
***
Daniel memeluk Yona dengan tumpahan rasa rindu yang begitu dalam, matahari yang baru timbul, suara ombak yang bersahutan dan angin pagi yang dingin seolah menemani mereka.
"A ... aku," sahut Yona dengan suara yang sudah terbata-bata karena sedari tadi hanya menangis tidak tahu harus mengatakan apa.
"Nanti saja, biarkan seperti ini sebentar saja, kita bisa membicarakan banyak hal setelah ini. Aku ingin merasakan mu lebih lama," ucap Daniel langsung menyahuti sahutan Yona yang terdengar terbata-bata.
Pelukan pelepas rindu berlangsung begitu lama, tidak sedikit pun Daniel melonggarkan pelukannya. Dia amat merindukan istrinya. Bahkan saat ini dia sudah melupakan seluruh urusan dan masalah yang ia tinggalkan. Dia begitu fokus pada Yona dan seluruh hati dan pikirannya hanya tertuju pada istrinya seorang.
Setelah beberapa saat,
Dengan lembut Daniel sedikit melonggarkan pelukannya dan menyentuh wajah Yona, di tatapnya wajah pucat yang sedang tertunduk.
"Sayang, berjanjilah kau tidak akan meninggalkan aku lagi, berhenti bermain-main dan tetaplah disisiku, kita bisa memulai semuanya dari awal, janjiku masih terukir di hatiku, ingatanku mungkin sempat hilang namun semuanya tetap terukir disini, karena itulah aku tidak pernah bisa melepaskan mu, jadi ..."
__ADS_1
Belum sempat Daniel melanjutkan ucapannya, Yona langsung menarik tangan Daniel dan meletakkan nya kembali di kepalanya.
"Coba kau sentuh rambut ku lagi dan tarik dengan pelan," sahut Yona yang sekarang sudah menatap Daniel.
Lalu segera Daniel melakukan seperti apa yang Yona ucapkan, saat Daniel menyentuh rambut Yona banyak sekali rambut yang ikut ditangannya padahal Daniel bahkan tidak menariknya.
"Kau lihat? jangan membohongi dirimu sendiri lagi, semuanya sudah terlambat, janjimu sudah mati dalam tiga tahun terakhir, biarkan aku pergi dengan tenang, kenapa kau Mencariku? carilah kebahagiaan mu, kenapa kau kembali lagi padaku?" teriak Yona pada suaminya, dia ingin menyadarkan Daniel bahwa semuanya sedang tidak baik-baik saja.
"Kenapa kau tega mengatakan itu, kenapa kau begitu jahat dengan perkataan mu? lalu kau, kenapa kau masih bertahan selama tiga tahun disisiku yang begitu brengsek dan menyakiti mu? kenapa tidak mencari orang lain dan kebahagiaan mu? karena kau mencintaiku kan? karena kau tidak bisa melepaskan ku!"
"Apakah kau kira hanya kau yang mencintaiku? aku, aku juga amat mencintai mu? aku juga takut kehilanganmu, tolong kali ini biarkan aku menebus kesalahanku, kau bilang aku harus mencari kebahagiaan ku, kebahagiaan ku adalah dirimu, kau tidak tahu betapa gilanya aku saat kau meninggalkanku! kau bilang ini demi kebahagiaan ku, kau bilang ini demi hidupku, apakah kau tidak tahu jika kau telah membawa hatiku? membawa harapanku? membunuhku dan meninggalkan ku sendiri? lihat aku, apakah kau kira aku akan bahagia jika kau terus kabur dan pergi dariku?"
Sahut Daniel mengungkapkan segala isi hatinya pada istrinya, Daniel ingin menyadarkan Yona jika tindakannya tidak tepat, jika ingin Daniel bahagia maka Yona harus berada disisinya.
"Karena kau sudah menderita selama hidupmu bersamaku? apakah salah jika aku ingin kau hidup bahagia? pengungkapan cinta itu berbeda-beda, jika kau terus bersamaku maka kau akan lebih menderita lagi. Jika kau terus bersamaku maka aku tidak akan bisa pergi dengan tenang, jika kau terus bersamaku maka aku akan egois lagi, aku akan menginginkan hal yang lain lagi, aku akan berharap lagi, aku hanya ingin pergi tanpa menyakiti siapapun, tanpa merepotkan siapapun, apakah salah jika seseorang menyerah?" decak Yona dengan suara yang begitu lemah dan tangisan yang kembali berlanjut.
__ADS_1
"Sayang, maafkan aku, aku yang salah karena membiarkan dirimu seperti ini, sendirian dan memilih untuk menyerah. Dengan kau pergi dan menghilang bukan berarti semua orang yang kau tinggalkan akan bahagia, kau itu adalah orang yang paling aku cintai, juga orangtua mu. Waktu bukanlah milik kita, kita tidak bisa menerka-nerka waktu."
"Tidak bisa kah kau berjuang sekali lagi? demi aku, demi ayah dan ibu, datanglah padaku dan bersandar lah, tumpahkan semua rasa sakitmu dan kekesalan mu padaku, jika kau mau kau bisa memukulku, mencaci-maki ku, buatlah hatimu lega, aku akan melakukan segalanya untuk mu," balas Daniel tidak tega mendengar jeritan pilu dari istrinya ini. Terdengar begitu lemah dan tidak bertenaga.
Daniel langsung kembali memeluk tubuh lemah istrinya, di dekapnya begitu lembut dan erat.
Karena merasa jika tubuh Yona semakin dingin membuat Daniel langsung menggendong istrinya dan membawanya kembali ke rumah di tepi pantai.
Di letakkan nya Yona dengan pelan ke kasur, dan di usapnya air mata yang masih tersisa di pipinya.
"Aku mencintaimu, mulai dari sekarang aku akan mengatakan aku mencintaimu seratus kali dalam sehari agar kau sadar jika kau adalah satu-satunya wanita di dunia ini yang akan mengisi hatiku," bisik Daniel pada istrinya yang sedang terbaring lemah.
"Sayang, hari ini kita akan langsung pergi ke kota, aku sudah mengabari Henry untuk mencarikan mu dokter terbaik. Aku pasti akan membuatmu sembuh, kau tahu kan? aku tidak pernah mengingkari janjiku, setiap apapun yang kukatakan akan selalu ku perjuangkan," ucap Daniel sedang memeluk istrinya dengan lembut di kasur.
"Tapi ..." belum sempat Yona melanjutkan ucapannya Daniel langsung mencium bibir istrinya.
__ADS_1
"Jangan mengatakan apapun lagi, kau tidak tahu betapa aku menderita jika mendengar kau mengatakan semuanya sudah terlambat. Kau hanya perlu menerima cintaku dari sekarang, bahkan jika aku harus mengorbankan segalanya aku rela agar kau bisa berbahagia dan sembuh, tidak usah memikirkan aku, tidak masalah untuk bersikap egois, egois lah dan inginkan lah banyak hal, akan ku penuhi semuanya, kau jauh lebih penting dan lebih berharga daripada yang kau kira, tidak ada kata sudah terlambat," bisik Daniel mulai mencium setiap inchi wajah pucat istrinya penuh kelembutan dan rasa cinta.
"Kau sangat cantik, kau adalah satu-satunya wanita untukku, satu-satunya istri untukku dan satu-satunya hartaku yang tertinggal, jangan pernah pergi dan menghilang lagi, biarkan aku memeluk mu seperti ini sepanjang hidupku," ucap Daniel lembut sembari memeluk Yona kembali dan menggenggam erat tangan istrinya.