
***
Keesokan harinya,
Saat ini Daniel baru saja keluar dari ruangan perawatan orangtua Yona, karena sampai saat ini mereka belum sadarkan diri.
Setelahnya Daniel langsung pergi menuju ke ruang perawatan Yona. Namun, ada satu hal yang mengganjal di hati Daniel, dia merasa Yona sedang menutupi sesuatu darinya.
Karena sudah terlalu lama bersama membuat Daniel begitu peka dan langsung tahu ada yang salah dengan sikap Yona.
“Sayang, apakah ada yang kau sembunyikan dariku?” sahut Daniel menggenggam tangan istrinya dan menatap calon istrinya itu dengan begitu lembut.
Mendengar itu tiba-tiba saja Yona menangis dengan begitu pilu, air mata yang beberapa hari ini ia tahan sekarang sudah tertumpah.
Hati Daniel yang tadinya tenang sekarang sudah berubah menjadi panik, dia bergetar, apa yang membuat Yona sampai menangis begitu menyakitkan seperti itu, apa lagi yang tidak Daniel ketahui.
“Maafkan aku, apakah aku menanyakan hal yang salah, jangan menangis seperti ini, kau tahu betapa aku sangat terluka melihatmu yang seperti ini,” ucap Daniel memeluk Yona yang sedang terisak menangis.
Setelah sudah merasa puas menumpahkan air matanya, Yona kemudian menenangkan dirinya dan berbicara dengan baik dengan Daniel.
“Sebenarnya aku ingin menyembunyikan ini, namun aku sudah tidak ingin menyembunyikan apapun, kau tahu kan operasiku beberapa bulan lalu berjalan dengan lancar, akibat dari kecelakaan beberapa hari lalu sekarang lukanya terbuka dan mengakibatkan infeksi, sesuatu yang sangat aku takutkan sudah muncul, dari infeksi itu nanti akan tumbuh tumor …” belum sempat Yona melanjutkan omongannya Daniel langsung memeluk Yona dengan begitu erat.
“Ssssttt, jangan melanjutkan nya lagi, aku rasa aku tidak akan sanggup mendengarkan hal itu,” ucap Daniel dengan nada yang bergetar.
Yona bahkan sampai bisa merasakan tubuh Daniel yang bergetar. Daniel sungguh tidak mampu mendengar apa yang akan Yona katakan, Daniel tadinya berfikir bahwa setidaknya masih ada Yona disisinya, setidaknya akan ada yang menyembuhkan luka hatinya. Namun, rasanya semuanya itu hanyalah mimpi dan keinginan yang terlalu egois.
Sepertinya keinginan egois Daniel telah membawanya ke jurang keputus asaan yang begitu dalam. Daniel hampir gila saat ini, dia tidak bisa menerima semua kenyataan ini secara beruntun, hatinya tidak sekuat itu.
***
“Aaaahhhhhh!! tolong, aku mohon pada-Mu, aku rela mengorbankan apapun tapi tolong jangan ambil dia dariku, hanya dia satu-satunya alasan untuk ku bisa bertahan hidup. Aku mohon pada-Mu, kali ini saja jangan mengambil dia dariku,” teriak Daniel berlutut dan wajahnya menghadap ke langit.
Saat ini memang Daniel sudah pergi ke lantai atas rumah sakit yang tidak ada orangnya, dia ingin mengeluarkan sesak di dadanya sedari tadi.
Sebelum ke lantai atas Daniel memang sudah menanyakan dokter mengenai keadaan Yona. Setelah berdiskusi beberapa lama mereka pun sepakat agar saat ini Yona harus diberikan pengobatan intesif dan harus berada di ruangan steril yang ditutupi oleh penghalang, selama beberapa hari kedepan tidak boleh dikunjungi oleh orang lain.
__ADS_1
Setidaknya tindakan itu akan memperlambat pertumbuhan ganas tumor yang akan tumbuh di tubuh Yona.
Yona memang baru saja mengalami operasi besar membuat dokter menganjurkan agar tidak melakukan operasi di tempat yang sama dulu karena akan semakin membahayakan keadaan Yona.
Daniel yang sama sekali tidak bisa melakukan apapun hanya bisa pasrah dan putus asa, dia hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri.
***
Setelah beberapa saat melampiaskan kemarahannya di lantai atap Daniel segera turun untuk masuk ke ruang isolasi menjenguk Yona. Saat ini Daniel hanya bisa menjenguk Yona sekali sehari saja itu pun harus menggunakan baju safety yang terlihat seperti baju astonot.
“Sayang, kau pasti bisa melewati semua ini, apakah kau lupa janji pernikahan kita? kita akan memiliki banyak anak, jalan-jalan keliling dunia dan saling memberikan kebahgiaan satu sama lain, kau harus berjuang, apakah kau mengerti?” ucap Daniel mencoba tetap tersenyum dan tenang dihadapan Yona. Dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan orang yang ia cintai itu dan malah membuat pengobatan Yona terhambat.
“Mmmm, aku ingat, aku akan berjuang agar bisa melawan tumor ini dan bersama dengan mu, kau jangan pernah pergi dari sisiku,” jawab Yona menganggukkan kepalanya.
Yona berjanji akan berjuang melawan penyakitnya itu. Karena saat ini hanya dirinya lah yang Daniel punya di dunia ini jadi dia harus berjuang apapun yang terjadi.
“Bagus, waktu jenguk ku sudah habis, ingat ya sayang untuk berjuang dan ingat lah aku saat kau kesakitan, aku akan selalu berada di sampingmu,” ucap daniel tersenyum kearah Yona.
Sungguh saat ini Daniel menutupi segala luka dan keresahana di hatinya agar membuat Yona tidak khawatir.
“Pasti sayang, tapi berjanjilah jangan memberitahukan hal ini pada orang tuaku, biarlah ini menjadi rahasia kita berdua, aku tidak mau mereka semakin menderita karena aku,” sahut Yona tersenyum kearah calon suaminya itu. Saat ini dia begitu bahagia walaupun penyakit sedang menggerogotinya namun ada Daniel di sisinya, jadi semuanya pasti bisa dia lalui.
Setelah keluar dari ruangan itu, Daniel bertemu dengan Melly di luar ruangan.
“Melly? apakah kau datang untuk menjenguk Yona? Saat ini dia sedang tidak bisa dijenguk, kau tunggu lah beberapa hari lagi,” ucap Daniel hendak berlalu meninggalkan Melly disitu.
Namun Melly sama sekali tidak menjawab hanya tertunduk, memangis dan terlihat ketakutan. Namun, Daniel tidak berpikiran aneh, dia merasa jika Melly hanya sedih saja saat mengetahui temannya, Yona sedang jatuh sakit lagi. Daniel tidak tahu jika ada suatu alasan dibalik semua itu.
“Daniel, biarkan aku membantumu merawat Yona, karena kau masih terluka dan belum sembuh biarkan aku membantumu ya,” ucap Melly dengan nada suara yang bergetar dan terlihat amat ketakutan.
Karena tidak mencurigai apapun Daniel menyetujui permintaan Melly, padahal ada tujuan lain dari permintaan Melly ini.
Benar saja, saat Daniel lengah, Melly dengan bantuan seseorang yang memiliki kuasa yang besar membius Daniel dan tanpa persetujuan Daniel mereka melaksanakan terapi untuk mengubah ingatan daniel. Saat itu, Melly juga ingin di hapus dari ingatan Daniel karena Melly ingin memulai dari awal, menjadi gadis yang pertama bagi daniel.
Dan benar saja, karena memang Daniel dalam keadaan begitu terpuruk dan lemah membuatnya sangat mudah mengubah ingatannya karena hal itu sungguh melegakan kesakitan yang ia rasakan di hatinya.
__ADS_1
Melly begitu senang karena saat Daniel terbangun, Daniel menerimanya dengan baik, karena sudah melupakan hal pahit dalam hidupnya membuat Daniel menerima Melly.
***
Setelah beberapa hari,
Yona sudah keluar dari ruang steril dan sedang sangat bersemangat menjumpai calon suaminya, namun saat hendak masuk ke ruangan rawat Daniel, Yona dibuat keheranan saat melihat kedekatan tidak biasa anatara Melly dan Daniel. Melly terlihat begitu manja dan sedang menyuapi Daniel.
Yona mencoba menenangkan hatinya dan berpikiran positive namun saat Yona memutuskan masuk ke dalam ruangan itu, hati Yona serasa dihujam, begitu sakit sampai Yona tidak mampu menerima kenyataan. Yona bisa melihat jika Daniel melihatinya seolah melihat orang asing.
“Siapa dia Melly?” tanya Daniel pada Melly.
Bahkan untuk mengajak Yona berbicara saja Daniel tidak mau, malah memilih untuk menanyakan pada Melly perihal siapa dirinya.
Yona terdiam dan membeku sebentar, dia tidak menyangka jika Daniel sungguh tidak mengenalinya.
“Melly, suruh dia keluar, aku tidak suka ada orang lain di ruangan ini,” ucap Daniel pada Melly yang ada disampingnya.
Karena memang Daniel merasa aneh saat melihat orang asing yang masuk ke ruangannya tiba-tiba saja membuat hatinya nyeri dan begitu sakit.
Sesuai permintaan Daniel, Melly membawa Yona keluar dari ruangan. Setelah di luar Yona langsung menanyai Melly mengenai Daniel.
“Melly, bisakah kau jelaskan apa yang sedang terjadi? mengapa kau terlihat begitu akrab dengan calon suamiku?” tanya Yona masih tidak menyangka dengan apa yang baru saja ia lihat itu.
“Yona, kau lepaskan lah Daniel, dia sudah melupakan mu, kata dokter daniel memilih melupakan kenangan pahit yang ada di memorinya untuk menyelamatkan dirinya, saat ini hanya aku yang bisa menemani dia,” sahut Melly tidak tahu malu pada temannya.
“Apa? tidak Melly, apapun yang terjadi dia sudah berjanji padaku, kami punya impian, dia calon suamiku, mana mungkin aku membiarkannya bersamamu,” balas Yona semakin tidak menyangka atas jawaban teman dekat nya ini.
“Cukup Yona! apakah kau mengira jika kau adalah pusat dunia ini? jika kepentingan mu lah yang paling penting? aku sudah muak denganmu! aku mencintai Daniel juga, aku juga berhak mendapatkannya, kali ini adalah kesempatan untukku, aku tidak akan memberikan kesempatan ini padamu, bukankah kau juga sakit? Jalani lah hidupmu dengan tenang dan lupakan lah Daniel!” seru Melly mengeluarkan seluruh kebencian yang selama ia pendam untuk Yona.
“Melly, aku tidak menyangka kau tega mengatakan ini tepat di hadapanku, apakah selama ini kau berpura-pura menjadi temanku? Daniel itu adalah calon suamiku, bagaimna mungkin aku melepaskannya? jangan bercanda Melly,” sahut Yona dengan nada yang sudah meninggi. Yona sungguh tidak menyangka atas jawaban yang Melly lontarkan padanya.
“Iya, aku berpura-pura menjadi temanmu, apakah kau kira wanita penyakitan sepertimu pantas menjadi temanku? jangan bermimpi Yona! jika bukan karena Daniel aku pun tidak mau dekat dengan mu! Daniel sekarang adalah milikku, aku tidak akan memberikannya pada siapapun! termasuk kau!” decak Melly sudah tidak segan-segan lagi pada Yona.
“Plakk!” Yona langsung menampar Melly dengan begitu keras.
__ADS_1
“Kau sungguh menampilkan wajah tanpa topengmu Melly, sangat mengejutkan dan menjijikkan! bahkan jika dia melupakan ku pun aku tidak akan membatalkan pernikahan kami! kenapa? Karena kami sudah dijodohkan dan tanggal pernikahan kami sudah ditetapkan."
"Bahkan jika aku dilupakan olehnya pun aku tidak peduli, aku akan tetap berada disisinya sampai dia mengingatku, dan kau! Kau akan selamanya menjadi wanita bayangan dan tidak dianggap!” decak Yona langsung pergi meninggalkan Melly disitu.