
Rachel terus memperhatikan Fla yang sedang makan rujak dan sesekali menge.mut sonboy. Dari ekspresi Fla, sama sekali Fla tidak menunjukkan ekspresi asam.
"Fla, itu asem banget loh Fla, asam lambung loe bisa kumat nanti." ucap Rachel yang tidak tahan melihat gaya Fla menikmati rujak dan sonboy.
"Gak asem kok, enak malah. Mau coba gak?" tawar Fla.
"Gak! Makasih!" tolak Rachel.
"Gaya loe kayak orang hamil aja tau gak!" celetuk Rachel.
Uhuk... Uhuk... Uhuk... Fla langsung tersedak mendengar celetukan Rachel.
Cepat-cepat Rachel menyodorkan es teh manis pada Fla. Fla pun mengambil es teh manis itu dan menenggaknya sampai habis.
"Udah enakan? Mau gue ambilin minum lagi gak?" tanya Rachel.
"Ga usah." tolak Fla.
"Makanya makan tuh pelan-pelan, gak bakalan gue minta juga kok." ucap Rachel.
Fla diam. Tapi pikirannya sedang bekerja keras gara-gara celetukan Rachel.
Hamil? Apa iya gue hamil? Gumam Fla dalam hati.
💋💋💋
Setelah selesai kuliah, karena pikiran Fla tidak tenang memikirkan dirinya hamil atau tidak, Fla pun memutuskan untuk singgah dulu di apotik untuk membeli testpack.
Apartemen.
Kini Fla sudah sampai di apartemen. Cepat-cepat ia menggunakan tiga testpack yang dia beli tadi.
"Negatif, please negatif. Untuk saat ini please negatif dulu." doa Fla.
Sayangnya hasilnya tidak sesuai doa Fla. Tiga tespack yang Fla beli ketiga-ketiganya mengeluarkan dua garis merah.
__ADS_1
"Mati gue!" ucap Fla lemas.
"Gimana cara ngomongnya nih sama Kak Barry? Dia bakalan ngamuk gak yah?" monolog Fla bertanya-tanya.
"Semoga aja Kak Barry gak marah dan mau nerima anak ini. Kan ini ulah dia juga!" monolog Fla lagi.
Pukul 16.30
Barron baru pulang kuliah.
Sebelum memberitahu Barron tentang kehamilannya, Fla mencoba mengambil hati Barron. Ia bersikap sangat manis. Ia membawakan tas Barron, melepaskan sepatu Barron kemudian mengambilkan Barron minum.
"Ini Kak minumnya." ucap Fla seraya menyodorkan segelas air putih pada Barron.
"Tumben banget kamu manis kayak gini? Bikin masalah apa kamu di kampus?" curiga Barron.
"Hish, orang istrinya perhatian di bilang bikin masalah." balas Fla sambil memanyunkan bibirnya kemudian duduk di sebelah Barron.
"Kalau bukan bikin masalah, pasti kamu mau minta sesuatu kan? Bilang mau minta apa?" tanya Barron sambil merangkul Fla.
"Aku gak mau minta apa-apa juga." jawab Fla.
"Aku cuma mau ngasih sesuatu untuk Kakak." ucap Fla.
"Sesuatu apa? Nilai UTS mu? Kan aku udah liat, atau jangan-jangan surat tilang elektronik?" tebak Barron.
"Bukan juga Kak." jawab Fla.
"Iya terus apa dong? Cepetan bilang jangan buat orang penasaran deh." balas Barron.
"Tapi Kakak janji dulu gak bakalan marah." ucap Fla.
"Kalau kamu udah ngomong gini, pasti masalah yang kamu buat fatal. Aku gak mau janji, kalau masalah yang kamu buat fatal jelas kami harus dapat hukuman, tapi kalau masih biasa aja, baru aku gak akan marah." jawab Barron.
"Ya udah deh kalau Kakak gak mau janji, aku juga gak mau ngasih tau." ucap Fla.
__ADS_1
"Ya udah terserah." jawab Barron sambil hendak berdiri tapi dengan cepat Fla menahan Barron lalu mengeluarkan testpack yang sejak tadi ada di kantong celananya.
"Ini. Aku hamil, Kak." ucap Fla sembari memberikan testpack itu pada Barron.
Barron terdiam sambil memandangi tiga testpack yang ada di hadapannya.
Melihat diamnya Barron, Fla sama sekali tidak bisa menerka apa yang ada di hati Barron saat ini, apa Barron marah, senang, sedih, kecewa atau apa, Fla tidak tau.
"Kak..."
KRIIING...
Tiba-tiba saja ponsel Barron berdering.
Barron pun tersadar dari lamunannya kemudian memberikan testpack itu ke tangan Fla lalu berdiri dari duduknya dan menjauh dari Fla sebelum menjawab telepon.
Masih tanpa ekspresi, Barron kembali menghampiri Fla, tapi kali ini bukan untuk bicara dengan Fla melainkan hanya untuk mengambil jaketnya yang ada disofa.
"Aku pergi." pamit Barron hanya dengan dua kata lalu berlalu dari ruang tengah.
Fla pun berdiri dari duduknya dan mengekori Barron dari belakang.
"Kak, Kakak mau kemana? Kakak marah karena aku hamil?" tanya Fla.
Barron diam.
"Kak, jangan gini dong. Kita bicarain baik-baik. Aku kan hamil anak Kakak bukan anak laki-laki lain!" kata Fla lagi.
Tapi Barron masih diam dengan wajah yang datar dan dingin dan sama sekali tidak mau melihat Fla.
"Kak, Kak Barry jangan pergi Kak! Kak!" teriak Fla saat Barron keluar dari apartemen.
Fla tidak mengejar Barron sampai keluar dan hanya bisa menangis di balik pintu.
💋💋💋
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa tinggalin jejak yah. 💋💋💋