Terjebak Cinta Dua Saudara

Terjebak Cinta Dua Saudara
Bab 34


__ADS_3

Beby tidak kuat lagi untuk melanjutkan langkah kakinya lagi. Saat dia membalikan badannya, ia tidak sengaja menyenggol pot bunga di sudut ruangan tempat dia bersembunyi.


Prangggg


Suara pecahan pot bunga tersebut membuat Ina dan zayyan menoleh ke arah suara. Mereka kaget melihat Beby sedang mencoba berjalan. Wanita itu tampak tidak kuat melangkahkan kakinya.


Zayyan berjalan Mendekatinya karena merasa ada yang aneh dengan jalan Beby. Saat sampai di hadapan Beby, ia kaget melihat wanita itu menangis sambil berjalan.


"Beby, kamu kenapa?" tanya Zayyan yang merasa aneh melihat Beby berjalan oleng seperti itu.


Dia tau bahwa kemungkinan wanita ini mendengar pembicaraannya dengan Ina. Walaupun begitu Zayyan tetap membantu Beby karena baginya Beby adalah istri sahnya.


Namun Beby menolak di bantu oleh Zayyan. Dia tidak ingin di bantu oleh lelaki itu sama sekali.


"Aku bisa sendiri."


Beby berjala. kembali namun hanya beberapa langkah ia hampir saya terjatuh. Ina dengan cepat berlari membantu Beby.


"Dek masuk dulu kedalam agar lebih jelas, ayo Kakak bantu." Ina mencoba membantu Beby berdiri.


"Aku bisa sendiri, dan tolong jangan merasa sok kasihan dengan saya, karena kamu juga bukan siapa-siapa aku." ucap Beby dengan kesal.


Beby sampai saat ini memang belum tau bahwa Ina adalah kakak angkatnya. Ia saat ini sedang berbicara asal karena sakit hatinya.


"Beby jaga bicaranya." tegur Zayyan.


Beby hanya diam tanpa membalas ucapan Zayyan. Dia mencoba untuk berdiri lalu berjalan dengan hati - hati.


Beby tidak ingin mendengar penjelasan dari siapapun karena dia mendengar semuanya dengan jelas. Dia tau bahwa suaminya menyukai kakaknya dari dulu. Akan tetapi dia tetap memutuskan untuk memilih Zayyan karena ia ingin merasakan perjuangan cintanya.


Tetapi dia merasa lucu ketika dirinya malah menangis seperti ini. Dia merasa bahwa ini juga salah dirinya karena memang dirinya lah yang memaksakan hal ini terjadi.


Zayyan mengikuti Beby dari belakang. Ia tidak bisa mendekati wanita itu karena bisa membuat wanita itu semakin marah. Dia tidak ingin hal itu terjadi saat ini.


Sedangkan Ina hanya mematung menyaksikan semuanya.Dia tidak menyangka Zayyan malah menyukainya. Dia kesal kepada adik iparnya itu yang tidak bisa menempatkan diri. Dia tidak percaya bahwa lelaki itu menyukainya.


Ina merasakan bahwa perasaannya kepada Zayyan hanya perasaan kakak dan adik. Perasaan sukanya kepada lelaki itu hanya seperti itu.


"Itu yang kamu maukan?" ucap seseorang tiba-tiba berada di belakang Ina.


Ina cukup kaget saat melihat lelaki yang dicarinya dari kemarin. Dia tidak menyadari kehadiran lelaki itu.

__ADS_1


"Kamu?"


"Kenapa? kamu kangen aku?" tanya Raka tersenyum.


"Kamu ini memang penghancur hubungan, mana ada kakak yang seperti itu."ucap Raka dengan nada mengejek.


Ina tidak peduli dengan ucapan Raka, saat ini yang penting baginya di mana keberadaan anaknya.


"Dimana Zella? dimana kamu menyembunyikannya?" ucap Ina lansung mendekat ke arah Raka sambil marah.


"Mengalihkan topik, Zella mana pula itu, mana ku kenal." ucap Raka yang tidak paham dengan ucapan Ina.


"Kamu jangan pura-pura tidak mengerti, katakan di mana Zella, jika tidak kami akan melaporkan ke polisi " ancam Ina.


"Silahkan, apa mau aku temani kekantor polisi?" tanya Raka kepada Ina sambil tersenyum mengejek.


"Kamu jangan bertele-tele, jangan kamu pisahkan aku dengan Zella."ucapnya sambil memukul dada lelaki itu karena masih bisa tenang dan mengejeknya.


Raka menangkap tangan Ina. Saat ini dia memang ingin bertemu Zayyan setelah pulang tadi malam. Namun ketika dia datang dia menemukan tontonan yang menghiburnya. Dia memanfaatkan situasi untuk mengejek Ina.


"Hey kamu dengar aku, aku benar tidak tau siapa Zella." ucap Raka dengan serius.


"Zella adalah anakku, kamu pasti mengambilnya kan?" tanya Ina marah.


"Semua orang memperhatikan kita, mari kita cari tempat." ucap Raka.


"Aku tidak peduli, cepat kembalikan Zella." ujar Ina bersikeras tidak mau pergi.


"Zella tidak bersamaku, sejak kapan pula aku membawanya, dia bersama kamu, bahkan binatang saja tidak akan pernah menyakiti anaknya, sekarang kamu menghilangkan Zella dan menuduh aku sebagai dalangnya, ironis."jawab Raka menjadi kesal.


"Aku melihat mobil kamu yang membawa Zella." ucap Ina membuat Raka sangat kaget.


"Mobil aku? hey kemaren aku sedang keluar, aku tidak di sini."


"Aku yakin itu hanya akal - akalan kamu saja agar kami tidak mencurigai kamu."


"Tapi itu benaran, aku tidak bohong, aku bisa melihat bukti bahwa itu benar mobil aku?" tanya Raka juga mulai kuatir karena bagaimanapun anak itu tetap darah dagingnya.


"Baik jika kamu masih mengelak, mari kita kerumah." ajak Ina.


Mereka berjalan meninggalkan kantor. Mobil mereka melaju menuju rumah kediaman Ina. Mereka menggunakan mobil masing-masing karena Ina tidak mau satu mobil dengan Raka.

__ADS_1


Ketika di perjalanan Ina menghubungi papanya. Ia takut jika papanya tidak di rumah saat ini. Dia tidak mau berduaan dengan lelaki itu.


"Halo na."


"Hallo pa, saat ini aku dan Raka menuju rumah, lelaki itu menyangkal bahwa dia tidak menculik Zella, papa ada dirumah?"


"Bawa dia ke kediaman keluarga Arkarna." perintah Dion.


Ina membawa mobilnya menuju rumah kediaman Keluarga Arkarna. Dia tau bahwa papanya sedang meminta bantuan om Abian atau bang Daffin.


Raka merasa jalan yang dia tempuh bukanlah jalan menuju rumah Ina. Dia yakin bawa ini jalan menuju ke rumah kediaman keluarga Arkarna.Tapi dia tidak takut sama sekali. Karena ini menyangkut soal anaknya.


Mereka telah masuk ke gerbang kediaman keluarga Arkarna.Raka dan Ina masuk kedalam rumah mewah tersebut. Semua mata tertuju kepada Raka.


"Akhirnya kamu datang juga." ujar Dion sudah tidak sabar untuk menghajar lelaki itu.


"Tahan Dion." tegur Abian.


Abian adalah orang yang tidak gegabah. Dia sudah memikirkan dengan matang tanpa kekerasan.


"Jadi benar bukan kamu pelakunya?" tanya Abian dengan tenang.


Raka pernah mendengar cerita lelaki ini di masa muda. Melihat Abian membuat Raka benar - benar suka dengan lelaki itu. Lelaki yang berwibawa tinggi. Dia terkenal sangat bijak dalam mengambil keputusan saat di masa muda.


"Aku kemaren sedang keluar negeri, dan saya yakin bapak bisa cek kepergian saya beberapa hari, saya yakin bapak akan lebih gampang melacak apa yang bapak inginkan.


"Baik, coba kamu liat video ini." ucap Abian membawa Raka masuk.


Salah satu anak buahnya memberikan laptop ke tangan Abian. Abian memutar video CCTV yang di minta. Raka sangat terkejut karena di dalam video tersebut memang benar mobil miliknya. Dia mengepalkan kepala tinjunya. Dia yakin bahwa ini adalah kerjaan dari salah satu anak buahnya.


"Apa ini kerjaan Diva?" tanyanya dalam hati.


"Baik, saya sudah melihat semuanya dengan mata kepala saya sendiri, saya berjanji akan menyelidiki masalah ini, saya yakin ini pekerjaan orang terdekat saya." ucap Raka.


"Ini bukan akal - akalan kamu lagi kan?" tanya Dion menuduh.


"Om tenang aja, bagaimana pun anak itu anakku walau aku tidak mengakuinya." ujar Raka membuat Dion semakin marah.


Dion lansung melayangkan kepala tinjunya ke wajah Raka.


"Jika kamu tidak mengakui anak itu kenapa kamu malah membuatnya." ujarnya marah.

__ADS_1


Yang lain hanya membiarkan Dion meninju Raka. Mereka tau bahwa lelaki itu sedang melampiaskan kemarahannya. Mereka akan menahan Dion jika sudah di anggap berlebihan.


"Aku sudah bilang bahwa itu hadiah yang sama untuk kamu lakukan kepada ibu saya." ujar Raka tersenyum.


__ADS_2