Terjebak Cinta Dua Saudara

Terjebak Cinta Dua Saudara
Bab 38


__ADS_3

Tidak lama setelah keduanya tertidur, nampak dua orang masuk kedalam. Dan salah satunya adalah pelayan yang mengantar makanan tadi. Dan yang satunya lagi adalah seseorang lelaki.


Yang lelaki sibuk menelepon seseorang sedangkan yang menjadi pelayan nampak sibuk memeriksa keduanya.


Tidak lama kemudian masuk lagi dua orang lelaki memakai baju jas hitam. Lelaki ini nampak gagah dari cara berpakaiannya. Dia tersenyum melihat hasil kerja anak buahnya saat ini.


"Bawa mereka dan sekap di hutan tempat biasa." ujar lelaki itu sambil tersenyum.


Anak buahnya membawa keduanya melewati pintu belakang. Pintu tersebut sudah di siapkan oleh pelayan yang bekerjasama dengan pemilik kafe tersebut.


Mereka membawa Raka dan Ina dengan sangat hati-hati. Mereka tidak ingin ada yang mencurigai pergerakan mereka.


Setelah sampai di mobil, lelaki itu mengikat dan memberi lakban di mulut keduanya. Mereka lalu membawa keduanya jauh dari perkotaan.


Raka terbangun dari tidurnya, namun ia masih terlihat lemas. Tidak ada yang tau bahwa Raka sudah terbangun. Raka kaget saat melihat dirinya sedang di dalam mobil bersama dengan Ina.


Raka tetap tenang agar tidak mencurigakan kedua lelaki yang menculiknya saat ini. Dia memperhatikan jalan kemana arah jalan ini. Dia mencoba menghafal jalan ini agar memudahkan dirinya nanti saat melarikan diri.


Dia melihat ke arah Ina dengan perlahan. Namun ia masih melihat Ina sedang tertidur. Akan tetapi ia bersyukur wanita tu masih tidur. Karena jika tidak maka dia yakin wanita itu akan berteriak histeris.


Raka melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 8 malam. Ia ternyata sudah tertidur dua jam lebih. Raka yakin bahwa dirinya saat ini sudah berada di kota lain.


"Kemana mereka membawa saya? siapa yang menyuruh mereka?" tanya Raka dalan hatinya.


Mobil telah berhenti di suatu tempat. Tempat ini nampak gelap sekali. Cuma ada penerangan seadanya saat ini. Raka melihat keadaan sekeliling saat ini. Dia melihat bahwa dia sudah berada di tengah hutan.

__ADS_1


"Ini bukan seperti kebun milik warga, apa ini kebun milik pribadi? tapi kebun ini posisinya di tengah hutan." ucap Raka dalam hatinya.


Dia melihat beberapa pohon karet. Walaupun dia tidak sering melihat pohon ini namun dia pernah melihat kebun ini sewaktu sekolah saat jelajah hutan dengan teman-teman di sekolah.


"Hey bangun, ayo bangun." ujar salah seorang membangunkan Raka dan Ina.


"Ayo kalian jalan, enak aja kalian tidur dari tadi." ucap lelaki yang lainnya.


Ina belum juga membuka matanya sedangkan Raka sudah membuka mata. Dia mencoba membangunkan Ina agar kedua lelaki ini tidak emosi.


"Ina bangun." ujar Raka dengan lembut.


Ina membuka matanya dengan perlahan. Setelah melihat kedua lelaki di hadapannya dan bertambah tempat yang gelap membuatnya berteriak histeris.


"Aaaaaaaaaaa." mencoba teriak padahal mulutnya terlakban.


"Siapa mereka? apa mereka suruhan Raka?" tanya Ina dalam hati.


"Awas kamu Raka, aku akan balas kamu, ternyata kamu hanya memanfaatkan aku." ujarnya lagi.


"Ayo keluar, jangan bengong aja." Lelaki yang berbadan kecil menarik Ina.


Saat berjalan menuju sebuah rumah di tengah hutan, Ina kaget saat melihat Raka juga di ikat dan di bawa jalan oleh lelaki bertubuh besar.


"Jika dia ada di sini, jadi siapa pelakunya?" tanya Ina dalam hatinya.

__ADS_1


Mereka di bawa kedalam sebuah rumah. Lalu keduanya menarik mereka masuk kedalam sebuah kamar yang tanpa isi.


"Nikmati tidur malam kalian karena besok pagi jam 4 kalian akan di habisin oleh bos kami." ucap lelaki itu dengan keras.


"Buka aja mulutnya karena tidak ada guna juga mereka teriak." ide seseorang dari salah satu penjahat itu.


Raka dan Ina hanya diam mengikuti perintah lelaki itu. Raka sengaja untuk belum melawan karena ada sedang berusaha memulihkan tenaganya saat melawan mereka nanti.


Setelah sampai di kamar mereka menutup pintu kamar tempat mereka disekap. Raka memperhatikan Ina seketika. Saat Raka memperhatikan wajahnya, namun Ina juga melihatnya.


Tampaknya keduanya hanya saling diam tanpa bisa bicara. Keduanya nampak segan sama segan.


"Maaf malah membawa kamu ke sini, aku akan usahain kabur bersama mu."


"Nggak apa - apa, mungkin ini takdir." jawab Ina.


"Harusnya kita mencari Zella tapi malah terjebak di sini." jawab Raka sedih.


"Iya, aku takut Zella kenapa - Napa KA." ujar Ina.


"Dia tidak akan kenapa - kenapa." ujar Raka.


"Kenapa kamu seyakin itu?" tanya Ina kepada Raka.


"Karena saya yakin jika mereka juga yang mencukik Zella , malam ini bagaimana pun kita harus bisa lepas tali ini agar besok kita bisa kabur sebelum mereka membantai kita." ucap Raka membuat Ina juga bersemangat untuk mencoba melepaskan tangannya.

__ADS_1


m


__ADS_2