
***
Roy yang sedang tidak menyangka jika dirinya mengalami kekalahan saat hendak mencapai puncak sangat syok. Apalagi sekarang dia begitu merendah di hadapan Daniel, berlutut dan memohon pengampunan atas nyawanya.
"Ini tidak mungkin, seharusnya tidak seperti ini! kenapa aku kalah lagi? kenapa aku berlutut seperti ini lagi?" gumam Roy tidak menyangka jika dia sudah kalah total.
Daniel dengan cepat sudah meninggalkan Roy dengan anak buahnya, Roy yang sedang tertunduk tidak bisa membela dirinya itu langsung dilumpuhkan dan di ikat oleh anak buahnya.
Daniel memerintahkan agar mereka dibawa ke pihak berwajib kecuali Roy, Roy akan ditangani langsung oleh Daniel nanti, jadi Roy harus dibawa ke ruangan rahasia dan dikurung disana sampai Daniel menyelesaikan urusannya dulu.
***
Daniel sudah berjalan dengan cepat ingin segera menemui Yona di sebuah mobil yang terparkir ditempat tersembunyi disekitaran rumah.
"Sayang, apakah kau menunggu lama? maafkan aku, kita akan segera berangkat," ucap Daniel mengecup dahi istrinya yang sedang duduk menunggu kedatangan nya.
"Kenapa tadi banyak sekali orang yang datang? apakah ada sesuatu yang telah terjadi?" tanya Yona kebingungan, karena memang dari arah tempatnya Yona bisa melihat jika banyak sekali mobil yang datang.
"Tidak ada sayang, tidak ada apa-apa, mereka hanya beberapa pekerja yang aku sewa untuk merenovasi rumah kita ini, jangan khawatir," jawab Daniel menutupi segala sesuatu yang telah terjadi di rumah itu tadi.
Dia tidak ingin memberitahu kan Yona mengenai masalah ini, dia tidak ingin Yona khawatir dan malah semakin mengganggu kesehatannya.
Daniel dengan Yona yang berada di dalam mobil saat ini terdiam hening, melayang dalam pikiran mereka masing-masing.
Daniel yang sedang mendekap tubuh istrinya saat ini sedang begitu khawatir, saat tadi datang ke mobil menemui istrinya Daniel bisa melihat jika wajah Yona semakin pucat, suara nya semakin lemah dan saat ini badannya terasa begitu dingin.
__ADS_1
Tidak berhenti Daniel mengusap lengan istrinya agar sedikit memberikan kehangatan, memeluknya dengan lembut agar setidaknya mengurangi sedikit rasa dingin dari tubuh istrinya.
Menyadari jika Yona sudah terlelap dalam pelukannya akhirnya memberikan waktu untuk Daniel melepaskan semua topeng keberanian dan ketegaran yang ia tunjukkan dihadapan Yona.
Air mata kembali mengaliri pipi Daniel, dia memeluk Yona semakin erat karena begitu takut atas apa yang sedang ia pikirkan saat ini, saat dia melihat wajah pucat dan mendengarkan suara yang lemah seolah memberikan isyarat pada Daniel jika semuanya sudah terlambat.
Sepanjang perjalanan Daniel hanya bisa memeluk dan mengusap dengan lembut pundak istrinya. Perjalanan yang cukup jauh melewati hutan dan pedesaan tidak membuat Daniel lelah, dia tetap berusaha membuat istrinya merasa nyaman dan bisa beristirahat dengan tenang, jadi sepanjang perjalanan Daniel berjaga untuk memeluk istrinya dan memastikan jika Yona dalam keadaan aman dan nyaman.
Sesampainya di rumah Daniel, Daniel sudah disambut oleh Henry dan juga dokter yang sudah khusus dipanggil ke rumah itu.
***
Saat ini Yona sudah berada di kamar Daniel, dan sedang di periksa oleh dokter yang sudah kelihatan berumur namun pastinya dokter itu adalah dokter terbaik di bidangnya.
Dokter itu juga membawa beberapa assistennya, juga beberapa peralatan yang terlihat begitu canggih, karena memang Henry assisten Daniel menyarankan hal demikian.
Daniel yang menemani pemeriksaan itu sedikit khawatir melihat ekspresi dokter yang telah selesai melakukan pemeriksaan pada Yona.
Dan benar saja, Setelah pemeriksaan usai dokter itu meminta pada Daniel agar dapat berbicara di luar jangan di kamar itu.
Daniel semakin risau, mengapa ekspresi dokter itu terlihat risau, lalu mengapa dokter roti mengajak Daniel berbicara di luar.
***
"Pak Daniel, saya sudah berpengalaman dalam dunia tumor sebelum nya, dan menurut pemeriksaan saya, tumor istri anda sudah berada dalam tahap akhir, penyebabnya bukanlah akibat keterlambatan pengobatan namun memang tumor yang di derita oleh istri Bapak adalah jenis tumor yang ganas, pertumbuhan nya bisa berjalan begitu cepat juga karena istri Bapak memiliki tubuh yang lemah dan sensitif,"
__ADS_1
"Saya juga memeriksa denyut nadi pasien terdengar lemah, untuk saat ini memang sangat menyesal saya katakan jika pengobatan apapun yang akan istri Bapak lalui tidak akan bisa menyembuhkan dia lagi, untuk saat ini saya hanya bisa menyelamatkan bayi yang ada di dalam kandungannya," sahut dokter itu berterus-terang pada Daniel.
"Ba ... bayi? apakah istri saya hamil dok?" tanya Daniel masih tidak bisa memproses apa saja yang tadi dokter itu katakan.
"Iya, istri anda hamil, tapi masih hamil muda jadi saya harap jangan memberikan tekanan padanya agar tidak menganggu janin yang ada di dalam perutnya, namun saya tekankan sekali lagi bayi Bapak mungkin masih bisa selamat namun istri Bapak sebaiknya kita serahkan semuanya pada Yang Maha Kuasa saja," ucap dokter itu pada Daniel yang terlihat sedang kebingungan.
"Tidak mungkin, sekarang sudah jaman maju! tidak mungkin istriku tidak bisa di selamatkan! jangan bercanda dok! apa maksudmu aku harus menyerah? jangan bercanda! aku bisa memberikan mu uang sebanyak yang kau mau tapi kau harus bisa menyelamatkan istriku!" decak Daniel lagi-lagi menolah fakta yang dia ketahui.
Daniel langsung pergi meninggalkan dokter itu, karena memang tadi mereka berbicara di ruang tamu yang berada di tengah ruangan.
Langkah Daniel begitu cepat meninggalkan dokter itu, namun langsung berhenti sesaat setelah hampir sampai ke kamarnya.
Tubuhnya bergetar hebat, hatinya begitu sakit dan remuk, air matanya tidak berhenti mengalir.
"Apakah kau sudah tahu semua ini? karena itulah kau mengatakan jika semuanya sudah terlambat?" gumam Daniel masih terisak tidak bisa menahan rasa sakit dalam dadanya.
Namun segera Daniel mengusap air matanya dan menenangkan dirinya sesaat, dia tidak ingin terlihat sedih dihadapan istrinya, dia akan memberikan energi positif pada Yona setidaknya hal itu akan mendamaikan hati Yona.
Setelah beberapa saat ...
Di kamar Daniel,
"Sayang," sahut Daniel dengan senyuman lebar di wajahnya, dia langsung berjalan ke arah Yona yang sedang mengenakan infus dan terbaring lemah di kasurnya.
"Bagaimana? apa kata dokternya?" tanya Yona dengan suara yang pelan dan membalas senyuman suaminya yang sudah naik ke kasur dan berbaring di sampingnya sembari memandangi dirinya.
__ADS_1
"Katanya kau baik-baik saja, kau hanya kelelahan karena baru saja melalui perjalanan yang panjang, beristirahat sedikit saja pasti membuat mu sembuh," jawab Daniel berbohong dan sekarang sudah memeluk istrinya.
Yona tahu jika Daniel berbohong, Yona tahu keadaan kesehatan nya saat ini. Tidak mungkin dirinya baik-baik saja.