
Universitas Kedokteran.
Kini Barron sedang berada di kantin kampus.
Seperti biasa, Barron duduk sendirian di mejanya, tidak ada yang berani duduk semeja dengan Barron karena aura Barron yang sangat dingin seperti di Kutub Selatan. Apalagi saat ini wajah Barron sedang mode sangar, makin tidak ada yang berani mendekatinya.
Wajah sangar Barron pun tak luput dari perhatian Yudha yang duduk tepat di depan meja Barron berada.
Tuh orang punya kepribadian ganda kali yah, perasaan kemaren muka-nya ceria sekarang udah jutek lagi. Apa dia gak dapet jatah dari si Fla makanya kayak gitu mukanya? gumam Yudha dalam hati.
Karena jiwa kepo yang meronta-ronta, Yudha pun beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Barron di mejanya lalu duduk tepat di depan Barron.
"Woiiiy!! Kenapa loe? Daritadi gue perhatiin tuh muka sangar banget, sampe air putih yang di gelas loe berubah jadi air mata sangking takutnya liat muka loe!" tanya Yudha.
Barron tidak menjawab, ia hanya memberi tatapan tajam pada Yudha.
Yudha menelan salivanya susah payah begitu mendapat tatapan tajam dari Barron. Tapi karena jiwa keponya belum mendapatkan informasi apa-apa, jadi Yudha tetap bertahan di meja Barron.
"Gak dapet jatah loe dari si Fla? Atau frustasi gara-gara durasi loe yang pendek atau jangan-jangan punya loe yang pendek jadi gak bisa sempe mentok?" ledek Yudha.
"Tau gak ini apa?" tanya Barron sambil mengangkat garpu-nya.
"Garpu."
"Mau tau gak rasanya kalau garpu ini nancap di lidah kamu?" tanya Barron.
"Gak, gak mau tau. Sumpah gue gak mau tau." jawab Yudha sambil tersenyum ketir.
"Ya udah diem!" balas Barron.
Barron pun kembali melanjutkan makannya.
__ADS_1
"Kalau ada masalah cerita aja, jangan dipendam sendirian. Muka jutek loe itu mengganggu orang-orang sekitar loe tau gak." ucap Yudha.
"Salah mereka sendiri, siapa suruh lihatin aku!" jawab Barron.
Yudha memutar bola matanya malas.
"Loe ada masalah sama Fla?"
"Bukan urusan kamu!"
"Yah emang bukan urusan gue, tapi kan kalau loe cerita sama orang yang loe percaya tentang masalah loe, pasti dada loe bakalan plong." balas Yudha.
"Masalahnya kamu bukan orang yang aku percaya, jadi untuk apa aku cerita sama kamu!" balas Barron.
"Haish!!! Ya udah lah terserah loe! Niat gue baik juga mau jadi temen loe! Tapi loe selalu aja bangun benteng setinggi menara Eiffel! Kalau loe begini terus, kagak ada yang bantuin loe saat loe susah nanti! Dan gue yakin, Fla juga bakalan ninggalin loe kalau sikap loe dingin kayak gini!" balas Yudha kesal.
Yudha pun berdiri dari duduknya dan hendak pergi dari meja Barron.
"Tunggu." ucap Barron.
Yudha pun membalikkan tubuhnya.
"Apalagi?" tanya Yudha.
"Ada yang mau aku tanya sama kamu." ucap Barron.
Di dalam hatinya, Yudha tertawa berjingkrakan karena senang akhirnya si manusia es mau bicara padanya.
Cepat-cepat Yudha duduk kembali.
"Tanya apa?" tanya Yudha.
__ADS_1
Barron melihat ke kiri dan ke kanan seolah apa yang ingin ia tanyakan itu adalah rahasia yang sangat besar.
"Menurut mu aku salah gak suruh Fla gak usah bawa mobil lagi, jadi setiap pagi aku bisa anter dia ke kampus dan kalau pulang aku bisa suruh supir aku buat jemput dia." tanya Barron.
"Oh... loe mau jadi suami posesif gitu?"
"Bukan gitu juga. Aku cuma mau mastiin pulang kuliah Fla langsung pulang ke apartemen. Kalaupun dia mau kemana-mana aku bisa monitor." jawab Barron.
"Sama aja itu dodol!" balas Yudha.
"Kalau menurut gue sih yah gak usah lah loe bikin begitu. Kalau dia mau anter yah loe anter kalau gak ya udah gak usah. Tapi yang paling utama, loe harus tanya dia dulu, mau dianter gak? Mau dijemput gak? Gitu!" ucap Yudha.
"Perempuan jaman sekarang gak suka di kekang, Ron. Apalagi model kayak Fla, loe ngekang dia yang ada loe di tinggal! Biarin aja Fla ngelakuin apa yang dia suka, Fla itu kan manusia ekstrovert, jadi kalau loe kekang dia, loe batasin pergerakannya, yang ada nanti dia jadi stres. Jangan samain kayak loe yang introvert yang kagak suka bergaul!" kata Yudha lagi.
Barron mengangguk-anggukkan kepalanya paham dengan yang dikatakan Yudha.
"Ah... iya satu lagi. Semalam aku kasih pil kontrasepsi sama Fla, apa itu salah?" tanya Barron.
Yudha tercengang mendengar pengakuan Barron. Pertama karena dugaannya benar kalau Barron dan Fla sudah berhubungan suami istri, yang kedua, karena pertanyaan Barron itu sendiri.
"Loe ngasih kontrasepsi sama dia alasannya apa? Loe gak mau punya anak? Apa loe penganut childfree, kayak bule-bule kebanyakan? tanya Yudha.
"Bukan gak mau punya anak, tapi mau menunda dulu. Aku sama Fla masih kuliah, apalagi selesai wisuda nanti aku masih harus KOAS, kalau dia hamil sekarang kasihan Fla nanti tidak di perhatikan dan anak kami sudah pasti kurang kasih sayang kalau Fla melanjutkan kuliahnya. Aku dan Fla sama-sama merasakan bagaimana tumbuh tanpa kasih sayang orangtua karena kesibukan mereka dan aku gak mau anak kami merasakan hal yang sama seperti yang pernah kami rasakan." jawab Barron dengan tatapan sendu.
"Terus loe kasih tau Fla gak alasan loe ini? Kalau loe gak ngasih tau Fla yah jelas loe salah lah! Kalau loe kasih tau dia dan dia sepakat, nah itu gak salah. Intinya dalam sebuah hubungan itu harus ada komunikasi yang baik, jangan apa-apa di bicarain dalam hati! Fla bukan cenayang yang tau apa isi dalam hati loe! Tapi kalau kita laki-laki harus bisa jadi cenayang yang tau apa maunya perempuan tanpa harus mereka bilang." balas Yudha.
💋💋💋
Bersambung...
Tuh denger barongsai!
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin jejak yah. 💋💋💋