
''
''
Hari semakin gelap pertanda malam sudah datang, Daniel membawa Arumi ke luar dari Polda tepat jam sembilan malam,
''Makan lah ini dulu. Sebelum pulang kamu pasti sudah lapar.'' Daniel memberikan hamburger yang tadi di beli Alan.
''Anda sudah makan tuan.'' lirih Arumi.
''Makan lah dulu.'' ucap Daniel fokus dengan kemudinya.
Arumi merasa hari ini Daniel begitu baik menjaga dan melindungi nya. bahkan memberikan bahunya untuk Arumi menangis.
''Aaaa.'' Arumi memberikan potongan hamburger dan menyuapkan nya kedalam mulut Daniel.
''Apa yang kamu lakukan.'' tanya Dani melirik Arumi.
''Memberi mu makan apa lagi. Ayok kita makan sama sama.'' ucap Arumi.
Daniel menerima suapan dari tangan Arumi. Keduanya menikmati hamburger dengan nikmat. Untuk pertama kalinya tidak ada perdebatan di antara keduanya. sampai mobil sudah memasuki restoran.
''Boleh tidak makan di mobil aku lagi malas turun.'' ucap Arumi memohon. Daniel tersenyum dan mengangguk. Tak berapa lama kemudian Daniel datang dengan makanan di tangan nya.
''Ini makan lah.'' Daniel memberikan kotak makanan pada arumi. Keduanya makan di mobil sebelum pulang. Karna Arumi tidak mau turun dari mobil. Setelah selesai acara makan di dalam mobil. Keduanya lanjut pulang tidak ada percakapan sepanjang perjalanan. hingga mobil sudah sampai di mansion
''Selamat malam tuan muda nona muda.'' Pak bin berkata ramah.
''Selamat malam pak bin.'' jawab Arumi tidak kalah ramah.
''kami sudah makan di luar pak bin.'' ucap daniel seraya menaiki tangga. Di ikuti Arumi di belakang nya.
''Kamu mandilah dulu.'' ucap Daniel sesampai di kamar nya.
__ADS_1
''Apa sebaik nya tidak anda dulu tuan.'' tolak Arumi merasa hari ini sikap nya begitu manis.
''Kamu saja setelah itu kamu bisa menyiap kan air mandi ku sekalian.'' ucap Daniel lembut.
''Hem baik lah.'' ucap Arumi bergegas memasuki kamar mandi.
Sedang Daniel merebah kan tubuh nya di sofa. Merasakan sofa yang begitu sempit di tubuh nya.
''Bagaimana bisa dia tidur dengan nyaman di sini. beberapa bulan ini.'' batin Daniel berkata.
Tak berapa lama Arumi sudah selesai dengan ritual mandi nya. Melihat Daniel berbaring di sofa Arumi merasa kasian sepanjang hari ini Daniel selalu di dekat nya menemani Arumi melewati hari yang sulit.
''Tu tuan.'' panggil Arumi pelan.
''Ya ada apa.''
''Air mandi nya sudah siap.'' ucap Arumi pelan.
Daniel tersenyum melihat Arumi sudah tidur dengan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Hanya menyisakan kepala nya Saja.
''Kelinci kecil apa kamu sudah tidur. Daniel mengacak acak rambut Arumi. Namun Arumi sama sekali tak terusik bahkan semakin nyenyak.
''Hem cepat sekali kamu tidur.'' Daniel membopong tubuh Arumi memindah kan nya ke atas ranjang.
''Disini lebih nyaman. Maaf baru sekarang mengijinkan mu tidur di sini seharusnya ku lakukan sejak lama.''
sesal Daniel sering memperlakukan Armi kurang baik. perlahan Daniel menyelimuti Arumi sebatas dada. Kemudian mencium kening Arumi lembut. Daniel keluar dari kamar nya meninggal kan Arumi yang sedang bermimpi. Berjalan menuju ruang kerja dimana Alan sudah menunggu nya.
''Tuan ini.'' Alan memperlihat kan sebuah Video yang baru di kirim anak buah nya.
''Spa ini.'' tanya Daniel tidak mengerti.
''Seperti yang kita duga. Anak buah nyonya Paula dan tuan Geri masih berkeliaran. itu artinya bahaya masih mengancam nona muda.'' jelas Alan.
__ADS_1
''Secepat nya besok urus perusahaan nya, sudah saat nya perusahaan itu kembali ke pemilik yang sesungguh nya. Jangan biarkan orang seperti Geri dan istri nya bebas berkeliaran begitu saja. Mereka harus mendapat kan hukuman yang setimpal. Pastikan mereka mendapatkan hukuman yang berat.'' ucap Daniel sorot mata nya begitu tajam.
''Baik tuan. Anda jangan kuatir soal itu. Erik tau apa yang harus di lakukan nya. Yang terpenting sekarang adalah nona. Setelah semua selesai nona Arumi pasti ingin sekali bertemu dengan adik nya.'' Terang Alan
''Hem aku tau. Sekarang belum saat nya Alan. Nanti aku sendiri yang akan membawa nya bertemu dengan adik nya.'' ucap Daniel menunggu hari itu tiba Arumi pasti merasa bahagia.
Di lain tempat sepasang suami istri itu duduk termenung di kasur lantai yang sangat tipis. hawa lengan menyerap menusuk hidung mancung nya. Kulit nya yang putih bersih bagai tertusuk ribuan jarum es hawa dingin seketika masuk kedalam pori pori kulit nya. Iar matanya sedari tadi tak henti henti nya mengalir. memikirkan nasib nya tinggal di balik jeruji besi.
''Geri besok mintalah Arumi untuk membebaskan kita apa kamu tidak berfikir bagai mana nasib putri kita. Sedari tadi kamu hanya diam tidak berkata apa pun waktu ada Arumi dan suami nya. Siapa tau Arumi mau mendengar kan mu.'' lirih Paula
''Entah lah Pau aku terlalu malu menghadapi Arumi. Dia keponakan ku sendiri dan orang yang aku bunuh adalah Abang kandungku. Aku sangat pantas berada di sini. Aku tidak sanggup meminta maaf pada Arumi apa lagi meminta nya membebaskan kita. Rasanya sangat tidak mungkin.'' ucap Geri
''Kamu dari dulu selalu seperti itu. Kalau bukan aku yang berfikir semua mana bisa kamu berfikir sendiri.
''Ya semua otak mu yang berfikir. Hingga hari ini otak mu yang membawa kita berada di sini sekarang.''
''Apa yang kamu katakan. Apa kamu menyesal.''Tanya Paula penuh selidik
''Coba tanyakan pada hatimu. Apa kamu tidak menyesal berada di sini. Apa memang ini tujuan mu.'' ucap Geri menatap tajam istrinya.
''Semua ini karna Daniel. Coba dulu yang kamu berikan pada kakek itu Lina yang menikah dengan Daniel putri kita bukan Arumi, semua tidak akan seperti ini. Kita masih bisa menik mati udara bebas. Jelas Paula.
''Sekarang apa lihat lah kita.'' lanjut Paula.
''Apa kamu rela melihat putri mu bersanding dengan pria seumuran ayah nya. Jika aku tidak memberikan Arumi.''
''Tapi kenyataan nya apa Arumi tidak menikah dengan lelaki tua itu. Dia malah menikah dengan Daniel.'' seru Paula ketus.
''Ya mana aku tau kakek itu menikah kan Arumi dengan Daniel.'' jawab Geri kesal istrinya itu sama sekali tidak merasa menyesal masih saja menyalah kan dirinya.
Geri menghela nafas nya berat seandainya dia bisa sedikit lebih tegas dengan istrinya dulu mungkin ini semua tidak akan terjadi.
''Bersambung
__ADS_1