
Ina sedih mendengar penuturan dari neneknya. Dia ternyata bukan anak kandung papa dan mamanya. Dia tidak menyangka ada yang memotonya. Ia dan Zayyan memang sudah akrab sejak kecil sehingga Ina menganggap lelaki itu sebagai kakak.
"Jika Ina bukan anak mama dan papa, jadi Ina anak siapa?" tanya Ina kepada papa dan mama.
Semua yang ada di meja makan tersebut menjadi sedih. Mereka tidak menyangka bahwa Ina akan secepat ini mengetahui identitasnya. Sementara Zayyan dan yang lainnya juga kaget saat mengetahui bahwa Ina adalah anak angkat Dion dan Feby.
Daffin dan Mezza memang mengetahui karena saat mengangkat Ina menjadi anak mereka sudah berumur 4 tahun. Mezza memang sempat lupa akan tetapi iya pernah menguping pembicaraan Mama mertuanya dan Tante Feby.
"sebaiknya kita bicara di tempat lain." ucap Dion tidak ingin menyakiti hati Ina.
"Iya, mungkin kamu punya penjelasan juga tentang foto itu." ucap mama Feby.
"Foto itu sudah jelas, nggak usah di jelaskan lagi." jawab sang nenek.
"Buk tolong diam dulu, bagaimanapun Ina juga anak kami, anak yang kami besarkan dengan penuh harapan." ucap Dion.
"Mari kita masuk kamar papa dan mama, dan kamu juga harus ikut menjelaskan Zayyan." ucap Dion dengan ekpresi dingin.
"Aku ikut." ucap Siska.
"Sebaiknya bang Galuh juga ikut." ucap Dita yang paham bagaimana sifat Siska.
Mereka berenam berjalan menuju kamar papa Dion dan Feby masuk. Mereka ingin berbicara dengan kepala dingin..Sedangkan Ina sudah menangis sambil berjalan.
"Kamu dulu yang menjelaskan atau kami?" tanya Dion kepada Ina.
"Baik, Ina akan menjelaskan,Ina dan bang Zayyan nggak ada hubungan apa-apa, tadi malam benar adanya Ina menyandarkan kepala, papa dan mama tau bahwa kami memang sudah akrab sejak kecil, bukankah anak - anak yang lain juga begitu, Azzura dengan bang Daffin juga sering, bukankah kita selalu berprinsip keluarga." ucap Ina terhenti.
Siska.,Dion dan Feby terdiam. Selama ini mereka salah dalam mendidik. Anak - anak mereka memang mereka kenalkan dalam hubungan keluarga. Namun mereka lupa bahwa mereka bukan mahram. Bahkan mereka juga lupa ketika menjodohkan Beby dengan Zayyan.
"Tapi Zayyan baru menjadi suami adik kamu, bagaimana perasaan adik kamu."ucap papanya.
"Jadi Beby mempermasalahkan kedekatan kami? baik untuk kedepannya kami akan jarak pa."
"Ini bukan mempermasalahkan Ina, akan tetapi tetap saja dia pasti merasa sakit hati melihat perempuan lain di samping suaminya." ujar Feby.
"Jadi mama juga menyalahkan Ina? baiklah Ina paham karena Ina juga bukan anak mama dan papa, tentu kalian akan membela Beby."
"Ina bicara yang sopan." tegur Siska yang sudah menganggap Ina sebagai Puterinya.
__ADS_1
"Papa dan mama kamu malah memberikan kasih sayang yang lebih kepada kamu, apa kurang yang mereka berikan? bahkan mereka memuji kamu dimana-mana, mereka lebih mendahulukan kamu daripada Beby karena apa, karena bagi mereka kamu tetap anak pertama mereka."
Ina menangis mendengar ucapan Tante Siska. Dia tahu betul bahwa kedua orang tuanya sangat menyayanginya. Mereka bahkan masih menerimanya dan memberikan semangat saat ia hamil di luar nikah. Ia terduduk menangis sejadi-jadinya.
"Sudah Ina, kamu memang anak angkat papa dan mama tapi sayang kami kepada kamu sama dengan Beby." ucap Feby menenangkan Ina.
Zayyan merasa hatinya sakit mengetahui bahwa betapa wanita itu menyedihkan nasib wanita itu. Dia tidak tahan melihat kepedihan yang di tunjukkan wanita itu.
"Kamu kami ambil di panti Tante Bella, kata Tante Bella papa dan mama kamu mengalami kecelakaan, Tante Bella lah yang merawat kamu sebelum bertemu kami." Feby menceritakan yang sebenarnya.
Ina ingat wajah Tante Bella. Tante Bella sangat baik kepadanya sejak kecil. Ia pikir karena ia salah satu istri dari sahabat kedua orang tuanya. Ternyata Tante Bella juga berjasa kepada dirinya.
"Kamu tidak punya keluarga lagi saat itu, Tante Bella sudah mencari pihak keluarga dari kedua orang tua kamu." cerita Feby.
"Maafkan Ina ma, tapi Ia benar tidak ada hubungan dengan Zayyan, Ina tidak ada perasaan apa-apa, maafkan Ina pa buat malu kalian terus." ucap Ina.
"Zayyan kamu kenapa keluar malam itu? apa janjian dengan Ina?" kali ini yang bertanya adalah galuh yang dari tadi diam.
"Aku hanya cari angin pa, lalu tidak sengaja melihat Ina menangis, dia seperti sedang tertekan." jawab Zayyan jujur.
"Setelah saya tanya ternyata dia sedang diancam oleh lelaki yang menghamilinya." jawab Zayyan dengan jujur lagi.
"Jadi lelaki itu muncul lagi di kehidupan kamu?" hanya Dion menatap Ina.
Ina hanya mengangguk dengan jujur. Dia berpikir mungkin ini waktu yang tepat untuk jujur.
"Apa ancaman yang diucapkan?" tanya Dion lagi.
"Dia ingin mengambil Zella,dia selalu bilang bahwa dia akan menghancurkan keluarga kita, Ina tidak tau salah Ina sama dia sehingga dendam seperti itu." jawab Ina sesengukan.
"Apakah kamu masih akan merahasiakan lelaki itu? apakah kamu tetap melindungi dia?" tanya Dion.
"Ina bukan melindungi dia pa, Ina hany tidak ingin dia menggangu hidup Ina lagi."
"Siapa lelaki itu Ina? katakanlah biar kami bisa melindungi kamu." ucap Zayyan.
Ketika mendengar ucapan Zayyan, mama Siska lansung memukul anaknya.
"Cukup kau lindungi istrimu yang menangis di kamar sana." ucapnya dengan pelan.
__ADS_1
"Siapa lelaki itu Ina, Zayyan benar, jika kamu tidak tau, kita tidak tau apa yang akan di lakukan selanjutnya, saya yakin ini juga perkerjaan dia." ucap Galuh kesal dengan lelaki licik seperti itu.
"Dia teman bang Zayyan juga."
"Siapa?" tanya Zayyan dengan kaget.
"Dia Raka."
Semua terkejut mendengar nama itu di sebutkan. Zayyan sangat mengenal Raka, dia termasuk anak yang baik. Begitu juga dengan penilaian Dion dan yang lainnya.
"Jadi Raka adalah bapak biologis Zella?" tanya Feby.
"Iya ma."
"Kenapa dia meninggalkan kamu dengan tidak mau bertanggung jawab?" tanya Galuh lagi.
"Dia bilang dia mendekati saya hanya untuk balas dendam kepada keluarga saya, dia ingin saya merasakan apa yang ibunya rasakan." ucap Ina mengingat semua itu.
"Apa kamu punya saingan yang ingin balas dendam?" tanya Galuh mengintrogasi Dion.
"Aku juga bingung, aku merasa tidak ada menyinggung siapa - siapa, waktu Ina mengaku hamil juga ada yang melempar kaca rumah, dia bilang ini awal balas dendam." jawab Dion.
"Apa ini mantan pacarmu itu?" tanya Feby mencoba mengingat masa lalu.
"Kita selidiki Raka ini, tapi kamu Zayyan tetap berteman seperti biasa,,nanti saya akan minta bantuan Abian atau Daffin." ujar Galuh.
"Baik." jawab Zayyan.
"Kamu Zayyan tenangkan Beby, saya dan Daffin nakan mencoba memblokir dan menghapus semua video dan foto itu." ucap Galuh kepada anaknya
"Baik pa."
"Bubar, bersikap seperti sedang mengalami kekacuan, Dan kamu DIon harus berpura-pura marah dengan Ina, sepertinya itu yang di harapkan, dan Ina kamu harus tunjukan muka sedih terus." perintah Galuh.
"Baik om."
"Pas pintu di buka, Feby baiknya pura - pura Jambak rambut Ina, pasti ada mata - matanya di sini." perintah Galuh lagi.
"Maafkan mama ya Ina." ucap Feby kepada Ina sebelum berakting.
__ADS_1
Mereka melakukan apa yang di suruh oleh Galuh. Sedangkan Zayyan kembali kekamarnya untuk menenangkan Beby.