Terjebak Cinta Dua Saudara

Terjebak Cinta Dua Saudara
Bab 39


__ADS_3

Dion baru saja kembali kerumah setelah dari kantor polisi. Dia merasa sangat lelah sekali namun hatinya juga belum tenang karena Zella cucunya juga masih belum ditemukan.


Walaupun Zella adalah cucu angkat tapi bagi Dion Zella sangat berarti. Karena baginya Abrina adalah anaknya bukan anak angkat. Dia sudah memberikan kasih sayang semenjak wanita itu bayi.


Febby bingung ketika melihat suaminya pulang sendirian. Dia melihat apakah ada orang lain di belakang Dion. Namun dia tidak menemukan siapapun.


"Cari siapa sayang?" tanya Dion juga bingung melihat istrinya yang sibuk seperti mencari sesuatu.


"Kok pulang sendiri? Ina bukannya sama kamu?"tanya sang istri semakin penasaran.


"Tadinya iya, cuma aku suruh dia tinggal di rumah Dita, apakah sampe sekarang dia belum pulang?" tanya Dion kembali melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah.


"Belum mas, apakah dia tidur di sana?" tanya Feby merasa ada yang mengganjal di hatinya.


Feby mengikuti langkah kaki suaminya menuju kamar.


"Kamu telpon aja dia, atau telpon Dita." ucap Dion sambil melangkahkan kaki menuju kamar.


"Baiklah." jawab Feby juga masuk kedalam kamar. Dia mengambil ponselnya di atas nakas di samping ranjang tidurnya.


Feby mencoba menghubungi anaknya namun telponnya berkali-kali tidak di jawab.


"Kok nomornya tidak aktif sih." gumam Feby terdengar oleh Dion.


"Telpon Dita aja." ucap Dion sambil membuka jasnya.


Feby pun menelpon Dita untuk menanyakan soal Ina. Dia tidak ingin terjadi apa-apa lagi dengan keluarganya.


"Hallo dit, Ina apakah masih ada di sana?" tanya Feby.


"Apa? Ina sudah pulang dari tadi sore sama Raka?" tanya Feby lagi kaget saat Dita memberitahu bahwa anaknya pergi bersama Raka. Dia merasa ada yang aneh karena ponsel Ina tidak bisa di hubungi.


"Mas Ina tadi di jemput oleh Raka untuk cari Zella, tapi saat ini nomor ponsel Ina tidak aktif sama sekali." Adu Feby lansung panik.


"Kamu yakin?" langsung mendekat ke istrinya.


"Iya mas, barusan Dita bilang begitu, gimana mas? gimana jika Raka menculiknya." ucap Feby ketakutan.


"Kita harus kerumah Daffin aja untuk minta tolong." Dion yang panik langsung mengambil kunci mobilnya.


"Kenapa nggak kerumah bang Abian aja mas?" tanya Febi kepada suaminya.


"Mending langsung kerumah Daffin karena sepertinya bang Abian lelah karena baru pulang bersama mas." jawab Dion.


"Baiklah aku siap - siap dulu." ujar Feby lansung mengganti bajunya.

__ADS_1


Mereka keluar dari kamar nampak dengan terburu-buru. Mereka masuk kedalam mobil, lalu mobil melaju dengan kecepatan cepat.


"Ayo mas cepat, aku takut Ina kenapa - kenapa." ujar Feby merasa kuatir.


"Ini udah kencang sayang, semoga dia nggak apa-apa." jawab Dion.


Tidak butuh waktu yang lama akhirnya mereka telah sampai di rumah Daffin. Mereka melihat di sana ada Dita dan Abian.


"Kalian di sini?" tanya Feby melihat keduanya.


"Iya kami segera kesini ketika tau Ina belum sampai rumah, kan cuma beda gang aja dari rumah." ujar Dita.


Feby mengangguk bahwa memang jarak rumah keduanya sangat dekat. Rumah Daffin berada tepat di belakang rumah utama keluarga Arkarna. Dan rumah mereka juga ada pintu yang menghubungkan kedua rumah itu. Terkadang pintu itu akan di buka jika ada yang urgent.


"Dita, kenapa hidup Abrina anakku sangat menyedihkan sekali, apa salahnya hingga hidupnya seperti ini, sejak kecil dia sudah di uji dengan kehilangan kedua orang tuanya, lalu setelah kami merawatnya kami juga gagal." tiba-tiba Febby menangis memeluk Dita.


"Sabar, semua ujian." jawab Dita menenangkan Feby.


"Dia hamil karena dendam masa lalu yang di tujukan untuk kami, lalu setelah baru dia tersenyum kembali, lelaki itu muncul lagi dan membawa masalah lagi untuk dia, kenapa hidupnya nggak pernah bahagia dit?"


Feby menangis histeris jika mengingat semua tentang Ina. Baginya Ina cukup menderita semenjak hamil di luar nikah.


"Yang sabar, mungkin setelah badai akan muncul pelangi, kita berharap Ina tidak apa - apa." ujar Dita.


Tiba-tiba ada dua orang anak buah Daffin masuk kerumahnya. Daffin lansung menyuruh mereka untuk melaporkan apa yang terjadi.


"Tadi sore mobil Raka menuju sebuah kafe tidak jauh dari sini, tapi setelah itu mereka tidak muncul lagi, bahkan mobil Raka sampai saat ini masih terparkir di sana." lapor salah satu anak buah Daffin.


"Ini mencurigakan, bawa pemilik kafenya kesini." perintah Abian lansung curiga.


"Pemilik kafe sedang di luar kota pak."


"Bawa managernya kesini secepatnya, dan juga jangan lupa tutup kafenya dan tanyakan semua karyawan buang ada di situ." perintah Daffin.


"Baik pak."


"Sepertinya saat mendesak begini ada bagusnya kita lansung kesana, toh juga dekat." ucap Dita.


"Kita tidak bisa turun tangan lansung, biar mereka yang membereskan." jawab Abian dengan cepat.


"Iya ma, papa benar, kita tidak boleh turun tangan lansung." jawab Daffin membenarkan ucapan papanya.


"Maaf semuanya tapi sepertinya keluarga Kusuma harus tau masalah ini, karena ini ada dua kejadian, bagaimanapun keluarga Kusuma juga bagian keluarga om Dion, saya sangat paham karakter papa saya." ucap Mezza bersuara yang sejak tadi hanya diam mendengar.


"Iya, telpon papamu ca, dia sangat sensitif jika tau dari orang lain." ujar Abian yang paham betul karakter sahabatnya.

__ADS_1


"Sepertinya biar saya aja menelpon Siska." jawab Feby dengan cepat.


"Mungkin seperti itu baiknya, karena kalian juga adalah besannya." ujar Dita.


Faby lansung menghubungi sahabatnya yang sekarang sudah menjadi besannya. Feby menceritakan semuanya kepada Siska lewat sambungan telepon.


Ketika Feby selesai menelpon, beberapa orang masuk kedalam rumah. Feby melihat ada dua orang anak buah Daffin tadi.


"Siapa mereka?" tanya Daffin kepada anak buahnya.


"Dia adalah manager kafe." jawab salah satu anak buahnya yang sepertinya ketua genk itu menunjuk kepada salah seorang lelaki berpakaian rapi.


"Dan dia adalah pelayan yang menyabotase makanan Raka dan Ina."jawabnya lagi menunjuk satu lelaki yang dipegang oleh anak buah yang lain.


"Kenapa dia melakukan?" tanya Daffin.


"Menurut keterangannya manager di suruh pemilik Kafe yang katanya sampai saat ini dia tidak tau pemiliknya karena pemilik kafe ini tidak pernah muncul, lalu pelayan ini melakukan dengan alasan karena sedang butuh uang untuk berobat ibunya."


"Lalu kemana Raka dan Ina dibawa?" tanya Daffin nampak menakutkan.


"Mereka membawa keduanya keluar kota ini, anak buah yang lain sedang mengejar kesana, dan untuk sementara kafe kami tutup sehingga tidak bisa beroperasi lagi." ujar anak buah tadi.


"Saat ini Alfa dimana?" tanya Daffin.


"Bos Alfa sedang menuju lokasi setelah melakukan interogasi kepada mereka."


"Baik, kamu bawa mereka ke kantor polisi sekarang." perintah Daffin.


"Mohon jangan laporkan kami pak, kami akan menunjukkan lokasinya, karena kami sempat mendengar kemana mereka membawanya." ucap sang manager memohon ampun.


"Pak jangan bawa saya ke polisi pak, ibu saat sedang sakit keras, beliau di rawat di rumah saki, saya tidak punya pilihan pak karena ibu saya harus di operasi, jika saya di tangkap polisi maka tidak ada yang mengurus ibu saya pak." ucap sang pelayan menangis teringat ibunya yang masih berjuang di rumah sakit.


"Sebelum bertindak kenapa kamu tidak memikirkan resikonya." Jawab Daffin emosi.


"Daffin biar dia menunjukkan lokasinya, ayo kita ikut mencari." perintah Abian.


"Tidak pa, papa tidak boleh ikut, biar aku yang akan pergi."jawab Daffin.


"Iya mas udah tua, udah nggak segesit dulu, biar kita menjaga yang di sini mas." Dita menyetujui saran anaknya.


"Biarkan om ikut Fin." ucap Dion.


"Om juga di rumah aja, om harus jaga Tante di sini, saya janji akan bawa Ina dengan selamat." jawab Daffin.


"Bawa mereka, dan pastikan ada yang tinggal di sini untuk jaga."perintah Daffin lansung berdiri.

__ADS_1


__ADS_2