
Dion melihat Raka keluar dari kantornya. Saat keluar dari kantornya dia lansung menghajar Raka dengan membabi buta. Raka yang kaget tidak siap menangkis pukulan itu.
"Apa - apaan ini?" tanya Raka tidak terima.
"Kamu lelaki brengsek, beraninya kamu menghancurkan anak saya." ucap Dion ingin menghajar Raka lagi.
Namun Raka tidak mudah untuk di pukul kedua kalinya.Raka memelintir tangannya Dion.
"Ini juga yang loe lakukan ke ibu gua." ujar Raka dengan marah
Security telah berlari menghampiri tempat keributan.Namun Raka menyuruh mereka agar tidak ikut campur.
" Saya tidak pernah melakukan apa pun kepada ibu kamu."ucap Dion menjelaskan kepada Raka.
"Saya tidak akan percaya dengan penjelasan Anda." jawab Raka.
"Terserah kamu, Saya juga tidak memaksa anda untuk percaya kepada saya, akan tetapi kamu sudah besar dan pintar, masa kamu tidak bisa mencari kebenarannya sendiri." ucap Dion meninggalkan kantor Raka dengan kesal.
Dia tidak menyangka bahwa mantan kekasihnya akan kembali untuk balas dendam. Yana yang dia anggap baik ketika SMA berubah menjadi jahat hanya karena cinta.
Dion membawa mobilnya menuju rumah besarnya Galuh. Dia ingin memastikan bahwa Beby baik-baik saja di sana.
Mobil melaju dengan kecepatan tenang, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Yang menelponnya adalah Feby Sanga istri.
"Hallo sayang."
"Hallo mas, Zella di culik mas." ucap Feby sambil menangis.
"Kenapa bisa?"
"Tadi ada yang datang lalu mengambil Zella yang baru pulang mengaji."
"Baik, kamu jangan kuatir, aku akan mencarinya dan meminta bantuan pak Abian."
"Iya mas, soalnya kita tidak akan bisa lapor polisi sebelum 24 jam."
"Ya, mas akan pulang, kamu tunggu mas, kamu jangan telpon Ina dulu, nanti dia panik." ucap Dion menasehati istrinya.
"Iya mas."
Dion lansung memacu mobilnya menuju rumahnya. Dia mengusap wajahnya dengan gusar.Masalah yang satu belum selesai tapi masalah kedua sudah muncul.
Dion yakin bahwa hubungan penculikan ini juga ada hubungannya dengan Raka. Raka pasti belum puas jika keluarganya masih dalam keadaan baik-baik saja.
Dion telah sampai di rumahnya. Ia memarkir mobilnya di depan rumah. Ia masuk dengan agak berlari.
"Kenapa bisa hilang? kamu dah cari kemana aja?" tanya Dion kepada istrinya yang duduk di ruang tamu beserta para pembantunya.
"Tadi kata guru ngajinya masih ada, dia sudah pulang, tapi belum sampai rumah."
"Emang nggak ada yang jemput?" tanya Dion.
"Terkadang memang Zella pulang sendiri bersama teman - temannya mas sebelum di jemput, aku memang biarin agar dia bisa pulang sendiri, masalahnya dekat."
"Iya tapi keluarga kita sedang dalam masalah, Yana tidak akan puas jika belum melihat keluarga kita hancur."ucap Dion keceplosan.
"Yana?" tanya Feby kaget saat nama Yana di sebut oleh Dion.
"Kamu harus tau, Yana saat ini sudah kembali, dia ingin balas dendam kepada kita lewat anaknya, dan anaknya itu adalah Raka." ujar Dion menjelaskan.
"Jadi Raka itu adalah anak Yana? astaghfirullah maaf, kenapa takdir kita harus seperti ini?" Feby menangis ketika hidupnya harus di bayang - Bayangi dengan masa lalu lalu.
"Kamu yang tenang, yang jahat tidak akan memang melawan, Allah punya cara membalas semuanya." ucap Dion.
"Lagian Yana tidak mungkin melukai cucunya sendiri, bagaimana pun Zella adalah anak dari Raka anaknya." ucap Dion lagi.
__ADS_1
"Tapi papa yakin bahwa penculiknya adalah Raka?" tanya Feby.
"Papa yakin sekali, soalnya selama ini kita tidak punya musuh selain dia, jika bukan dia lagunya adalah anaknya Raka."
"gimana jika Raka merebut hak asuh Zella pa?" tanya Feby dengan kuatir.
"Dia tidak akan bisa merebut Zella, karena Ina mendaftar namanya di akte kelahirannya, tidak ada nama lelaki itu di akte Zella."
"Pa aku takut."
"Ayok kita kerumah Dita meminta bantuan."
"Kita nggak ngabarin besan kita?"
"Nggak usah, nggak enak merepotkan mereka muku, lagian nanti kasihan jika Beby tau dan dia baru menikah." ucap Dion.
"Beby akan marah jika dia tidak di kasih tau mas."
"Ya sudah, nanti kita hubungi ya, sekarang berangkat dulu." ujar Dion.
Dion dan istri keluar dari rumah. Mereka berjalan menuju mobilnya. Dion membawa mobilnya menuju kediaman utama keluarga arkarna.
Ketika mereka masuk kedalam rumah mewah keluarga Arkarna, Dion dan Feby di sambut oleh Dita dan Suami serta anak dan menantunya.
"Ada apa by?" tanya Dita merasa ada yang tidak beres dengan mata sahabatnya.
"Dita Tolong kami, Zella hilang, kemungkinan besar dia diculik." jawab Feby sambil menangis.
"Tenang dulu, ayo duduk." ajak Dita membawa sahabatnya duduk di kursi jati mewah.
"Zella di culik, aku yakin penculiknya adalah Raka atau Yana." ujar Dion menjelaskan agak tenang.
"Maksud om Raka berulah lagi?"tanya Daffin kepada Dion.
"Iya, tadi om sempat kekantor dia dan memukulnya." ujar Dion.
"Berdamai dengan masa lalu? hey tidak seorang ayah pun bisa membiarkan lelaki itu hidup dengan tenang setelah apa yang dia lakukan terhadap keluargaku." jawab Dion tidak terima di salahkan.
"Kamu sama saja dengan Raka, yang datang untuk balas dendam, lalu apa ubahnya kamu dengan Yana itu dan anaknya?" tanya Feby tidak suka ketika Dion membuka luka lama lagi.
"Udah bisa diam nggak? kita tidak akan fokus jika kalian sibuk saling menyalahkan."tegur Abian papa Daffin.
"Iya om dan Tante, kita tidak akan busa berpikir dengan tenang jika ada saling menyalahkan begini, mari kita cari solusi untuk kepentingan bersama." teenage Daffin.
"Assalamualaikum." ucap Galuh bersamaan dengan Siska.
Semua kaget saat melihat tamu hari ini. Mereka adalah besan Feby dan Dion.
"Ada apa ini?" tanya Siska dengan kaget melihat sahabatnya menangis.
"Zella di culik, ini sedang mikirin bagaimana bicara mengungkap penculiknya." jawab Dita.
Daffin nampak sibuk menghubungi seseorang di sebrang sana. Ia tampak serius sekali saat ini.
"Semua anak buah saya sudah saya kerahkan untuk memeriksa CCTV jalan kota, jadi harap bersabar, semoga kita menemukan bukti-bukti dengan cepat sehingga bisa menjebloskan pencurinya."Daffin menjelaskan.
"Haduwj jahat juga tu orang beraninya culik anak kecil aja." ujar Aya yang dari tadi diam.
"Mezza tolong ambilkan mama air hangat." perintah Galuh kepada anaknya.
Dia tau bahwa istrinya agak shock mendengar berita ini. Belum selesai masalah lama tapi sudah ada masalah baru.
"Beby gimana? apakah Zayyan mau menerima dia?" tanya Dion kuatir kepada anak keduanya.
"Beby baik - baik saja sama Zayyan, mereka nampak akur - akur aja." jawab Galuh.
__ADS_1
"Syukurlah jika memang baik - baik saja, semoga rumah tangga mereka awet." doa Febby.
"Aamiin jawab semuanya.
...****************...
Sedangkan di kamar milik Zayyan, dia dan Beby sedang asyik bermain game. Beby sibuk dengan gamenya begitu juga dengan Zayyan.
Mereka berdua saling diam ketika di kamar. Ketika biasa ketika bersama keluarga, Mereka akan nampak bahagia sekali. Keduanya tidak segan saling merangkul bahkan saling berpegangan tangan.
Beby sebenarnya sudah mulai bosan. Akan tetapi dia malas bicara dengan Zayyan. Akan tetapi jika tidak bicara maka dia akan dilanda kejenuhan dalam waktu lama.
Beby ragu berbicara dengan lelaki itu. Dia tau bahwa lelaki itu akan menanggapinya sekadarnya.
Begitu juga dengan Zayyan, dia melihat Beby semakin pendiam semenjak menikah. Padahal dia tahu bahwa biasanya Beby tidak pernah bisa diam. Dia tetap berbicara panjang walaupun Zayyan kurang menanggapinya.
Zayyan kangen melihat kehebohan dalam diri Beby. Namun yang dia lihat wanita itu malah asik menikmati gamenya.
"Kamu kapan mulai ngantor?" tanya Beby memulai pembicaraan.
"Emang kenapa?" tanya Zayyan dengan ekspresi dingin.
Dia menyesali ekspresi dingin yang diberikan. Dia tidak seharusnya menjawab seperti itu.
"Tanya aja, emang nggak boleh tanya?" tanya Beby mulai kesal.
"Jangan terlalu kepo nanti menyakitkan." jawab Zayyan lagi.
"Lidah kenapa jawab begitu?' tanya Zayyan dalam hati.
"Ya udah jika kepoin suami sendiri aja nggak boleh." jawab Beby membaringkan tubuhnya lalu membelakangi Zayyan.
Zayyan kaget saat Beby membelakanginya. Dia tau bahwa wanita itu sedang mengambek. Dia tidak tau harus berbuat apalagi.
Zayyan mencoba untuk pura - pura tidak peduli. Hal itu membuat Beby semakin sakit hati. Beby lansung membalikkan badannya lalu lansung memukul dada Zayyan dengan membabi buta.
"Hey apa - apaan ini?" tanya Zayyan mencoba mencegah semua itu.
"Kamu jahat, nggak pernah peduli dengan ucapan. aku, setidaknya jika kamu memang tidak peduli cukup berpura-pura peduli saja, apa susahnya sih berpura-pura." ucap Beby kesal.
"Udah, aku sedang sibuk, harap jangan menggangu dengan hal yang tidak penting kayak gitu."jawab Zayyan makin membuat luka hati Ina menganga kembali.
"Terserah kamu saja, aku juga butuh waktu sendiri, dan aku tidak akan pernah mengacau seperti ini." ucap Beby bangun dari tidurnya.
Beby berjalan menuju kamar mandi. Dia menghidupkan kran air lalu dia menangis sejadi-jadinya. Dia berpikir ketika menikah dengan Zayyan maka lelaki itu akan mencintainya, akan tetapi lelaki itu malah menunjukkan sikap yang arogan menurutnya.
Zayyan heran ketika Beby belum juga keluar dari kamar mandi. Wanita itu tampak agak lama keluar dari kamar mandi.
"Ngapain dia lama - lama si kamar mandi?" gumamnya.
"Nggak biasanya dia seperti itu."pikir Zayyan.
Zayyan berdiri dari tempat tidurnya untuk memeriksa Beby. Dia berdiri di depan pintu kamar mandi lalu mengeruk pintu kamar mandi.
tok tok tok.
"Beb ngapain kamu di dalam?" tanya Zayyan.
"Aku sedang sakit perut,tunggu sebentar." ucap Beby dari kamar mandi.
"Kamu nggak kenapa - Napa?" Tanya Zayyan kuatir.
"Enggak, kamu sana main game aja, nggak usah peduli." ucap Beby dari dalam.
Mendengar Jawaban Beby membuat Zayyan sedikit kesal.
__ADS_1
"Ah di perhatikan salah, nggak di perhatikan juga salah " gumam Beby kesal.
Zayyan duduk kembali ke sisi tepi ranjangnya. Dia duduk sambil membuka ponselnya kembali.