Terjebak Cinta Dua Saudara

Terjebak Cinta Dua Saudara
Bab 37


__ADS_3

Hati sudah sore namun saat ini Raka juga belum memberi kabar membuat Ina semakin kuatir. Hatinya tidak tenang sebelum menemukan di mana keberadaan anaknya. Saat ini dia hanya bisa pasrah menyerahkan semuanya kepada keluarga Arkarna dan Raka.


Ina sudah tidak sabar karena Raka masih juga belum menghubunginya padahal ini sudah pukul 05.00 sore.


"Apa dia mau kabur? kok sampai sekarang belum muncul juga."gumam Ina sambil mengeluarkan ponselnya.


"Sabar, semua ada proses, saat ini mereka sedang berusaha mencari, Allah akan melindungi Zella." ucap Dita duduk di sebelah Ina.


"Kenapa papa tidak mau melaporkan kepada polisi tante? agar masalah ini tapi cepat selesaikan, apalagi masalah ini sudah dilaporkan ke kantor polisi."


"Katanya keluarga Arkarna keren Tante, bisa menyelesaikan masalah tanpa polisi, tapi masalah ini saja sudah 2 hari, anak buah om masih belum bisa menemukan." jawab Ina asal bicara tanpa memikirkan perasaan Dita.


"Keluarga Arkarna juga manusia, mereka hanya di beri rezeki lebih agar bisa membayar orang berkompeten, tapi Tante yakin bahwa ini akan terselesaikan." jawab Dita masih dengan senyuman.


"Lebih baik kamu hubungi Raka agar kamu bisa dapat jawaban." jawab Dita langsung beranjak dari tempat duduknya.


Ina merasa bersalah kepada Tante Dita. Dia tau bahwa Tante Dita pasti tersinggung dengan ucapannya. Tante Dita ada benarnya bahwa mereka hanya manusia biasa. Mereka hanya bisa melakukan apa yang mereka mampu lakukan.


Saat Ina hendak menghubungi Raka akan tetapi ponselnya berbunyi. Raka menghubunginya menggunakan nomor yang ia simpan lima tahun yang lalu. Ina dengan cepat mengangkat telepon tersebut.


"Ya ka, gimana?"


"Ini agak rumit, kayaknya kita bahas lansung jangan lewat telpon." ucap Raka.


"Baik, kita ketemu dimana?" tanya Ina tidak sabar.


"Kita ketemu di.... apa aku aja ketempat kamu? kamu dimana saat ini?" tanya Raka dengan ragu.


"Masih di rumah om Abian, kamu mau ke sini?"


"Jangan di sana deh, kita bahasnya di luar aja karena ada sesuatu."

__ADS_1


"Baik, kita ketemu di dekat sini aja, jemput aku." ujar Ina.


Ina merasa heran dengan Raka yang tidak .ah bicara lewat telepon ataupun di rumah kediaman Keluarga Arkarna.


"Apa yang ia rencanakan, ya Allah lindungilah hamba dan anak hamba ya Allah." ujar Ina lansung berdiri.


Ina berjalan menuju di mana Dita sedang sibuk dengan ponselnya. Dia tampak sedang bertelponan dengan Aya anak perempuannya.


"Kenapa na?"tanya Dita melihat ke arah Ina yang tampak ragu mendekatinya.


"Tante katanya Raka mau jemput, bahas masalah Zella secara lansung, dia nggak mau di bahas lewat telpon, aku pergi sebentar ya Tante, mungkin dekat - dekat sini aja." ucap Ina sungkan.


"Baik, kamu hati - hati." nasehat Dita.


"Baik Tante " jawab Ina.


Ina nampak mondar-mandir sambil menunggu kedatangan Raka. Dia sudah tak sabar mendengar berita apa yang akan disampaikan oleh Raka.


Ina kaget Raka membawa mobil yang nampak di pakai saat menculik Zella. Namun ia tetap naik tanpa bertanya.


Mobil Raka berjalan dengan kecepatan sedang tanpa ada yang berbicara. Raka juga nampak diam tanpa berniat untuk bicara. Sedangkan Ina hanya mengikuti apa yang di lakukan oleh Raka.


Tidak begitu lama mobil berhenti di dekat sebuah kafe dipinggir jalan. Raka keluar dari mobil dan segera membantu Ina membuka pintu mobil.


Mereka berjalan menuju kafe. Raka sengaja memesan ruang private agar tidak bisa yang mendengar yang akan mereka bahas.


"Ada apa sih?" tanya Ina merasa aneh sejak tadi.


"Gini, tadi kau sudah cari CCTV mobil ini, tapi tidak ada apa - apa, aku yakin ini pelakunya orang terdekat aku, kenapa aku tidak mau di telpon karena aku berpikir bahwa ponselku sedang di sadap saat ini." jawab Raka.


"Terus?"

__ADS_1


"Gimana jika kita akting menjalin hubungan lagi, aku ingin orang itu keluar dari persembunyiannya, dan kenapa aku juga tidak mau di rumah kediaman keluarga Arkarna agar akting kita tidak ada yang mengetahui, agar papa kamu marah kepada kita berdua, lalu pasti akan heboh, lalu yang menculik akan semakin takut jika kita balikan, Jika karena ini penculik asli maka dia akan meminta tebusan." ucap Raka.


"Tapi anakku gimana? gimana saat ini Zella kenapa - Napa ?" ucap Ina menangis.


Ina tidak tau melakukan apalagi. Dia sudah berusaha sebaik mungkin mencari keberadaan anaknya. Saat ini dia hanya bisa menangis.


Dia sangat takut jika Ina di lecehkan atau di mutilasi untuk di ambil organ tubuhnya seperti di berita - berita.


"Kamu tenang, aku yakin Allah melindungi anak kita, aku akan mencarinya, Jiak ada yang menyakitinya maka tanganku sendiri yang menghabisi orang itu." janji Raka.


"Jadi......" pembicaraan mereka terputus karena ada pelayan yang masuk.


Mereka hanya diam sampai pelayan itu kembali keluar setelah mengantarkan makanan dan minuman.


"Akting akan di mulai sepulang dari sini." ujar Raka.


Feeling Raka saat ini Zella ada di tangan Diva atau ibunya. Namun ia belum bisa mengungkapkan semua ini. Dia juga tidak mungkin melaporkan Diva atau ibunya kepada polisi karena kedua wanita itu sangat berjasa kepada hidupnya.


"Kamu tidak sedang berbohong atau membodohi aku?" ucap Ina bertanya.


"Mana mungkin aku melakukan hal seperti itu." jawab Raka.


"Baik, jika itu terbaik maka aku akan lakukan karena bagiku yang terpenting adalah menemukan Zella secepatnya." jawab Ina.


Mereka menyantap makanan yang ada di depan mereka tanpa bicara lagi. Namun setelah minum terakhir, tiba - tiba kepada Raka dan Ina pusing bersamaan.


"Sial ini ada yang menyabotase makanan kita." ucap Raka memberi tau.


"Kamu sakit kepala juga?" tanya Ina juga bertanya.


"Aku ngantuk sekali, ayo pulang sebelum parah.," ajak Raka.

__ADS_1


Namun Raka sudah tidak sanggup lagi untuk berdiri. Seketika keduanya lansung terjatuh di lantai.


__ADS_2