
Setelah selesai pemakaman Yana, Dion beserta Feby dan Ina masih berada di rumah Raka. Dion masih ingin menemani anaknya saat ini. Walau banyak yang terjadi antara dia dan Raka, akan tetapi dia tetap menyayangi Raka sebagai anaknya.
Raka hanya duduk terdiam sepulang dari pemakaman. Para tamu yang melayat telah pulang satu persatu.
Saat ini yang tinggal adalah Dion beserta keluarganya, Abian dengan para pengawalnya dan asisten rumah tangga Raka.
Raka sudah tidak punya sanak saudara lagi dari pihak ibunya. Menurut keterangan ibunya dulu bahwa mereka hanya punya kerabat jauh saja. Itupun sudah jarang bertemu karena mereka berada di kampung.
Raka masih melihat keberadaan Dion. Dia sebenarnya masih malas untuk bertemu dengan lelaki itu. Apapun cerita yang di sampaikan, dia tetap belum menerima bahwa itu adalah papanya. Dia belum bisa untuk bertegur sapa dengan lelaki itu.
"Raka kamu nggak apa-apa?" tanya Dion bertanya kepada anaknya.
"Mungkinkah aku baik - baik saja setelah ibuku sudah tiada?" tanya Raka tersenyum mengejek.
"Raka itu semua sudah takdir, kita hanya bisa berpasrah, kita harus banyak berdoa." ucap Dion.
"Papa minta maaf jika kehadiran kamu di dunia ini papa nggak tau, tolong kasih papa kesempatan untuk memperbaiki semuanya, tolong beri waktu untuk papa menembus semuanya." ucap Dion lagi.
"Mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan itu Raka, tapi saya yakin papa kamu hanya ingin meminta maaf dan ikut menghibur kamu yang sedang berduka." ucap Abian dengan santai.
"Kamu istirahat saja dulu, nanti jika kamu sudah tenang kita bicara lagi, Dion kita pulang dulu." ucap Abian.
"Kalian pulanglah, biar aku di sini menginap sampai 3 hari menemani Raka." ujar Dion.
"Jika papa di sini, maka aku akan menginap di sini juga." ucap Feby.
"Aku juga begitu ma, nggak mungkin aku berduaan dengan Beby di rumah." ucap Ina memang tidak ingin pulang sejak tadi.
"Lalu kalian lupa dengan keberadaan Beby?" tanya Abian.
"Kalian pulanglah, saya tidak menerima kalian di rumah ini." ucap Raka.
"Nanti Beby di temani suaminya saja, aku telpon Zayyan, terima atau tidak aku tetap akan menginap di sini, kapan lagi aku menjaga anakku." ucap Dion mengeluarkan ponselnya.
Setelah menelpon menantunya dia tersenyum senang.
"Kenapa kamu senang sekali?" tanya Feby.
"Zayyan sudah di rumah bersama dengan Beby, dan Beby tidak menolak kedatangan Zayyan, artinya kita bisa menginap di sini." jawabnya.
"Di sini bukan panti sosial menampung kalian." ujar Raka.
__ADS_1
"Biarkan saja Raka, bagaimanapun mereka tetap keluarga kamu, apalagi Ina wanita yang melahirkan anak kamu, terlepas kamu dendam atau tidak." ucap Abian menasehati Raka.
"Tapi jika mereka menginap gimana dengan Zella?" tanya Raka mengingat anaknya.
Dion, Ina dan Feby baru juga teringat dengan Zella. Mereka menyadari kelalaian mereka yang bisa melupakan keberadaan cucunya.
"Zella akan ku minta pengawalku membawanya ke sini." jawab Abian berjalan keluar dari rumah Raka.
Untuk sementara Abon percaya bahwa Dion akan. Isa menyelesaikan masalah ini. Dia yakin bahwa Raka tidak akan menyakiti keluargnya.
...****************...
"Siapa yang menelpon?" tanya Beby masih berbaring di ranjang miliknya.
"Papa kamu, mereka akan menginap di rumah Raka kakak kamu." jawab Zayyan.
"Raka kakak Beby?" tanya Beby masih tidak paham.
"Raka papanya Zella, dia anak papa kamu dari wanita lain, kamu taukan cerita ini?" tanya Zayyan.
"Ohw tau sedikit, tadi papa cerita sedikit, Beby nggak percaya aja bahwa lelaki itu adalah kakaknya Beby, yang Beby bingung bagaimana status Zella, dia terlahir dari hubungan kakak adik antara papa dan mamanya." ucap Beby sambil berpikir keras.
"Mungkin kamu belum tau tentang Ina."
"Dia sebenarnya bukanlah anak papa dan mama kamu, dia di ambil kedua orang tua kamu saat masih kecil."
Beby kaget mendengar pernyataan dari suaminya. Dia tidak percaya sama sekali karena sejak dulu mereka di perlakukan sama oleh kedua orang tuanya.
"Kamu nggak mimpi kan kak?" tanya Beby.
"Nggak, kakak sendiri mendengar lansung dari nenek kamu, lalu dari orang tua kita waktu sehari setelah selesai pernikahan kita." ujar Zayyan.
"Yang benar? serius kak?"
"Iya, orang tua Ina meninggal saat mengalami kecelakaan lalu lintas, makanya orang tua kamu mengadopsinya."
"Ya Allah kasihan sekali hidup kak Ina, aku juga jahat sama dia tadi." ucap Beby berlinang air mata.
Zayyan menghapus air mata yang menetes dari pelupuk mata Beby.
"Nggak apa-apa, nanti jangan di ulang lagi."
__ADS_1
Beby mengangguk seperti anak kecil yang di beri perintah oleh ibunya.
"Kenapa kakak marah kepada kamu tadi semata bukan karena Ina, tapi kakak tidak mau mempunyai istri yang mulutnya pedas, kamu calon ibu dari anak-anaknya kakak, maka kakak tidak mau ibu dari anak-anaknya kakak juga bermulut pedas, jadi nanti kakak meminta tolong mulai sekarang berkata lemah lembut kepada siapa saja ya sayang." ucap Zayyan.
"Baik bos." jawab Beby tersenyum senang.
"Comelnya istri kakak sedang senyum seperti ini." ucap Zayyan mencium pipi Beby.
"Beby selalu sayang sama kakak." ucap Beby.
"Sama."
"Sama apanya?" tanya Beby tidak puas dengan jawaban Zayyan.
"Sama dengan pernyataan kamu tadi."
"Apa?" tanya Beby masih tidak terima.
"Kamu tadi bilang apa, masa lupa." jawab Zayyan tersenyum senang melihat wajah Beby sudah berubah kesal.
"Kakakkkkkk." teriaknya dengan suara yang agak manja dan syahdu di telinga Zayyan.
"Apa sayang." jawabnya tersenyum.
"Ya udah kakak pulang aja sana." Beby memanyunkan bibirnya tanda ia tidak suka dengan candaan suaminya.
Mendengar pengusiran dari Beby membuat Zayyan tidak tenang. Ia tidak ingin wanita itu benar-benar mengusirnya kali ini. Dan setelah dia keluar dari rumah ini maka dia ragu akan dengan mudah menaklukkan Beby.
"Jangan sayang, kakak akan bilang I LOVE You." ucap Zayyan dengan cepat.
"Kakak ngomong apa?" tanya Beby mengerjakan balik.
"I LOVE YOU sayang ku Beby." ucap Zayyan memegang tangan Beby dengan lembut.
"Mulai hari ini kamu jadi istri kakak, kakak akan melindungi kamu mulai dari hari ini, pegang janji kakak." ucap Zayyan merapikan. poni Beby.
"Kakak tidak akan meninggalkan Beby lagi?" tanya Beby.
"Tentu sayang, di sini anak kita akan hadir." ucap Zayyan mengelus perut Beby.
Lalu dia menunduk mencium perut Beby. Karena di sana bayinya akan hadir nanti.
__ADS_1
"Maafkan kakak sayang karena kakak perut kamu jadi korban, kakak akan melindungi kamu lebih ekstra lagi." ucap Zayyan mengecup perut Beby lagi.
Beby tersenyum mendengar dan melihat Zayyan. Entah kenapa dia merasa terbang saat ini. Kebahagiaannya tidak bisa di gambarkan dengan kata - kata.