Terjebak Cinta Dua Saudara

Terjebak Cinta Dua Saudara
Bab 55


__ADS_3

Raka tidak bisa tidur saat ini. Dia masih memikirkan kepergian ibunya. Jam telah menunjukkan pukul 2 dinihari. Raka memikirkan semuanya termasuk cerita ibunya tentang ayahnya.


Raka merasakan tenggorokannya kering. Dia berjalan menuju lantai bawah. Saat menuju dapur, ia melihat Ina duduk di meja makan. Entah apa yang di lakukan wanita itu di sana.


Raka melihat wanita itu baru saja selesai minum air putih. Raka memperhatikan wanita itu. Wanita yang menjadi korban dendam darinya sekaligus adiknya.


Wanita itu nampak rapuh jika diperhatikan. Namun dia begitu kuat menghadapi cacian saat mengandung anaknya Zella. Dia bahkan tidak .aku menggugurkan kehamilannya saat itu.


Raka juga pernah tau bahwa wanita itu berjuang melanjutkan kuliahnya walaupun ia di caci maki. Wanita itu bahkan tidak mau pindah sesuai keinginan orang tuanya. Dia menanggung resikonya saat itu.


Raka masih ingat ketika dia mengikuti wanita itu saat itu. Rasa dendam di hatinya berubah menjadi suka. Karena takut rasa itu mengalahkan semuanya membuat Raka menjauhi wanita itu. Dan setelah berapa tahun menghilang, mereka bertemu lagi.


Di sana Raka dan Diva merencanakan sesuatu lagi untuk balas dendam. Dia tidak senang melihat keluarga Dion makin bahagia. Akan tetapi pada nyatanya Raka tidak benar-benar melakukan hal itu. Divalah yang selalu berinisiatif untuk melakukan perencanaan mereka. Bahkan saking begitu takutnya Raka jatuh hati kepada Ina, dia menculik anaknya sampai bekerja sama dengan saingan Raka untuk menghancurkan Ina.


Akan tetapi Diva tidak tau bahwa Raka juga di culik oleh lelaki itu. Sampai sekarang Diva masih menjadi buronan polisi. Keluarganya yang kaya raja membantunya menghilangkan jejaknya.


"Cari apa?"pertanyaan Ina membuat Raka agak kaget.


"Kamu kenapa masih di sini?" tanya Raka.


"Aku hanya mengikuti papa, kebetulan di rumah juga ada adikku dan adikmu juga Beby, saat ini dia sangat tidak nyaman bertemu denganku."jawab Ina memberi penjelasan.


"Saya tidak butuh penjelasan mu, itu resikomu sendiri yang agresif dengan adik iparmu sendiri." ucap Raka tidak perasaan.


"Hey aku tidak pernah agresif sama dia, kamu memang dari kecil seperti itu."


"Harusnya mengerti posisi lah kalau dia sudah nikah, masa disamain waktu kecil."jawab raka tidak mau kalah.


"Udahlah percuma bicara sama lu."


"Jika kalian tidak punya hubungan apa-apa, gak mungkin dia rela mengorbankan nyawanya untuk kamu."


"Hey itu karena dia lelaki sejati, nggak tega sama perempuan, emang kamu lelaki......"


"Lelaki apa?"


"Lelaki apa yang cocok untuk orang yang meninggalkan tanggung jawabnya, tanpa bicara kamu pasti tahu jawabannya."


"Lelaki banci gitu?"


"Aku nggak ngomong ya, kamu sendiri yang ngomong." jawab Ina tersenyum senang.


"Kamu." ucap Raka mendekati Ina karena geram.

__ADS_1


Raka mendorong Ina sampai ia tersudut ke meja makan. Wajah Ina menegang saat wajah Raka mendekati wajahnya.


"Kamu ngapain?" tanya Ina ketakutan.


"Kira - kira apa yang akan di lakukan cowok banci seperti aku ini?" tanya Raka dengan suara serak sambil tersenyum devil.


"Aku tidak bicara seperti itu ya."


"Tapi kamu mengiring pembicaraan ke arah sana, apa kita ulang lagi masa makan itu?" tanya Raka mengejek.


"Kurang ajar, kamu kira aku akan Sudi di sentuh kamu lagi." ucap Ina mendorong tubuh Raka dengan emosi.


Dia marah karena merasa di lecehkan oleh Raka. Namun tenaganya jauh kalah dari tenaga Raka.


"Untung kamu adikku, jika tidak mungkin papa kamu bisa memaksa aku menikahi kamu." ujar Raka.


"Sepertinya ide kamu betul juga Raka, papa rasa kalian memang harus menikah."


Keduanya kaget saat mendengar suara Dion. Mereka melihat Dion berdiri tidak jauh dari meja makan.


"Papa jangan aneh-aneh." jawab Ina dengan cepat.


"Om jangan gila, apa om lupa siapa saya? atau apakah om masih belum mengakui saya? atau kita perlu tes DNA?" tanya Raka kesal.


"Papa yakin sekali kamu anak papa Raka, namun hal itu tidak membuat kalian tidak bisa menikah." jawab Raka.


"Ina bukan anak papa."


Mendengar jawaban papanya Raka terkejut. Selama ini dia tidak mencari tau tentang Ina. Dia hanya tau bahwa anak Dion dua perempuan. Dan kala itu dia memilih Ina untuk balas dendam. Karena baginya Ina sangat mudah di dekati. Waktu itu Beby memang saat labil karena masih SMA. Akan tetapi adiknya satu itu nampak agak susah di dekati karena terlanjur cinta kepada Zayyan.


"Ina kami angkat jadi anak kami karena waktu itu kami tidak kunjung dapat anak, jadi papa rasa kalian bisa menikah, ini semua demi Zella." ucap Dion lagi.


"Pa jangan bawa - bawa nama Zella." ucap Ina tidak setuju.


"Ina apa kamu tidak kasihan dengan Zella, dia saat ini sangat senang saat tau dia punya papa, apa kamu tega membuat luka lagi, dan kamu. juga Raka, kamu pernah merasakan hidup tanpa papa, apa kamu ingin Zella mengalami hal yang sama, apa kamu tidak ingin membuat Zella bahagia, menikahlah dengan Ina."


Raka dan Ina hanya terdiam mendengar permintaan papanya. Di satu sisi ucapan papanya ada benarnya. Mereka yang telah membuat Zella menjadi korban dari keegoisan mereka.


"Diamnya kalian berarti kalian setuju?" tanya Dion.


"Kami akan pikirkan dulu, lagian belum sehari Ibuki meninggal." jawab Raka.


"Ibumu terakhir menyuruh kamu menikahi mamanya Zella." kali ini ayah tiri Raka yang berbicara.

__ADS_1


Ibu Raka menikah setelah Raka berumur 10 tahun. Ayah tiri Raka sangat menyayangi keduanya. Pekerjaan ayah Raka hanya sebagai pegawai biasa membuat hidup mereka pas - Pasan.


"Ayah sejak kapan ibu bicara seperti itu?" tanya Raka.


"Sebelum ibumu kecelakaan, dia ingin sekali kamu menikah dengan mamanya Zella, namun dia sangat menyayangkan bahwa mama Zella adalah adik kamu sehingga dia pendam keinginannya, tapi jika Ina bukan adik kamu artinya keinginan ibu kamu bisa terwujud." ucap ayahnya tirinya yang bernama Tedi.


"Apakah benar seperti itu yah?"


"Betul, apakah ayah pernah berbohong sama kamu?" tanya Ayahnya.


Raka mengenal betul siapa ayah sambungnya. Selama ini dia begitu baik kepadanya dan tidak pernah berbohong.


"Jika itu keinginan ibu maka aku akan wujudkan."


"Alhamdulillah." ucap Dion dan Tedi.


Ina terdiam membisu mendengar pernyataan Raka. Dia tidak menyangka bahwa lelaki itu berubah pikiran dengan secepat itu.


"Tapi aku belum setuju." jawab Ina.


"Jika aku bilang setuju maka tidak penolakan." ucap Raka berjalan menuju kulkas.


Dia mengambil segelas air putih dingin lalu meneguknya. Sedangkan Ina hanya diam membisu saat ini.


"Kenapa jadi seperti ini?" gumam Ina dengan pelan.


"Udah ah, papa ngantuk, ayo tidur semua, besok kita bahas lagi berita bahagia ini." ucap Dion meninggalkan mereka.


Tedi juga meninggalkan Raka dan Ina. Ina berjalan mendekati Raka.


"Eh kamu kenapa main setuju aja sih, aku tidak mau."


"Bising ah, aku ngantuk." jawab Raka meletakkan gelas di wastafel lalu berjalan menuju kamarnya.


Ina berjalan mengikuti Raka menuju kamarnya.


"Raka, kamu tidak boleh Serius."


"Sudahlah, udah malam." jawab Raka tetap berjalan meninggalkan Ina.


Namun Ina tetap mengikuti Raka sampai di pintu kamarnya.


"Raka kita harus bahas ini sebelum besok, kamu tidak boleh gegabah."

__ADS_1


"Kamu mau bahas itu atau mau ikut tidur bersamaku?" tanya Raka dengan tersenyum.


"Ogah." jawab Ina lansung berlari kembali menuju kamar tamu yang ada di lantai bawah.


__ADS_2