
Dion semakin geram melihat Raka tersenyum mengejeknya. Dia tidak paham dengan anak lelaki ini. Bisa - bisanya dia dendam kepadanya karena ibunya.
Raka tidak peduli jika ia di tinju oleh Dion. Di tidak mungkin melawan saat ini. Ini hanya akan membuatnya mati konyol karena banyaknya anak buah Daffin yang berdiri.
"Cepat katakan dimana kamu sembunyikan Zella." kata Dion tidak sabar.
"Saya sudah katakan saya tidak tau apa-apa."
"Kamu bisa saja mengelak dari kami." ucap Dion.
"Sudah Yon, beri dia kesempatan buat membuktikan bahwa bukan dia pelakunya." ucap Abian.
"Emang dia bisa di percaya?" tanya Dion.
"Aku yang menjamin, jika dia berbohong maka dia akan tanggung sendiri resikonya, saya akan hancurkan kamu sehancur - hancurnya." ancam Abian.
"Iya om, jika dia berbohong maka saya sendiri yang akan menghancurkan dia sampai ke akar - akarnya." ucap Daffin.
Dion terdiam mendengar ucapan Abian dan Daffin. Dion percaya bahwa mereka memang konsisten dengan ucapannya.
"Berapa lama saya memberimu waktu?" tanya Abian kepada Raka.
"Tanpa di paksa saya akan cari Zella pak karena bagaimanapun dia anak saya." jawab Raka.
"Dia bukan anak kamu, dia anak saya." ucap Ina yang dari tadi cuma diam.
"Baik, mungkin demi seorang anak kecil yang tidak berdosa, tapi walau bagaimanapun kamu tidak bisa mengelak bahwa ada darahku yang mengalir di tubuhnya." jawab Raka menatap Ina.
"Anak yang lahir tanpa ikatan suci tidak ikatan apapun dengan ayahnya." ucap Ina bersitegang dengan Raka.
"Bagaimana dia mencari ayahnya berapa tahun kemudian? kamu akan menjawab hamil di luar nikah?" tanya Raka.
Ina terdiam mendengar jawaban dari Raka. Perkataan Raka ada benarnya di pikiran Ina. Karena saat inipun Zella sudah sering menanyakan papanya.
"Sudah, jangan berdebat, saat ini kita fokus mencari Zella." ucap Abian dengan tegas sehingga tidak ada lagi yang membantah.
"Baiklah, saya akan menyelidiki dari sekarang, tolong biarkan saya pergi dari sini." ucap Raka berpamitan.
"Kamu tunggu info dari kamu secepatnya." ucap Abian membiarkan Raka pergi.
Raka berjalan meninggalkan ruang kediaman Arkarna. Sedangkan Dion dan Ina takut Raka membawa Zella semakin jauh.
"Om gimana jika dia bawa Zella kabur?" tanya Zella kepada Abian.
"Itu tidak mungkin di lakukan karena anak buah om akan mengikuti kemana dia pergi, sedangkan perusahaan dia sedang berkembang di sini." ucap Abian menerangkan.
"Kamu tenang aja Ina, kami akan tetap mencari Zella, mungkin kita berangkat sekarang ke kantor polisi." ujar Daffin kepada Ina dan Dion.
"Baik, saya juga tidak sabar melaporkan ke kantor polisi." jawab Dion.
__ADS_1
"Saya ikut." ucap Ina juga berdiri ketika papanya dan Daffin bangkit dari duduknya.
Mereka berjalan keluar dari rumah kediaman Arkarna menuju kantor polisi terdekat.
...****************...
Sedangkan Zayyan sedang mengikuti kemana Beby pergi. Beby ternyata pergi ke sebuah taman. Zayyan mengira bahwa Beby akan berlari pulang lalu mengadu kepada orangtuanya atau orang tuan Zayyan sendiri.
Tapi Zayyan kaget saat melihat Beby malah berhenti di sebuah taman. Dia menenangkan dirinya di sana. Beby duduk sendirian sambil menenangkan dirinya.
Zayyan melihat sekitarnya tidak nampak siapapun. Situasi saat ini memang cocok untuk menenangkan diri di sini.
Zayyan berjalan mendekati kursi taman yang di duduki Beby. Dia duduk di sebelahnya namun saat ia duduk wanita itu malah bangkit. Zayyan dengan cepat menahan tangan wanita itu agar tetap duduk di situ.
"Duduklah."
"Nggak usah, aku mau pulang."
"Kok gitu, panggil aku - aku segala." nasehat Zayyan yang memang tidak suka dengan cara bicara Beby seperti kepadanya.
"Suka - suka."
"Kamu tau nggak kamu lucu saat kayak gini." ujar Zayyan tersenyum kepada Beby.
Namun Beby tidak melihat senyum lelaki itu karena menundukkan kepalanya.
"Biarin, nggak peduli."
Dia gemes sendiri melihat mulut manyun Beby. Wajahnya yang nampak chubby saat manyun tersebut.
"Siapa yang cemburu?" jawabnya masih menunduk dan ekpresi manyun.
"Kamu, siapa lagi?"
"Mana ada begitu, aku hanya merasa tidak di hargai aja sebagai seorang istri." jawab Beby dengan gengsi.
"Beby sayang jangan aku." ucap Zayyan dengan lembut.
Mendengar kata sayang membuat hati Beby agak berbunga - bunga. Hatinya bahagia sekali saat mendengar kata sayang untuknya dari lelaki itu.
"Nggak usah panggil sayang segala jika di hati adanya wanita lain." ucap Beby menoleh ke arah lain.
"Memang ada wanita lain, tapi kamu juga ada di sini, mungkin kakak akan buat hati kakak penuh dengan nama kamu, kakak benar menyukai kakak kamu tapi hanya menyukai, dan Kakak hanya ingin jujur kepadanya, bagaimana pun kakak menyukai kakak kamu, kakak akan tetap setia dan tidak akan berpaling dengan wanita manapun termasuk Ina." ucap Zayyan mengklarifikasi agar Beby tidak salah paham kepadanya.
"Mungkin aku yang salah, yang terlalu memaksa pernikahan ini."
"Kamu nggak maksa sayang, kamu memang jodoh kakak, kakak tidak akan menikahi kamu jika kakak tidak menyetujui pernikahan ini, Kakak akan jalani mahligai rumah tangga bersama kamu di akhir hayat, tapi tolong kasih kakak waktu untuk membuat kakak yakin 100 persen."
"Jika nggak yakin lepas aja."
__ADS_1
" Kakak tidak akan melepaskan kamu sampai akhir hayat kakak, dan kakak juga mau menjelaskan masalah malam pertama itu, kakak juga belum siap untuk menyentuh kamu, biarkan rasa itu mencair begitu saja."
"Sampai kapan? sampai umurku sudah tua sedangkan kamu masih bisa cari gadis muda, aku yang rugi."
"Kamu nggak akan rugi karena aku tidak akan menceraikan kamu sampai maut memisahkan kita, dan jangan pernah berpikir yang jelek tentang pernikahan kita, panggil Beby dan kakak." ucap Zayyan.
"Kakak serius?" tanya Beby melunak.
"Iya sayang, tapi kita lewati mengalir saja, dan panggil nama lagi jangan aku - aku, nggak Suak kakak." ucap Zayyan menjelaskan ketidaksukaan dari dirinya.
"Iya."
"Ingat sekesal - kesalnya kamu harus tetap panggil Beby dan kakak." ucap Zayyan memperingati Beby.
"Iya." jawab Beby mengangguk.
"Mungkin ada baiknya kita pindah rumah, biar kita semakin akur dan terbiasa satu sama lain tanpa segan." ucap Zayyan.
"Emang mama Siska setuju?" Tanya Beby.
"Mama pasti setuju, dan kamu besok lansung kerja di perusahaan aku."
"Nggak mau."
"Kamu tidak boleh membantah karena suami kamu sedang butuh seseorang membantunya untuk jadi desainer baju dan kalung - kalung perhiasan." ucap Zayyan mengingat bakat yang ada di diri Beby.
"Tapi aku baru belajar."
"Kamu sudah hebat, gaun dan kalung yang kamu gunakan itu sangat banyak pengagumnya."
"Tapi aku ingin punya butik."
"Nanti akan Kakak bantu, tapi Beby juga bantu kakak, nanti soal kontrak kerja kita bahas." ucap Zayyan memaklumi keinginan istrinya.
"Ya udah yuk kita pulang, kakak tidak ingin kamu bersedih terus di sini." Zayyan meraih tangan Beby lalu berdiri dari duduknya.
Mereka melangkahkan kakinya bergandengan tangan menuju mobil. Saat sampai di mobil, Beby enggan untuk membawa mobil sendiri.
"Kenapa?" tanya Zayyan melihat Beby menghentikan langkahnya.
"Beby ingin bersama kakak, tapi Beby bawa mobil." jawab Beby tersenyum.
"Ya sudah mobil kakak biar tinggal di sini, bentar lagi biar anak buah kakak yang jemput." ujar Zayyan.
"Mobil Beby aja yang tinggal kak, sayang mobil kakak mahal." ujar Beby.
"Kamu lebih mahal dari mobil tersebut." jawab Zayan tersenyum.
"Jika begitu kita tunggu aja buahnya kakak di dalam mobil kakak, panas." ujar Beby.
__ADS_1
"Baik permaisuriku." jawab Zayyan tersenyum membuka pintu mobil.
Beby masuk kedalam mobil dengan senyum merekah di bibirnya.