Terjebak Cinta Dua Saudara

Terjebak Cinta Dua Saudara
Bab 46


__ADS_3

,,,,,Setelah Zayyan keluar, masuklah dua orang perawat kedalam ruangan itu. Mereka bertugas memindahkan Beby menuju kamar biasa.


Beby hanya diam saat di pindahkan tanpa bersuara apa - apa. Dia hanya teringat bayangan saat Zayyan mengorbankan dirinya hanya untuk kakaknya. Hati Beby sangat sakit mengingat kejadian itu.


Beby sangat ingin melupakan kejadian itu tapi bayangan itu tetap membayanginya. Beby berteriak sekencang mungkin sambil menjambak rambutnya.


Tiba - tiba Zayyan masuk kedalam ruangan tersebut. Dia segera masuk ketika mendengar istrinya berteriak.


"Ada apa Beby?" tanya Zayyan mendekati Beby.


"Keluar." usir Beby.


"Kamu kenapa? ada apa?" tanya Zayyan.


"Aku tidak mau melihat wajah kamu, pergi dari sini." jawab Beby dengan ketus.


"Ada masalah apa?" tanya Zayyan bingung.


"Banyak masalah yang tercipta di antara kita, dan saya maunya kamu pergi dari sini karena saya muak melihat kamu, dan satu lagi saya maunya kita berpisah." ucapan Beby bagaikan anak panah yang melesat lansung menancap hatinya.


"Ada apa?" tanya Zayyan menyentuh tangan Beby.


Beby menepis tangan lelaki itu dari tangannya.


"Jangan pernah sentuh saya." ucap Beby.


"Kamu kenapa?" tanya Zayyan semakin bingung.


"Keluar, jika kamu tidak mau keluar maka saya yang akan keluar." ancam Beby.


Zayyan kaget mendengar ucapan Beby. Dia tidak menyangka bahwa kata - kata itu akan keluar dari mulut wanita itu.


Zayyan melangkahkan kakinya menuju keluar dari kamar itu. Sedangkan Beby hanya diam menatap lelaki itu meninggalkan dia sendirian.


"Dasar lelaki, di usir sekali saja sudah lansung pergi, tidak pernah mencoba untuk bertahan." ucap Beby semakin kesal.


Saat Zayyan keluar dia bertemu dengan keluarganya dan keluarga Beby di depan pintu kamar. Zayyan terpaksa ikut masuk agar mereka tidak curiga.


Lagian menurut Zayyan Beby tidak akan fokus melihatnya. Dia yakin Beby tidak akan mengusirnya di hadapan keluarga mereka.

__ADS_1


"Selamat siang sayang, Alhamdulillah kamu akhirnya sadar." ucap Siska lansung mencium kening menantunya.


"Kamu baik - baik saja?" tanya Galuh melihat ada yang berbeda dengan wajah Beby.


Beby menatap ke arah Zayyan sejenak yang berdiri jauh di belakang. Lalu ia menatap keluarganya satu persatu. Entah kenapa dia merasa semua sudah harus selesai. Namun mulutnya enggan untuk bicara.


"Kamu besok udah bisa pulang ke kota J, kamu maunya di rawat di rumah atau di rumah sakit aja nak?" tanya Siska duduk di sebelah kiri Beby dengan kursi yang tersedia di sana.


" Mohon maaf apakah bisa aku di rawat di rumah saja, maksudnya di rumah mama dan papa aku." ucap Beby membuat semua orang kaget. Semua orang tidak paham dengan arah pembicaraan Beby kecuali Zayyan.


"Kamu kangen dengan mama?" tanya Feby tersenyum duduk di sebelah kanannya.


"Wajar, gimana pa, apakah bisa disediakan perawat di rumah Dion?" tanya Siska kepada Galuh.


Dion hanya diam memandang anaknya. Dia merasa ada yang aneh dengan permintaan anaknya.


"Kamu boleh pulang dulu, mungkin kamu kangen suasana rumah, nanti setelah rindunya terobati bisa kembali ke rumah, mungkin Zayyan akan temani kamu juga di sana." ucap Galuh tersenyum kepada menantunya.


"Aku tidak mau kembali ke sana lagi." ucap Beby membuat semua orang terdiam.


Zayyan semakin merasa takut jika Beby berbicara di hadapan semua orang. Dia yakin kedua belah pihak keluarga akan kaget jika Beby bicara yang aneh-aneh.


"Maksud kamu apa beb?" tanya Feby sang mama.


Semua terdiam mendengar ucapan Beby termasuk Zayyan. Dia tidak percaya bahwa Beby mengucapkan kata-kata keramat itu.


Zayyan berjalan mendekati ranjang Beby. Dia tidak mau jika Beby semakin ngelantur.


"Beby kamu bicara apa? udah jangan bicara ngelantur, kamu harus banyak istirahat." ucap Zayyan.


"Ngelantur? apa kamu lupa sebelum kamu pergi dengan apa yang aku ucapkan?" tanya Beby tersenyum sinis.


Otak Galuh dan Siska berputar kepada peristiwa malam sebelum Zayyan pergi mencari Ina.


"Aku hanya mau menolong Kakak kamu beb, tidak lebih." jawab Zayyan.


"Kamu tidak peduli dengan perasaan aku saat itu, aku bilang stop tapi kamu tidak peduli, sekarang kamu bebas mau gimana, aku tidak akan menghalangi kamu lagi." ucap Beby.


"Ada apa ini Beby?" tanya Dion mulai bersuara setelah lama diam mengamati.

__ADS_1


"Kemaren saat Zayyan mau pergi mencari Ina, dia melarang Zayyan, tapi Zayyan tetap pergi karena aku yang minta sih waktu itu, lagian waktu itu posisinya Daffin juga minta bantuan." ujar Siska merasa sedikit bersalah.


"Lalu?" tanya Dion.


"Beby melarang Zayyan pergi mungkin karena cemburu, dan mengancam Zayyan jika tetap pergi maka. dia juga akan meninggalkan rumah." Jawab Siska lagi.


"Tapi kan itu demi menolong nyawa kakak kamu beb." ucap Feby menjelaskan kepada Beby.


"Aku hanya ingin hidup bebas ma, tanpa membuang waktu, aku ini manusia biasa yang bisa sakit hati, untuk apa aku bertahan dengan orang yang memikirkan orang lain." ucap Beby.


"Memikirkan orang lain?" tanya Dion.


Zayyan terdiam saat itu karena dia paham bahwa apa yang di ucapkan Beby mengarah kepada apa yang terjadi di perusahaan beberapa hari yang lalu.


"Bagaimana aku bisa mencintai orang yang mencintai kakakku pa, dia rela mengorbankan nyawanya untuk kakakku." ucap Beby tersenyum sinis. Air matanya meleleh mengingat semua yang terjadi kemarin.


Zayyan kaget saat melihat wanita itu menangis saat mengucapkan kata-kata itu. Dia yakin bahwa wanita itu sedang sakit hati melihat perlakuannya kepada Ina.


"Kakak tidak sampai memikirkan sampai ke sana, kakak hanya melindungi dia seperti melindungi keluarga kakak." ucap Zayyan mencoba menjelaskan.


"Apa masalah ini tidak bisa kalian bahas berdua saja?" tanya Galuh kepada anak menantunya.


"Biarkan saja, agar aku juga tau apa yang di rasakan oleh anakku, aku tidak mau dia menderita dalam pernikahannya." ucap Dion merasa gagal menjadi seorang ayah.


Dia yang menjodohkan mereka karena dia tau bahwa anaknya menyukai Zayyan. Tapi ia tidak tau bahwa akan seperti ini.


"Untuk sementara kamu cari tau tentang hatimu, setelah hati kamu yakin baru jemput anak saya." ucap Dion kepada Zayyan.


"Dan mungkin lebih baik anak kami tidak di bawa kemana-mana, biarkan kami mengurusnya sendiri." ucap Dion lagi.


"Tidak bisa begitu, dia masih menantu kami, dia tanggung jawab kami." ujar Siska kurang senang dengan ucapan Dion sang besannya sekaligus sahabatnya.


"Bagaimana Beby?" tanya Dion kepada anaknya.


"Nggak apa - apa, hanya untuk sementara aku tidak mau melihat dia dan kak Ina." ucap Beby menunjuk Zayyan.


"Kamu cemburu melihat mereka berdua?" tanya Siska tersenyum.


"Bukan berdua, tapi aku tidak mau bertemu dengan salah satu dari mereka, apa papa dan mama siap?" tanya Beby.

__ADS_1


"Kamu kenapa seperti ini Beby?" tanya Feby merasa aneh dengan sikap anaknya.


"Aku hanya melindungi diri sendiri dari rasa sakit yang sangat menyakitkan." jawab Beby membuat Zayyan merasa bersalah saat itu.


__ADS_2