
***
Sebelum lanjut mampir yuk ke karya author yang masih lanjut judulnya Suamiku seorang MAFIA, ini season kedua dan ketiga Simpanan Pria Arogan loh. hehe
btw ga nyangka banyak yang baca novel ini, makasih yaa, maafkan atas segera kekurangan novel ini 🥺
***
"Sayang, kenapa kau belum bangun? sudah saat nya sarapan," sahut Daniel membangunkan istrinya seperti biasa. Namun, Yona sama sekali tidak bangun dan tidak bergerak sama sekali.
"Sayang," sahut Daniel lagi. Lagi-lagi Yona tidak menjawab.
Daniel sudah panik, saat dirinya memanggil Yona dan tidak kunjung bangun juga.
Daniel langsung memencet tombol yang ada di ruangan itu untuk memanggil dokter yang sedang merawat Yona.
Daniel menekan tombol itu berulang-ulang kali, terlihat sangat panik dan tidak sabar menunggu dokter untuk datang.
Dokter yang menerima panggilan bergegas menuju ruangan pasien yang sudah ia rawat beberapa bulan terakhir ini.
"Dok, is ... istriku, istriku tidak bangun," ucap Daniel dengan nada yang terbata-bata. Rasa takut yang datang secara tiba-tiba membuat Daniel kehilangan kesabarannya.
Dokter yang sudah melihat wajah pucat pasi dari Yona langsung bergegas memeriksa denyut nadi Yona dan juga bayi yang ada di dalam perut istri Daniel.
Dokter itu tiba-tiba panik, dan memerintahkan beberapa suster untuk melakukan operasi mendadak. Semuanya tiba-tiba menjadi sibuk, hal itu membuat Daniel ketakutan setengah mati. Dia masih tidak tahu apa yang sedang terjadi.
Dokter itu langsung di bantu oleh petugas medis yang lainnya dan membawa Yona ke dalam ruangan operasi dengan begitu cepat. Terlihat sangat terburu-buru.
Daniel yang terdiam dan mematung tidak terasa meneteskan air mata, dia begitu ketakutan, perasaan takut yang selama ini ia tekan menghujam jantungnya.
Tubuhnya yang bergetar hebat pergi berlari mengejar petugas medis yang tiba-tiba membawa istrinya.
__ADS_1
"Dok, ada apa? kenapa kalian membawanya? istriku baik-baik saja kan?" decak Daniel sudah menarik kerah dokter yang terlihat sudah mendekat dan menjumpai nya yang sedang kebingungan.
"Maaf Pak Daniel, dengan rasa menyesal saya harus meminta ijin dari Bapak, saat ini istri anda dan bayi anda sedang dalam masa kritis, denyut nadi mereka berdua sangat lemah, sepertinya tubuh istri anda sudah tidak mampu untuk menerima rasa sakitnya dan akhirnya jatuh pingsan,"
"Saat ini kemungkinan besar, kami hanya bisa menyelamatkan satu nyawa saja, jika kita mengeluarkan bayinya kemungkinan istri anda tidak akan bisa bangun lagi, tapi jika kita tidak mengeluarkan bayinya maka keduanya tidak akan selamat," sahut dokter itu dengan wajah yang sendu.
Daniel memejamkan matanya sejenak, pertanyaan itu tidak mungkin nyata. Semuanya menjadi kosong, suara yang tadi ricuh menjadi diam, waktu serasa berhenti.
"Pak ... Pak ... Pak Daniel!" seru dokter yang memang juga sedang terburu-buru untuk melakukan operasi.
Daniel yang kehilangan fokus sesaat itu kembali mendengar suara dokter yang sedang memanggil nya dengan suara yang keras.
"Saya harus melakukan operasi sekarang, jika tidak kedua nya tidak akan selamat," decak dokter itu dengan nada suara yang sudah menekan.
"Selamatkan keduanya! jangan memberikan pilihan yang tidak masuk akal padaku! jika kau tidak bisa menyelamatkan nya maka aku merobohkan rumah sakit ini dan mengakhiri karir kedokteran mu!" decak Daniel sudah kehilangan kewarasannya.
Dia sudah hampir gila saat ini, pilihan yang dokter sebutkan tidak bisa Daniel jawab. Dia tidak akan bisa hidup jika kehilangan keduanya.
Dokter itu sudah tidak bisa menjawab apapun dan segera pergi ke ruangan operasi.
Daniel yang di tinggal sendirian saat ini terjerembab jatuh ke lantai,
"Apakah ini adalah akhirnya? semuanya sia-sia? tidak! tidak! istriku tidak mungkin tiba-tiba meninggalkanku! dia sudah berjanji padaku!" decak Daniel yang terlihat seperti orang gila.
Daniel duduk di lorong rumah sakit dekat ruang operasi, sudah beberapa jam operasi berjalan, namun tidak ada yang keluar dari ruangan itu.
Jantung Daniel sudah berdetak begitu cepat, dia kebingungan, ketakutan, rasanya hampir gila. Dia tidak bisa membayangkan jika sungguh Yona akan meninggalkan dirinya.
Saat ini hati Daniel menjadi kosong dan hampa, jika saat ini adalah akhir bagi dunia nya maka mungkin Daniel akan memilih mati.
Tring ... Tring ... Tring
Deringan ponsel membuyarkan lamunan Daniel yang sudah melayang, saat mengambil ponsel dari saku celana nya, sebuah surat kertas terlempar dari celana nya bersamaan saat Daniel mengambil ponsel.
__ADS_1
Daniel langsung meletakkan ponselnya dan sudah tidak peduli lagi siapa yang sedang menghubungi nya.
Diambilnya surat itu dan dibuka nya. Air mata yang sudah mengalir saat ini berhenti mengalir, rasa sakit yang mampu membuat orang gila sedang Daniel rasakan. Bahkan meneteskan air mata pun dia sudah tidak mampu, semangat hidup nya sudah redup, dia tergeletak dan memandang kosong melihat surat yang Yona tuliskan untuknya.
***
Flashback on,
Saat subuh sebelum Yona di operasi,
Saat ini Yona sedang merasakan rasa sakit yang begitu dahsyat, dia sudah tidak mampu menahan rasa sakit. Di lihatnya suaminya sedang terlelap di samping nya sedang memeluk nya dengan erat.
Perlahan Yona melepaskan pelukan itu, dia merasa kan sesuatu yang aneh, perasaan jika waktunya sudah dekat.
Tangisan nya pecah namun di tahan nya suara nya agar tidak terdengar. Di usapnya perutnya yang sudah besar.
"Maafkan Ibu, Nak, maafkan Ibu karena memiliki penyakit dan mengandung dirimu, kau harus bisa menjaga ayahmu, jangan meninggalkan nya seperti Ibu meninggal kan nya," gumam Yona menangis sembari menahan rasa sakit yang teramat sangat.
Dengan tenaga yang tersisa, dia ingin meninggalkan pesan untuk suaminya.
"Untuk suamiku, sepertinya kita telah di hadapkan kepada akhir dari kisah kita, kau ingat kan janji mu padaku, jika apapun yang terjadi kau akan tetap melanjutkan hidupmu dan berbahagia, aku tidak menyerah hanya saja sepertinya memang waktu tidak pernah berpihak pada kita."
"Lagi-lagi kita akan berpisah, tapi aku sangat bahagia saat bersamamu, kau memelukku setiap kali aku membutuhkan ku, kau adalah suami terbaik di dunia, pria terbaik yang Tuhan berikan untuk ku."
"Aku yakin kita pasti akan bertemu di surga, kau jaga anak kita dengan baik. Maafkan aku karena telah membunuh mimpimu, aku sangat mencintaimu, tapi cinta memang tidak cukup membuat kita untuk tetap bersama."
"Tolong jangan larut dalam kesedihan, kau tahu kan aku akan tetap mengawasi mu, jika kau bersedih maka kau akan membuatku lebih sedih lagi. Mari tetap mencintai sampai akhir, jika di kehidupan ini kita harus berpisah maka mari kita bersama di surga. Sampaikan rasa cintaku pada anak kita, aku punya hadiah untuk kalian berdua, aku meletakkan nya di laci meja yang ada di ruangan ku,"
"Untuk ayah dan ibuku, tolong sampaikan pada mereka jika putri mereka sudah bahagia dan tenang, katakan jika aku sangat mencintai mereka."
"Menjalani waktu bersamamu adalah masa terindah dalam hidupku, cinta abadi yang kau sampaikan padaku akan ku bawa selama nya, aku mencintai mu sampai ungkapan rasa cinta seperti nya tidak akan mampu menggambarkan perasaan ku, aku akan menunggu mu sampai waktunya nanti, sekali lagi, aku sangat mencintaimu suamiku, pria terbaik dan nantinya akan menjadi ayah yang terbaik,"
Itulah isi surat dari Yona yang membuat Daniel terdiam dan merasakan perasaan hampa, rasa sakit yang terlalu menyakitkan seperti merenggut semuanya dari diri Daniel.
__ADS_1