Terjebak Pernikahan Dengan Pria Dingin

Terjebak Pernikahan Dengan Pria Dingin
71. Barron Pergi Ternyata...


__ADS_3

Rumah sakit.


Dengan langkah panjangnya, Barron memasuki gedung rumah sakit.


"Pak Barron." panggil asisten Papa Felix saat melihat kedatangan Barron.


Barron menoleh kemudian menghampiri asisten Papa Felix.


"Kamu yang nelpon tadi?" tanya Barron dan di jawab dengan anggukan kepala oleh asisten Papa Felix.


"Ada apa dengan Om Felix?" tanya Barron.


"Pak Felix terkena serangan jantung, sekarang masih di ruang observasi dan belum sadarkan diri." jawab asisten Papa Felix.


"Saya mau lihat keadaannya." ucap Barron.


Barron dan asisten Papa Felix pun berjalan menuju ruang observasi dimana Papa Felix berada.


Bertepatan dengan sampainya Barron di depan ruang observasi, perawat keluar dari ruangan itu.


"Keluarga Pak Felix?" tanya perawat.


"Iya, saya menantunya." jawab Barron.


"Silahkan ikut saya ke ruangan dokter, ada yang ingin dokter bicarakan dengan pihak keluarga." ucap perawat.


"Baik sus." jawab Barron.


Barron dan perawat itu pun berjalan bersama menuju ruangan dokter spesialis jantung.


Ruangan dokter.


"Selamat sore dok." sapa Barron sesampainya di ruangan dokter.

__ADS_1


"Selamat sore. Dengan..." dokter Broto menggantung kata-katanya.


"Saya menantunya Pak Felix, dok." sahut Barron memperkenalkan dirinya sambil menjulurkan tangannya ke hadapan dokter Broto.


"Oh." dokter Broto menyambut uluran tangan Barron.


"Silahkan duduk." ucap dokter Broto.


Barron pun duduk di kursi di depan meja kerja dokter Broto.


"Jadi begini, apa sebelumnya Anda tau kalau bapak mertua Anda punya penyakit jantung?" tanya dokter Broto.


Barron menggelengkan kepalanya.


"Saya dan mertua saya tidak satu rumah dan kami juga jarang kumpul keluarga, karena saya sedang sibuk mengerjakan skripsi saya, dok." jawab Barron jujur.


"Oh." dokter Broto membulatkan mulutnya.


"Bisa saya lihat hasil pemeriksaannya dok?" pinta Barron.


Dokter Broto pun memberikan rekam medis Papa Felix pada Barron. Barron pun membaca dengan seksama rekam medis itu.


"Apa kamu mengerti isi rekam medis itu?" tanya dokter Broto.


"Iya dok, kebetulan saya mahasiswa kedokteran dan rencananya setelah lulus lulus kuliah saya mau lanjut KOAS dan mengambil spesialis bedah." jawab Barron.


"Oh. Kalau begitu saya tidak perlu menjelaskan secara detail lagi kondisi mertua Anda." balas dokter Broto.


Barron menghela nafasnya kasar. Ia tidak bisa mengambil keputusan sendiri, apalagi Fla nampaknya juga tidak tahu kondisi Papa Felix. Tapi melihat kondisi Papa Felix yang sudah sangat darurat, rasanya tidak mungkin untuk menunggu lebih lama lagi.


"Bisa saya pikirkan sebentar lagi dok. Karena disini posisi saya hanya menantu, jadi saya tidak bisa langsung mengambil keputusan." pinta Barron.


"Silahkan, tapi saya harap tidak lebih dari dua hari." jawab dokter Broto.

__ADS_1


Barron menganggukkan kepalanya.


Setelah Barron pun keluar dari ruangan dokter Broto dan kembali ke ruang observasi untuk melihat keadaan Papa Felix.


Saat Barron masuk, ternyata Papa Felix sudah sadarkan diri.


"Kamu datang." lirih Papa Felix saat melihat Barron. Suaranya tidak jelas karena mulutnya ditutup alat bantu oksigen.


"Kenapa Om gak pernah bilang kalau sakit?" tanya Barron.


"Kamu itu sudah menikah dengan Fla, kenapa manggil saya masih Om? Panggil saya Papa." balas Papa Felix.


"Pa, kenapa Papa gak pernah bilang kalau Papa sakit? Apa Papa pernah mikir bagaimana perasaan Fla kalau dia tau Papa sakit?" tanya Barron lagi.


"Semua orang akan meninggal, jadi untuk apa Papa kasih tau. Papa hanya ingin meninggal tanpa merepotkan keluarga Papa." jawab Papa Felix.


"Cih! Memangnya Papa gak mau main sama cucu Papa? Sekarang Fla sedang hamil, apa Papa gak mau bertahan sampai cucu Papa lahir?" tanya Barron.


Papa Felix terdiam.


Bicara soal cucu, orangtua mana yang tidak bahagia mendengar dirinya akan menjadi Kakek, apalagi ini cucu dari anak perempuan satu-satunya.


"Kalau Papa pengen main bersama cucu Papa, tolong bertahan dan ikut saran dokter untuk segera di operasi." ucap Barron.


"Ya, Papa mau di operasi tapi, tapi tolong jangan beritahu Fla tentang ini. Kamu bilang dia sedang hamil kan? Papa gak mau Fla sedih, itu akan berpengaruh pada kehamilannya." jawab Papa Felix.


"Barron akan merahasiakan ini dari Fla. Tapi Papa juga harus janji untuk sembuh." jawab Barron.


"Barron ke ruangan dokter dulu." Kata Barron lagi lalu keluar dari ruang observasi.


💋💋💋


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2