
Perasaan Ina bergejolak saat ini. Dia tidak tau apa yang di lakukannya. Dia sangat kanget saat mendengar pernyataan Diva tentang Raka dan Papanya. Dia tidak menyangka tentang masa lalu Papanya.
Dia masih tidak percaya bahwa Papanya lelaki baik meninggalkan wanita yang sedang mengandung anaknya demi wanita lain. Ina menjadi paham dengan apa yang dilakukan oleh Raka kepadanya.
Apa yang ia rasakan saat hamil di tinggal Raka maka itulah yang di rasakan oleh ibunya Raka.
Ina kembali pulang ke rumahnya setelah cukup lama duduk di taman. Dia pulang dengan ekspresi yang kurang bagus. Sesampainya di rumah Dia melihat Beby yang sudah berdiri di depan pintu rumah.
"Dari mana aja kakak? kok perginya lama banget? menemui siapa lagi? apa nggak cukup kakak buat susah keluarga ini?" ucapnya kali ini agak pedas.
"Kok kamu ngomong kasar banget." Ina tidak terima dengan ucapan kasar adiknya.
"Apa kamu masih belum mengerti apa yang terjadi dengan keluarga ini, apa kamu masih belum paham juga bahwa keluarga kita selalu punya masalah itu semua karena kamu kak, apa kamu merasa belum cukup semua kami harus kelimpungan mencari kamu, apa begini cara kamu untuk mencari perhatian kami atau para lelaki." ucapan Beby sangat kasar.
"Cukup kamu bicara, saya tidak pernah mau membuat semua orang susah."
"Lalu apakah dengan kejadian tertusuknya aku belum puas kakak? Apakah kakak mau ada korban jiwa dulu baru buka puas." ucap Beby entah kenapa selalu kesal melihat wajah kakaknya akhir-akhir ini.
"Saya tidak punya masalah dengan kamu, saya ini juga korban, semua juga di sebabkan oleh keluarga ini." jawab Ina tidak tahan dengan kata kasar dari Beby.
"Kamu menyalahkan keluarga ini karena kisah cintamu, setelah Raka lalu kamu sengaja menjerat suami aku, apakah kamu sangat suka berbagi ranjang dengan suamiku sehingga dia begitu melindungi kamu." membuat Ina menangis mendengar ucapan Beby.
"Apakah di jam kerja kamu melayani dia? di kantor apa sewa hotel? sama kayak kamu dengan gampangnya menyerahkan diri kepada Raka."
"Beby." Beby melihat ada Zayyan berjalan mendekatinya.
"Hmmmmm pahlawan kamu sudah datang." ejek Beby.
"Jaga ucapan kamu Beby." tegur Zayyan.
"Kenapa? apakah kamu juga tidak puas karena dia tidak bekerja untuk kamu lagi? silahkan bawa dia kembali bekerja di tempat kamu, mau berhubungan suami istri di ruangan kamu, saya juga tidak peduli."
"Cukup Beby." tegur Zayyan lagi.
"Apanya yang cukup?kamu ingin melindungi wanita ***** kesayangan kamu ini, oh iya lupa pasti melindunginya dari ucapan saya, sedangkan nyawa saja kamu berikan untuk dia, berapa kali dia bisa melayani kamu di ranjang? apa karena itu kamu juga tidak pernah mau menyentuh saya? apa karna wanita ini sangat memuaskan nafsu kamu di kantor."
"Beby." Kali ini suara Zayyan agak keras dari tadi.
__ADS_1
"Jika kamu ingin membawa dia untuk melayani kamu saat ini silahkan, saya sediakan kamar di rumah ini jika kalian mau."
plakkkkk
Ina kaget saat Zayyan menampar pipi Beby dengan sangat keras. Sedangkan Beby lansung memegang pipinya yang memerah karena tamparan Zayyan cukup keras ia rasakan.
Air mata Beby mengalir saat lelaki itu menamparnya. Kali ini dia merasakan bahwa lelaki ini melindungi wanita ini sekali lagi di depan matanya.
"Lelaki laknat, beraninya kamu menampar saya." ucapnya memukul tubuh Zayyan tidak beraturan.
Zayyan kaget saat tangannya dengan spontan menampar Beby. Seumur hidupnya ia tidak pernah menampar yang namanya wanita. Dia hanya pasrah saat Beby memukulnya.
Mata Zayyan memerah saat melihat Beby menangis. Dia tidak tau apa yang dia lakukan barusan bisa begitu emosi.
"Sudah Beby, kamu jangan banyak bergerak." ucap Zayyan memegang tangan wanita itu. Namun wanita itu menepisnya.
"Kamu pergi dari rumah aku, pergi." teriak Beby mengusir Zayyan.
"Beb....." ucapan Zayyan terputus saat Beby berteriak.
"Mama, mama tolong Beby." teriak Beby.
Saat di depan pintu masuk ia kaget melihat kedua anaknya dan menantunya menangis. Ia bingung dengan apa yang terjadi di sana.
"Ada apa ini?" tanya Feby masih belum paham situasi.
"Tolong usir dia ma." ucap Beby menunjuk Zayyan.
"Ada apa ini Beby?" tanya Feby.
"Jika mama tidak mau mengusir dia maka biar Beby yang pergi." ucap Beby melangkahkan kaki.
"Beby dengarkan dulu penjelasan kakak." ujar Zayyan mencoba mengejar Beby.
"Saya tidak mau, pergi atau saya yang pergi."
"Baik, biar kakak yang pergi." ucap Zayyan mengalah karena kondisi kesehatan Beby.
__ADS_1
Beby berjalan menuju kamarnya. Feby lansung menatap Ina yang masih berdiri dengan mata berlinang.
"Ada apa ini Ina?"tanya mamanya.
"Beby cemburu ma." jawab Ina tidak menjawab apa yang sebenarnya terjadi karena dia tau adiknya seperti itu karena cemburu.
"Apa kamu pergi dengan Zayyan lagi?" tanya Feby juga pusing dengan kedua anaknya.
Feby tidak mungkin melarang Ina berteman dengan Zayyan. Karena mereka memang juga dekat dengan sejak kecil.
"Tidak ma, aku tidak pergi dengan dia."
"Iya ma, tadi saat saya datang Beby sedang memarahi Ina." ucap Zayyan.
"Masuk dulu." ujar Feby berjalan lalu duduk di kursi tamu.
Zayyan menceritakan apa yang ia nampak dan dengar tadi. Ia agak terkejut mendengar Beby berkata kasar kepada kakaknya.
"Maaf ma mungkin cara aku agak kasar dengan Beby, tadi aku hanya emosi saja mendengar istriku berkata kasar, tapi aku juga salah karena begitu emosi." ucap Zayyan mengaku salah.
"Tidak apa-apa, lain kali coba lebih lembut lagi, menyelesaikan masalah dengan kekerasan tidak akan berhasil, apalagi Beby tipe yang agak keras." ujar Feby menasehati Zayyan sang menantu.
"Iya, kamu tidak perlu menamparnya, Beby begitu karena ia cemburu, dia begitu menyayangi kamu, dia bahkan rela memberikan nyawanya untuk kamu, coba lebih memperhatikan dia, sayangi dia dengan tulus." ucap Ina.
"Terima kasih atas nasihat mama dan Ina, aku akan belajar dengan baik lagi, aku tidak ingin berpisah dengan Beby ma, tolong aku ya ma."
"Mama akan membantu sebisa mama, lain kali datang lagi biarkan dia menenangkan diri dulu."
"Baik ma, aku pamit dulu ma." ucap Zayyan pamit undur diri.
Setelah Zayyan pergi pulang Ina dan Feby masih duduk di ruang tamu. Feby melihat anaknya di depannya nampak sedang menyimpan suatu masalah. Anaknya itu nampak agak tertekan.
"Apakah perkataan Beby sangat menyakitkan?"
"Tidak ma, Beby hanya cemburu, sebagai kakak harusnya aku dari dulu menjaga jarak dengan Zayyan, aku paham apa yang di rasakan oleh Beby ma, dan aku juga paham karakteristik Beby, diluar nampak kasar tapi hatinya sangat lembut." ujar Ina.
"Iya, kamu sabar ya, Beby sangat menyayangi kamu, nanti dia pasti akan menyesali setelah merenung, dia di kuasai kecemburuan." ujar Feby.
__ADS_1
"Ma boleh Ina bertanya?"tanya Ina dengan ragu.