinya jika dia tidak menemukan Yona. Yona adalah hidupnya, jika Yona pergi maka hidupnya pun akan pergi.
***
Pagi hari,
Sesuai dengan janji yang sudah Daniel atur dengan dokter spesialis, saat ini Daniel akan melakukan terapi hipnotis. Daniel sungguh amat berharap jika dirinya akan langsung mengingat semuanya.
__ADS_1
Namun apalah daya, tidak semua keinginan harus terpenuhi, apalagi ini menyangkut ingatan, jadi persentase kembalinya ingatan bergantung pada kondisi pasien.
Dokter yang sedang melakukan terapi pada Daniel melakukan pekerjaan nya dengan begitu baik, namun memang belum ada perkembangan sama sekali, tetapi itu hal yang amat biasa, karena saat ini memang adalah hari pertama Daniel melakukan terapi hipnotis.
“Untuk mempercepat kembalinya ingatan Bapak daniel, saya sarankan Bapak pergi ke tempat yang dulu Bapak sering kunjungi, misalnya ke tempat orang yang paling dekat dengan Bapak. Jika Bapak sering melakukan itu maka persentase kembalinya ingatan Bapak akan lebih besar,” sahut dokter itu memberikan nasehat pada Daniel.
Hal itu langsung di turuti oleh Daniel, karena sehabis ini dia akan pergi ke rumah orangtua istrinya, orang yang paling dekat dengannya. Dan juga ada beberapa hal yang harus ia tanyakan pada mereka.
Dan benar saja, setelah pemeriksaan itu usai, Daniel langsung pergi ke rumah orangtua Yona bersama Henry. Lalu setelah menghantarkan atasannya, Henry kembali meneruskan penyelidikannya tentang keberadaan Yona.
Daniel memang menyuruh Henry menyelidiki semua transportasi baik itu darat ataupun laut, siapa tahu memberikan sebuah petunjuk tentang kepergian Yona.
***
Di rumah orang tua Yona.
Saat itu memang Siska dan suaminya begitu terpukul saat menerima surat dari Yona yang sudah dikirim jauh-jauh hari namun disengaja baru akan sampai hari itu, surat itu adalah mengenai penyakit yang selama ini Yona sembunyikan dari mereka.
Yona mengatakan pada orangtuanya untuk tidak mencari Yona, untuk tetap menjalani hidup yang baik. Karena Yona ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan tenang dan tanpa meninggalkan rasa sakit pada siapapun.
Di surat itu Yona sungguh berpikir jika dia pergi maka rasa sakit orang yang akan ia tinggalkan akan berkurang, menurut Yona orang-orang yang dekat padanya lambat laun akan lupa padanya dan rasa sakit saat ia pergi tidak akan terlalu memberikan luka yang serius pada mereka.
Daniel bisa melihat jika wajah Siska masih bengkak, terlihat sekali baru menangis namun ia tutup-tutupi untuk mengurangi rasa khawatir dari menantunya.
Saat ini memang Siska dan Herman sudah menanyai seluruh kerabat juga teman yang Yona punyai, namun tidak ada yang mengetahui keberadaan Yona.
__ADS_1
Siska dan Herman juga sudah menelepon polisi namun tidak langsung di proses alasannya adalah karena dari surat yang Yona tinggalkan menandakan jika Yona pergi dengan kemauan dirinya sendiri.
“Ibu, maafkan aku baru bisa berkunjung sekarang, Ayah ada dimana?” sahut Daniel pada Siska karena memang yang menyambut dirinya sekarang hanyalah Siska, ibu Yona, sedangkan ayah mertuanya tidak berada disitu.
Mendengar pertanyaan menantu nya membuat Siska kemudian tertunduk lesu. Bagaimana tidak, setelah mendapatkan kabar yang begitu menyakitkan dari putrinya membuat Herman sangat terpukul. Apalagi tempo lalu, mereka sempat bertengkar perihal perceraian yang di ajukan oleh Yona.
Saat ini, Herman hanya terdiam dan pergi ke sebuah taman dekat rumah nya. Disana herman menghabiskan hari-harinya mengingat kenangan putri satu-satunya. Karena dahulu memang Herman sering membawa Yona bermain di taman yang begitu luas.
“Ibu, aku kesini disamping untuk menanyakan kabar juga ingin menanyakan sesuatu, apakah ada tempat yang dulu aku dan Yona sering kunjungi?” sahut Daniel yang memang sudah dipersilahkan duduk di ruang tamu.
Mendengar pertanyaan itu sungguh membuat Siska begitu terkejut, karena memang setahu Siska, Daniel belum lah mengingat atau mengetahui sesuatu. Dulu saat Daniel melupakan semuanya, semua orang memang sepakat untuk tidak mengungkit hal itu karena akan berpengaruh pada kesehatan mental Daniel pada saat itu.
“Tidak usah terkejut Ibu, aku sudah tahu semuanya. Namun, memang aku belum mengingat apapun, jadi sekarang aku sedang melakukan perawatan untuk mendapatakan kembali ingatan ku, siapa tahu dengan mengingat semua ingatan ku bisa memberikan petunjuk keberadaan istriku,” sahut Daniel pada Ibu mertuanya.
“Maafkan Ibu yah Nak, karena telah menutupi semuanya darimu, namun untuk tempat yang sering kalian kunjungi banyak sekali, karena kalian sudah mengenal begitu lama. Sebentar ya, Ibu ambilkan buku diary Yona yang dulu, siapa tahu disitu ada dituliskan tempat-tempat yang sering kalian kunjungi,” sahut Siska pada menantunya.
Dengan terburu-buru, Siska segera mengambil buku diary yang berada di kamar lama Yona dan langsung memberikan buku diary itu pada suami Yona, Daniel.
***
Pemberitahuan :
Mulai hari ini Novel ini akan update tepat waktu ya, dua episode perhari, satu di jam 00:00 dan satu lagi di jam 16:00..
Terimakasih yaa sudah tetao mendukung author yang masih memiliki banyak kekurangan ini.
__ADS_1
I lopiyu pul 🥰