
Ina berdiri di depan pintu kamar perawatan Beby. Dia tidak jadi masuk kedalam karena melihat Zayyan ada di dalam. Ina melihat Zayyan tertidur di sebelah Beby.
Entah kenapa hati Ina merasa sakit ketika melihat Zayyan tertidur di sebelah Beby. Dia juga bingung dengan apa yang ia rasakan saat ini.
Dia melihat bagaimana Zayyan melindungi dirinya. Hatinya tersentuh ketika Zayyan kemaren melindungi. Akan tetapi hatinya hancur saat melihat adiknya melindungi lelaki itu.
"Ina ngapain berdiri di situ?" tanya Feby yang baru datang.
Ina kaget saat mengetahui bahwa mamanya berdiri di belakangnya. Ina lansung membalikkan badannya dan tersenyum kepada mamanya.
"Tadinya mau liat kondisi Beby ma, tapi ada suaminya jadi segan." ucap Ina.
"Boleh mama bicara?" tanya Feby kepada anaknya.
"Boleh ma." jawab Ina.
Feby berjalan menuju kursi yang kosong di ikuti oleh Ina.
"Ada apa ma?" tanya Ina pemasaran.
"Mama mau bertanya sesuatu, sebenarnya mungkin ini belum tepat, tapi mama mau memastikan secepatnya biar semua jelas." ucap Feby membuat Ina kaget dengan pertanyaan mamanya.
"Kamu suka dengan Zayyan?" tanya Feby membuat Ina semakin kaget dan agak takut.
"Kenapa mama bertanya seperti itu?" tanya Ina sambil mengerjapkan matanya.
"Kamu tinggal jawab pertanyaan mama." jawab Feby dengan ketus.
Ina tidak tau apa yang di rasakan kepada Zayyan. Dia sudah pernah menanyakan isi hatinya. Dia hanya menyukai Zayyan sebagai kakak. Tapi hari kemaren membuat dia terenyuh dengan pengorbanan Zayyan.
Lelaki yang sudah menjadi adik iparnya itu sangat peduli kepadanya sejak dulu. Ina merasakan kecemburuan kepada Beby hari ini. Selama ini dia biasa saja ketika melihat mereka berdua.
"Kenapa kamu diam? apa artinya kamu menyukai dia?" tanya Feby menatap anaknya dengan tajam.
"Aku tidak tau ma, aku hanya menganggap dia sebagai kakak, namun hari kemaren membuat mata aku terbuka bahwa selama ini yang di inginkan Zayyan adalah aku." ucap Ina dengan jujur.
"Zayyan menginginkan kamu?" tanya Feby menatap dengan tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Zayyan sering bilang begitu sama Ku, namun aku tidak pernah menanggapinya, dan karena Beby juga suka sejak dulu maka aku tidak peduli dengan Zayyan."
"Lalu?"
__ADS_1
"Ma apakah salah jika aku suka dengan dia?" tanya Ina membuat Feby murka.
"Tentu salah karena dia adik ipar kamu."
"Nah aku tidak akan melakukan hal yang seperti itu, jangankan suami adik, bahkan suami wanita lain pun tidak akan ku ganggu ma."
Feby agak lega mendengar ucapan anaknya itu.
"Mungkin sebagai manusia aku hanya cemburu dengan Beby ma, dia hidupnya beruntung lahir dari rahim mama, lalu dia menikah dengan sempurna, walaupun dia seperti mengejar cinta Zayyan, tapi aku yakin ma bahwa Zayyan juga mencintai dia, namun dia belum menyadari karena gengsi." jawab Ina.
"Kamu jangan bicara seperti itu, bagi mama kamu buah hati mama yang pertama, tanpa kamu mama dan papa tidak tau saat itu." Feby memeluk anaknya.
"Kamu jangan cemburu sama Beby, kamu juga punya kehidupan, mama yakin suatu saat nanti kamu akan menemukan kebahagiaan kamu." ucap Feby lagi.
"Sebenarnya memiliki mama, papa dan Zella adalah keberuntungan aku ma, aku saja yang kurang berhati-hati." jawab Ina.
Ketika Ina menyebut nama Zella, Feby teringat dengan cucunya yang sudah ditemukan.
"Oh iya anak kamu Zella sudah ditemukan boleh polisi." ucap Feby tersenyum.
"Dimana Zella sekarang ma?" tanya Ina tidak sabar bertemu anaknya.
"Dia sama papa tadi menuju kamar inap kamu, kembalilah mama mau melihat Beby dulu."
Ketika Ina kembali ke kamarnya, Feby berjalan menuju ruang perawatan Beby. Feby melihat Zayyan masih tertidur sambil duduk. Dan yang membuat Feby kaget adalah ketika melihat Beby memandang Zayyan yang sedang tidur.
Feby membuka pintu kamar tersebut. Beby yang kaget hendak memejamkan matanya kembali. Namun semua urung di lakukan karena mamanya sudah melihatnya.
"Beby jadi kamu udah sadar?" tanya Feby senang melihat anaknya sudah sadar.
"Iya ma, ini Beby di mana ma?" tanya Beby.
"Kamu di rawat di rumah sakit dari kemaren."
"Zayyan bangun, Beby sudah bangun nak." Feby membangunkan Zayyan karena saking senangnya.
Zayyan terbangun karena mendengar suara mama mertuanya. Zayyan mengucek matanya seakan tidak percaya ketika melihat Beby sudah bangun. Dia tersenyum senang melihat Beby sudah membuka matanya.
"Alhamdulillah akhirnya kamu sadar juga." ucap Zayyan dengan senang.
Namun orang yang ada di depannya hanya diam tanpa ekspresi. Wanita itu juga hanya diam tanpa menjawab ucapan Zayyan.
__ADS_1
"Kabar bahagia ini harus di sampaikan kepada yang lain, Zayyan panggil dokter." ucap Feby.
Zayyan berlari memencet tombol yang tidak jauh dari tempatnya. Tidak lama kemudian sang dokter dan perawat masuk ke dalam ruang tersebut.
"Alhamdulillah ibu sudah siuman,permisi saya mau cek dulu." ucap sang dokter.
Dokter memeriksa kondisi Beby. Dia tersenyum karena memang setelah selesai operasi, kondisi Beby memang baik - baik saja.
"Alhamdulillah kondisi pasien semakin membaik." ucap sang dokter.
"Kapan kita - kira bisa di bawa ke rumah sakit pusat? agar memudahkan kami menjaganya." ucap Zayyan.
"Mungkin besok sudah bisa di bawa pak." jawab sang dokter.
"Baik dok, terima kasih." jawab Zayyan.
"Baik pak kamu permisi dulu, jika ada yang di bantu silahkan cari kami pak." ucap sang dokter berpamitan.
Feby senang karena anaknya akan di pindahkan ke ruang kamar biasa. Dia dan keluarganya akan bisa berkumpul menjaga anaknya. Zayyan juga begitu senang sampai ia tersenyum memandang Beby. Namun orang yang di pandangnya hanya terdiam murung tanpa mau melihatnya.
"Kamu kenapa nak?" tanya Feby heran melihat anaknya yang nampak murung.
"Nggak kenapa - Napa ma, mungkin aku capek." jawab Beby tersenyum terpaksa.
"Ya sudah kami istirahat lagi, mama menemui papa dulu." ucap Feby mencium kening anaknya.
"Zayyan titip Beby ya." ucap Feby meninggalkan kamar tersenyum.
Setelah mamanya pergi, Beby lansung memejamkan matanya. Zayyan merasa ada yang aneh dengan sikap Beby. Bagi Zayyan pandangan mata Beby tidak seperti biasanya menatap dirinya.
Merasa ada yang mengganjal dalam hatinya membuat Zayyan menjadi bertanya - tanya dalam hati. Dia hanya menatap ke arah Beby yang memejamkan matanya.
"Kamu bisa pergi nggak?" ucap Beby membuat Zayyan agak kaget.
"Kenapa?" tanya Zayyan.
"Pergi saja keluar, dan tolong panggil perawat kesini." ujar Beby.
"Mau ngapain?"
"Bisa nggak usah kepo." ucap Beby membuat hati Zayyan agak terluka.
__ADS_1
Tidak biasanya Beby berbicara ketus seperti itu. Dia tau bahwa jika wanita itu memanggilnya tanpa kakak artinya dia sedang kesal.
"Baiklah kakak akan keluar sebentar." ucap Zayyan berdiri Ndari tempat duduknya.