
***
Yona yang merasa begitu sedih dan terpukul akan reaksi orangtuanya sekarang sedang berjalan di sebuah setapak jalan dekat rumah Daniel.
Ya, memang sedari tadi, saat Siska ibunya menyuruh Yona untuk kembali pulang kerumah suaminya, Yona tidak memiliki pilihan lain selain menuruti permintaan Ibunya.
Dan saat Yona pulang, Yona senagaja meminta pada supir taksi untuk di antarkan agak jauh dari rumah Daniel, dia ingin sejenak berjalan menghirup udara segar malam, sendirian di temani malam yang akan menjadi teman nya meluapkan segala kepedihan di hatinya.
Air mata yang terus menerus mengalir membuat wajah Yona sedikit bengkak, tapi hal itu tidak dihiraukan olehnya. Dia tetap saja berjalan di jalanan sepi, melewati lampu-lampu jalan menuju rumah Daniel.
Dia kembali mengingat janji nya dulu, sikap apapun yang akan diperlihatkan oleh Daniel, dia berjanji akan tetap bertahan sampai akhir.
“Salahkah seseorang untuk menyerah? Apakah menjadi sebuah dosa jika aku menyerah seperti ini? Dunia seolah memberikan aku hukuman akan kejadian itu, apakah aku sudah ditetapkan untuk menerima semua ini?” pertanyaan demi pertanyaan melintas di pikiran Yona.
Kehidupan yang sudah ia lalui selama lebih dari tiga tahun ini sudah memberikan cukup lebih dari satu alasan untuk berpisah darinya, tapi seperti waktu yang berputar, seolah kehidupan nya akan tetap kembali kepada Daniel, seolah sang waktu pun tidak memberikan Yona pilihan.
Tangisan dan pertanyaan-pertanyaan yang ada di pikiran Yona lambat laun menghilang akibat hembusan angin malam yang begitu dingin, kepedihannya seolah ditemani oleh malam gelap.
Itulaha alsan mengapa Yona sangat suka berjalan seperti ini sendirian ditengah malam hanya di terangi lampu jalan yang memang berjejeran di samping-samping jalan.
Yona tidak menyadari, langkah demi langkah yang sudah ia lalui menghantarkan dirinya sampai di depan gerbang rumah yang begitu besar dan megah. Rumah yang sudah ia tempati lebih kurang 3 tahun ini, rumah tempat Yona kesepian, menderita dan sengsara.
__ADS_1
“Dulu rumah ini seharusnya tempat aku untuk berbahagia, siapa yang akan tahu jalan ceritanya akan seperti ini, siapa yang akan tahu, ada saat dimana aku menjadi sangat membenci rumah ini,” gumam Yona pelan melihat gerbang rumah yang sangat besar yang ada di hadapannya.
Yona segera menghapus air matanya dengan kedua tangannya, dan menyadarkan dirinya kembali, dia tidak ingin terlihat lemah berada di hadapan Daniel.
Yona tidak ingin Daniel mengetahui jika Yona baru saja menangis, Yona merasa itu akan memberikan kebahagiaan pada Daniel karena rencana Daniel telah berhasil.
“Tetap tenang Yona, kita ikuti saja apa yang di inginkan oleh nya, ada waktu nya dimana dia akan mendapatkan balasan untuk semua ini!” ucap Yona menyemangati dirinya untuk yang kesekian kalinya.
Yona pun kembali melanjutkan langkah nya menuju kamarnya dan Daniel, dan benar saja disana dia sudah menemukan Daniel sedang duduk di sofa dekat dengan kasur mereka.
Dengan kaki bersilang dan sebuah buku ditangannya membuat Yona termenung sesaat. Yona tidak tahu jika Daniel akan ada di kamar jam segini, Yona berpikir jikalau saat ini Daniel pastilah bersama Melly ataupun gadis yang lain.
“Apa yang sebenarnya kau inginkan? Bukankah seharusnya kau senang jika aku menceraikanmu? Bukankah dengan kita bercerai kau bisa bebas bersama yang lainnya? Apa alasanmu?” ketus Yona berdiri tepat di hadapan Daniel.
Yona sudah sangat muak dengan sikap Daniel yang seperti anak kecil, entah apa yang diinginkan Daniel tapi hal itu membuat Yona merasa tidak senang.
“Tidak kah pertanyaan ini terlalu sering kau tanyakan? Dan aku sudah menjawabnya, menjadi istriku adalah hukuman pada keluargamu karena telah merenggut nyawa ayahku, kau akan terkurung bersamaku disini tanpa bisa kemana-mana."
"Oh iya, aku lupa mengatakan ini, kau harus mulai menjadi gadis yang baik mulai dari sekarang, apakah kau tidak melihat ekspresi ayah dan ibumu tadi? Aku bisa dengan sekejap menghentikan dana untuk perobatan ayahmu, tidak kah kau tahu selama ini pengobatan ayahmu yang sangat mahal berasal dari uangku? Dengan kau yang sekarang, kau tidak akan mampu untuk membayarnya, jadi mulai dari sekarang kau harus belajar menjadi gadis penurut dan menyenangkan aku!” bisik Daniel yang sudah berada dekat dengan Yona.
Dia ingin mempertegas bahwa Yona sama sekali tidak bisa melakukan apapun, Yona hanya bisa menjadi gadis penurut dan seseorang yang harus menyenangkan nya.
__ADS_1
“Apa yang sudah kau berikan pada ayahku sampai ayahku begitu marah padaku? Foto apa?” ucap Yona dengan nada yang bergetar, saat ini Daniel sedang berada sangat dekat dengan Yona, bahkan saat ini Daniel sedang menatap Yona dengan sangat intens, tentu saja hal itu membuat Yona gemetaran dan jantungnya berdegup dengan begitu cepat.
“Kau tidak perlu tahu sayang, oh ya, tidak kah ayah dan ibumu menyuruhmu mengatakan sesuatu padaku? Aku menunggumu disini untuk mendengarnya,” bisik Daniel sembari memainkan helaian rambut Yona yang panjang yang sedang terurai.
“Jika kau tidak mengatakan nya apa yang akan kau lakukan!” decak Yona sedang menahan air matanya agar tidak sampai terjatuh.
“Kau akan melihat ayahmu dan ayahku berada di tempat yang sama, kau dengarkan ayahmu tidak akan pernah terima jika kita bercerai karena janjinya dan janji ayahku adalah janji sehidup semati,” jawab Daniel santai, seolah perkataan nya tidak akan menyakiti perasaan Yona.
“Ma .. maafkan aku,” ucap Yona pelan sembari menundukkan kepala. Tangannya dikepal dan nafasnya berat karena sedang menahan amarah yang ada dihatinya.
Saat ini Yona merasa seperti seorang budak yang tidak bisa membantah apa yang majikan nya perintahkan, seolah hak dan kebebasan Yona sudah sepenuhnya direnggut oleh Daniel.
Kata maaf yang keluar dari mulut Yona merupakan penghinaan besar untuk Yona, karena yang seharusnya meminta maaf bukan lah dirinya melainkan Daniel.
Namun apa daya, semuanya sudah direncanakan dengan matang oleh Daniel, Daniel sengaja menyuruh Yona untuk keluar dari pekerjaan nya agar Yona tidak akan bisa hidup jika tidak bergantung pada Daniel.
“Aku tidak mendengar apa yang kau katakan sayang, ucapkan lagi dengan lantang dan lihatlah mataku saat mengatakan itu,” bisik Daniel sembari tersenyum melihat jika akhirnya Yona meminta maaf padanya.
“Aku minta maaf!” ucap Yona sembari mengangkat wajahnya dan melihat langsung dua bolah mata yang berada sangat dekat dengannya.
“Bagus, gadis yang baik. Seharusnya kau mengatakan ini lebih cepat, maka mungkin aku tidak akan bertindak lebih jauh,” ucap Daniel sembari tersenyum dan mengusap dengan lembut wajah istrinya.
__ADS_1