
"Daniel, kenapa kau bisa berubah begitu cepat?" tanya Yona berterus-terang, karena perubahan Daniel terlihat sangat cepat dan tidak bisa ia duga.
Yona bertanya hal itu hanya untuk mengantisipasi jikalau Daniel sudah mengingat sesuatu.
"Sayang, kau ingat saat di kantor, ada yang bernama Jery menggodamu? juga saat teman kerjamu makan siang bersama mu dan mengajak mu ke taman malam-malam? saat itu aku begitu cemburu sampai ingin menghabisi mereka berdua, namun saat itu aku belum tahu jika perasaan itu adalah perasaan cemburu,"
"Saat itu, aku meyakinkan diriku jika aku hanya penasaran saja, saat itu aku mengikuti rasa egois ku, namun saat kau menawarkan perjanjian pada ku, saat itu ada pertanyaan di hatiku, saat itu aku hanya ingin mencoba saja, tapi saat kau bersikap manis dan tersenyum entah mengapa hatiku menjadi damai, tidak risau dan sakit lagi seperti yang kurasakan selama kurang lebih tiga tahun ini,"
"Dari saat itu aku langsung tahu jika sebenarnya aku sangat takut kehilanganmu dan berada jauh dari sisi ku,"
"Sayang, aku tahu ini egois tapi mau kah kau berjanji untuk selalu mempercayai ku? dan berjanji untuk saling terbuka dan belajar saling mencintai selamanya?" tanya Daniel sembari tetap memeluk istrinya.
Pandangan mata mereka tertuju pada keindahan pantai yang jernih, dan hati mereka seperti saling mengisi satu sama lain.
"Baiklah aku berjanji," sahut Yona dengan wajah yang sedikit sendu.
Mendengar jawaban yang begitu menyejukkan hati membuat Daniel sangat bahagia, dia merasa amat beruntung mendapatkan Yona sebagai istrinya, setelah apa yang sudah ia lakukan, Yona tetap memaafkan dirinya dan memberikan nya kesempatan.
Sama seperti yang Yona inginkan, liburan yang mereka lakukan begitu menyenangkan, Daniel bersikap begitu manis padanya, begitu romantis dan tentunya meluluhkan hati.
Mereka berdua melupakan semua masalah yang ada di benak mereka, rahasia yang saling mereka sembunyikan mereka tutup rapat dan menikmati waktu berdua yang begitu menyenangkan.
***
__ADS_1
Malam hari di sebuah balkon hotel,
"Sayang, bagaimana jika kita memiliki anak? apakah kau mau memiliki anak dengan ku?" tanya Daniel sembari menggenggam tangan istrinya yang ikut duduk di kursi balkon penginapan mereka.
Sebelumnya Daniel begitu tidak suka dengan anak-anak, dia selalu memastikan jika saat berhubungan dia bermain aman, karena tidak ingin memiliki anak, namun saat ini berbeda. Saat bersama dengan Yona, Daniel sungguh ingin memiliki anak yang lucu dan mirip dengan istrinya.
Mendengar pertanyaan dari suaminya tentu saja Yona terkejut, dia sama sekali belum memikirkan hal itu sebelumnya.
Yona termenung begitu lama, ada berbagai ekspresi di wajahnya yang tidak bisa tergambarkan, lagi-lagi Yona tidak bisa menjawab pertanyaan suaminya, seperti sesuatu sedang mengganjal di hatinya.
"Sayang, aku sungguh hanya ingin membangun keluarga yang utuh dan bahagia sekarang, apapun yang ada di pikiran mu, apapun yang sedang kau sembunyikan sudah tidak penting lagi bagiku, jadi miliki lah anakku ya?" tanya Daniel sudah berada di hadapan Yona menggenggam tangannya dan memandangi Yona dengan penuh kasih sayang.
Daniel merasa jika mereka memiliki anak, Yona tidak akan pernah pergi lagi dari sisinya, Terlalu banyak hal yang di rahasiakan oleh Yona, tapi hal itu sudah tidak penting lagi, yang di inginkan oleh Daniel saat ini hanyalah agar Yona tetap disisinya dan tidak akan pernah pergi.
Yona tidak berani melihat ke mata suaminya, sesungguhnya Yona amatlah bahagia saat Daniel mengusulkan ingin memiliki anak, tapi semuanya sudah terlambat, waktu sudah tidak bisa di putar, takutnya jika Yona menyetujui permintaan suaminya maka akan membuat Daniel semakin terluka dan tersakiti.
Ciuman itu begitu lama karena mereka berdua sama-sama menikmati nya. Dibawah bintang-bintang yang bersinar dengan pemandangan hamparan lautan yang begitu indah, lagi-lagi mereka terlihat seperti cerita yang berada di buku dongeng, terlalu indah sampai akan membuat siapapun menjadi iri.
Dengan lembut Daniel menggendong Yona ala bridal style masuk ke dalam kamar hotel mereka, dan dengan begitu hati-hati meletakkan Yona ke kasur.
Saat ini Daniel sungguh memperlakukan Yona seperti tuan putri, begitu hormat dan lembut.
"Sayang, aku ingin egois, aku sungguh ingin kau mengandung anakku," bisik Daniel mulai mencium Yona dari mulai mata turun ke bibir laku ke leher dan berakhir di kedua buah dada Yona.
__ADS_1
Karena Daniel memang sangat mahir melakukan hal itu, sekarang seperti sebuah sulap, pakaian Yona sudah berada di lantai, saat ini tubuhnya sungguh polos dihadapan suaminya.
Dengan begitu lembut Daniel menciumi seluruh bagian tubuh istrinya, sampai terkadang membuat Yona merasa geli dan mengeluarkan suara yang menurut Daniel terdengar begitu menggoda.
"Tidak usah di tahan sayang, keluar kan saja, nikmati lah malam yang indah ini, lupakan masalahmu dan terima lah aku," bisik Daniel hendak menyatukan dirinya dengan Yona istrinya.
Saat ini, Daniel bersungguh-sungguh, dia bahkan tidak memakai pengaman saat berhubungan dengan istrinya.
"Aku mencintaimu," bisik Yona di telinga Daniel sembari memeluknya dengan begitu erat saat sedang dalam penyatuan itu.
"Aku tahu, karena itu miliki lah anak ku," balas Daniel dengan nafas yang sedikit tersendat karena sedang mengerahkan segenap tenaga dan energi nya.
Akhirnya setelah beberapa saat, mereka berdua sampai pada puncak olahraga panas yang mereka lakukan.
Yona begitu kelelahan menerima tenaga Daniel yang berbeda dari sebelumnya, tadi tenaga Daniel begitu kuat dan perkasa membuat tubuh kecil Yona sedikit ngilu menerima hentakan demi hentakan yang di lancarkan oleh Daniel.
"Semoga kau hamil dengan cepat sayang," ucap Daniel sembari mengecup dengan lembut pipi istrinya yang sedang kelelahan.
Berbeda dengan Daniel yang begitu puas dan merasa senang karena telah mengerahkan segala kekuatannya, Yona sekarang sedang termenung, entah apa yang ada di pikirannya namun dia begitu risau.
Dilihatnya dengan lekat suaminya yang sudah tertidur sembari memeluknya.
Air mata yang begitu deras kembali mengalir di pipinya, hatinya begitu sakit melihat wajah sendu Daniel yang sedang tertidur.
__ADS_1
"Tidak bisa kah Kau memberikan apa yang dia inginkan Tuhan? sedikit waktu lagi, sedikit lagi, bisakah Kau setidaknya memberikan dirinya sedikit kebahagiaan? dunia ini terlalu tidak adil untuknya," gumam Yona sembari mengelus dengan lembut wajah suaminya dan mencium keningnya.
"Apapun yang akan terjadi, aku hanya ingin kau tahu, aku sangat mencintaimu dan akan selalu mencintaimu," bisik Yona kembali memeluk suaminya ini dengan begitu eratnya.