
Raka dan Ian telah masuk kekamar pengantin setelah acara selesai. Awalnya keduanya tampak masih gugup. Apalagi dengan apa yang terjadi kepada mereka di masa lalu.
Raka melirik Ina yang duduk di sebelahnya. Dia tau di masa lalu banyak bersalah kepada wanita itu. Namun ia bersyukur karena wanita itu masih mau memaafkan dirinya.
Raka menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Ina. Dia mengambil kedua tangan Ina.
"Maafkan aku yang dulu sangat jahat kepadamu, aku tidak akan berjanji akan menjadi suami yang baik, tapi aku akan membuktikan bahwa aku akan menjadi suami yang baik." ucap Raka menatap Ina.
"Kita lupakan semua, kita tatap masa depan bersama anak kita Zella." jawab Ina tersenyum.
"Anak - anak kita, adek Zella akan menyusul." jawab Raka.
"Aamiin."
"Mandilah dulu, kamu pasti capek."
"Kamu aja dulu, aku mau bersihin riasan wajah terlebih dahulu."
"Baiklah."
Raka beranjak dari teman duduknya menuju kamar mandi. Sedangkan Ina lansung membersihkan riasan wajahnya.
Tidak butuh lama, Raka sudah keluar dari kamar mandi menggunakan sebuah handuk dari kamar mandi. Raka terlihat santai ketika berjalan di hadapan Ina. Dia bahkan memakai bajunya di hadapan wanita itu.
Ina lansung masuk kekamar mandi tanpa melihat suaminya. Dia ingin segera mandi agar tubuhnya fresh kembali.
Setelah 15 menit akhirnya Ina membuka pintu kamar mandi. Kepala mengintip dari kamar mandi. Ia telah lupa membawa baju kedalam kamar mandi.
__ADS_1
Ketika tidak melihat Raka di dalam kamarnya membuat Ina lansung keluar. Namun ketika ia baru saja berjalan beberapa langkah, Raka masuk ke kamar.
Karena terlanjur terlihat, Ina hanya berpura pura biasa aja. Dia juga menyadari bahwa suaminya berhak melihat semua yang ada di tubuhnya.
Raka agak kaget ketika melihat tubuh Ina yang hanya di baluti handuk. Dia masih mengingat dengan jelas bagaimana tubuh wanita itu. Dia bahkan tidak pernah bisa melupakan tubuh wanita itu setelah kejadian itu.
"Nggak usah pakai baju lagi." ucap Raka sudah berada di hadapan Ina.
"Kamu..kamu.."
"Bolehkah aku meminta hak aku sekarang?" tanya Raka menatap Ina dengan lembut.
Mendengar ucapan Raka membuat Ina agak kaget. Namu ia segera menenangkan dirinya karena ia tau bahwa ini akan terjadi diantara mereka.
"Semua yang ada di tubuhku ini adalah hak kamu mulai hari ini, jadi kamu berhak untuk mengambil hak kamu." jawab Ina.
Setelah itu terjadilah apa yang harusnya terjadi dimana seharusnya apa yang di lakukan oleh pengantin baru.
...****************...
Sementara diluar sana Abian, Dita, Dion,Feby, Galuh, Siska, dan Alan dan Bella nampak duduk di meja makan. Mereka nampak makan malam bersama sambil menghabiskan waktu bersama.
"Akhirnya kedua anak kamu menikah dan bahagia." ucap Siska memulai pembicaraan.
"Alhamdulillah." jawab Feby.
"Terima kasih atas bantuannya semuanya." ucap Dion berterima kasih kepada para sahabatnya.
__ADS_1
"Dan sepertinya anakmu juga udah udah dalam genggaman Beby." ucap Dita tertawa kepada Siska.
"Alhamdulillah, tinggal nunggu cucu berikutnya." jawab Siska
"Kabarnya Aya mau menikah, itu gimana?" tanya Galuh kepada Abian
"Iya, tapi tidak dalam waktu dekat." jawab Abian.
"Abang nggak selidiki pacar Aya bang?" tanya Alan kepada Abian.
"Pastinya."
"Sayang sekali Aya nggak berjodoh dengan Azzam." ucap Alan agak bersedih.
"Hey sebelum janur kuning melengkung artinya dia belum tentu jodoh dengan pacarnya." ucap Siska menyemangati Alan.
"Kamu nggak sedang ingin anakmu jadi menantuku karena tidak bisa memiliki Dita kan?" tanya Abian sambil tersenyum mengejek.
"Ya nggaklah, aku bersyukur karena aku di pertemukan dengan Bella istri ku yang tercinta." jawab Alan lansung mengecup pipi Bella.
"Apaan sih bang Bian ini." tegur Bella.
"Entah, Ngadi - Ngadi aja dia, udah tua masih aja kayak gitu." tegur Dita.
"Walau tua tapi kamu masih puas kan ketika di ranjang?" tanya Abian tersenyum mesum.
"Apaan sih." ujar Dita mencubit tangan suaminya. Sedangkan yang lainnya tertawa mendengar rayuan dan candaan Abian kepada istrinya.
__ADS_1