
"Minimal harus rata-rata B yah? Gak bisa gitu C+ aja?" tawar Fla.
Dan pertanyaan Fla itu langsung mendapat tatapan tajam dari Barron.
"Boleh. Tapi liburannya aku yang tentuin. Gimana?" jawab Barron.
Perasaan Fla langsung tidak enak seketika mendengar jawaban Barron ditambah lagi dengan tatapannya. Fla yakin kalau Barron pasti merencanakan liburan di luar jangkauan nalar manusia normal.
"Gue pasti bisa dapet nilai B." jawab Fla sambil cengengesan.
"Baguslah kalau kamu yakin bisa." balas Barron.
"Sekarang kamu keruangan belajar. Aku udah siapin ruangan belajar untuk kita belajar. Meja warna putih meja kamu dan meja warna hitam meja aku. Sudah sana!" ucap Barron.
Fla pun berdiri dari duduknya lalu keluar dari kamar utama.
"Kenapa dia belum ingat aku juga? Apa dia tidak melihat tompel ini? Apa dia tidak ingat waktu kecil aku juga sering mengajarinya belajar?" monolog Barron setelah Fla keluar dari kamar.
Padahal Barron sengaja melepas kemeja-nya agar Fla bisa melihat tompel-nya dan sengaja menyuruhnya belajar agar Fla memori belajar bersama mereka waktu kecil terputar kembali di kepala Fla.
Ruang Belajar.
Kini Fla sudah berada di ruang belajar.
Ruang belajarnya di buat seperti ruangan di tempat les. Ada papan tulis putih di depan ruangan ada proyektor dan kursinya pun bukan kursi dengan sandaran tinggi sampai kepala melainkan dengan sandaran rendah hanya sampai sebatas setengah punggung dan tanpa sandaran lengan. Di meja belajar Fla juga sudah tersusun buku-buku Fla dan laptop Fla.
Semua buku dan laptop Fla di pindahkan dari rumah orangtua Fla ke apartemen Barron saat Fla berada di restoran. Jadi setelah Fla meninggalkan rumah tadi, orang suruhan Barron langsung bergegas mengambil buku dan semua perlengkapan Fla yang Fla butuhkan saja.
__ADS_1
"Woah... dia benar-benar udah menyiapkan semuanya." gumam Fla.
Fla pun duduk di kursi belajar di meja belajarnya lalu membaca lagi kertas yang Barron berikan. Saat sedang membaca kertas itu yang terngiang-ngiang di otak Fla malah bentuk tubuh Barron yang kekar dan berotot.
"Apaan sih kepala! Kenapa malah inget itu! Belajar belajar belajar! Harus bisa dapet nilai B kalau sampe rata-rata nilai C, kelar hidup loe Fla!" monolog Fla sambil memukul pelan kepala-nya.
Fla pun berusaha untuk fokus membaca kertas yang Barron berikan tapi usaha-nya itu gagal terus, bentuk tubuh Barron berhasil menguasai pikirannya. Fla pun pasrah dan akhirnya senyum-senyum sendiri sambil membayangkan dirinya menyentuh otot dada dan otot perut Barron yang kekar.
"Anget rahim adek, jadinya bang..." lirih Fla pelan.
"Apanya yang anget?" tiba-tiba saja suara Barron berhasil menyadarkan Fla dari lamunan mesum-nya.
Refleks Fla pun pura-pura fokus dengan kerta yang ada di meja belajarnya.
Barron pun berjalan mendekati Fla lalu meletakkan segelas coklat hangat di meja belajar Fla.
Fla melirik lengan Barron saat meletakkan gelas di meja belajarnya.
Awal-nya hanya melirik lengan, tapi karena aroma maskulin Barron yang sangat menyengat di hidungnya karena Barron baru selesai mandi, mata Fla pun tidak tahan untuk tidak menaikkan pandangannya.
Fla menelan salivanya susah payah karena saat ini Barron hanya menggunakan kaos lekbong alias kaos kelek bolong, jadi otot lengan atas Barron terlihat jelas di mata Fla dari samping, belum lagi batang leher-nya yang jenjang dan kekar ditambah biji salak alias jakun yang nyangkut di leher Barron, membuat Fla tidak bisa berhenti berpikiran mesum.
"Kenapa ngeliatnya begitu?" tanya Barron.
"Aduh batang tangannya aja seksi begini, udah putih, banyak bulu, kekar lagi. Apalagi batangan yang lain, pasti lebih kekar dari ini kan?" tanya Fla sambil mengelus lengan Barron. Ia tidak sadar mengatakan semua itu.
Cletak... Barron langsung menyentil kening Fla sedikit keras.
__ADS_1
"Aaauw..." teriak Fla kesakitan.
"Sakit! Kok disentil? Ini namanya kdrt tau gak?!" protes Fla.
"Kalau begitu aja kdrt, terus perbuatan kamu yang ngelus-ngelus tangan aku sambil ngeluarin kata-kata tidak senonoh itu namanya apa? Bisa aku masukkan kategori pelecehan sek.sual gak? Atau harus aku masukin kedalam kategori perbuatan yang tidak bertanggung jawab?" balas Barron.
Fla terdiam. Ia merasa malu karena tidak sadar sudah mengelus tangan Barron sambil mengatakan hal-hal aneh.
"Kamu tahu kalau ngelus-ngelus tangan aku itu sangat berbahaya!" ucap Barron.
"Bahaya kenapa? Cuma tangan aja kok! Tangan Thor aja bisa dielus! Apalagi tangan suami sendiri." balas Fla.
"Justru karena ini tangan suami kamu makanya kamu gak boleh sembarang ngelus tangan aku kalau kamu gak mau celaka! Kamu gak tau kan kalau dengan ngelus tangan aku itu sama aja kamu lagi memberikan aliran listrik ke menara sutet yang udah lama gak aktif?!"
Fla mengernyitkan keningnya dalam-dalam, ia tidak mengerti apa yang sedang Barron bicarakan.
"Maksudnya?" tanya Fla. Daripada otaknya ngebul hanya memikirkan kata-kata Barron yah lebih baik bertanya pada orangnya langsung.
"Sudah lah, suatu saat nanti kamu juga mengerti. Sudah sekarang belajar! Jangan banyak modus!" jawab Barron lalu berjalan menuju meja belajarnya yang di buat berhadapan dengan meja belajar Fla.
💋💋💋
Bersambung...
Itu loh Fla menara sutet yang itu... Yang ada di balik jeruji kain itu... 🤭
Jangan lupa tinggalin jejak yah. 💋💋💋
__ADS_1