Terjerat Cinta Bodyguard Tampan

Terjerat Cinta Bodyguard Tampan
Nggak pantas cemburu


__ADS_3

"Kamu udah bisa ngerasa gerakan dia belum yank??"


Sejak selesai sholat asar tadi, Adam dan Raisa memilih bertahan di kamar dengan Raisa yang masih mengenakan mukenanya. Adam yang berbaring di sisi perut Raisa terus saja mengusap tempat persembunyian anaknya itu. Sementara Raisa duduk bersandar di ranjang dengan tangannya yang membelai lembut kepala Adam.


"Udah tapi cuma kedutan halus aja"


"Mana?? Mas lihat dong" Adam ingin menyingkap mukena Raisa namun di langsung terhenti karena ucapan Raisa.


"Belum kelihatan dong Mas. Ini masih kedutan halus yang cuma bisa di rasakan dari dalam aja. Besok kalau udah lima atau enam bulan baru kamu bisa lihat gerakannya"


"Yah, masih lama dong yank. Padahal Mas udah nggak sabar pingin ketemu sama anak kita"


Cup...


Cup...


Adam mengecup perut buncit Raisa dari samping berkali-kali.


"Nggak lama loh Mas, bentar lagi kok. Bentar lagi juga kita bakalan ketemu sama dia" Raisa memegang punggung tangan Adam yang berada di atas perutnya.


"Sayang, kamu bisa dengar Papa nggak di dalam sana?? Papa udah nggak sabar ketemu kamu loh. Papa sayang banget sama kamu dan Mama" Adam lebih mendekatkan dirinya lagi pada Raisa, memeluk istrinya itu dengan erat.


"Jangan kencang-kencang dong Mas. Ica nggak bakalan pergi ke mana-mana kok" Sebenarnya pelukan Adam juga tidak terlalu erat, hanya saja begitu posesif.


"Biarin, takutnya kamu di bawa kabur sama cowok-cowok yang dulu sering deketin kamu"


"Mana ada?? Cowok yang mana??"


Adam mendengus, menjauhkan wajahnya dari perut Raisa dan menatap wajah cantik istrinya itu dari bawah.


"Mas tau semuanya, kamu lupa kalau Mas selalu mengikuti kemanapun kamu pergi. Yuda, Ben, Evan, dan masih banyak lagi Mas males sebutnya"


Raisa menahan tawanya, dia geli sendiri karena ternyata Adam mengingat siapa saja pria yang pernah mendekatinya. Namun dulu Raisa bersama mereka hanya untuk mengalihkan perasaannya dari Adam saja.


"Terus waktu itu, perasaan Mas gimana?? Cemburu gitu??"


"Ya menurut kamu gimana?? Mas kan cinta sama kamu dari dulu. Lihat kamu ketawa sama pria lain, ngomongnya manis banget kaya pemanis buatan, ya jelas Mas kesal lah"


Kali ini Raisa benar-benar tak bisa menahan tawanya. Dia sampai memegang perutnya yang ikut bergetar.


"Kamu ketawain Mas??" Wajah Adam terlihat tak terima.


"Habisnya Ica nggak bisa bayangin wajah Mas waktu itu. Mas kan dulu kaku nih kaya kanebo kering. Mukanya dingin-dingin gitu, terus kalau cemburu gimana?? Kayaknya nggak pantes gitu" Raisa masih cekikikan membayangkan wajah Adam dulu yang begitu datar namun ternyata bisa cemburu juga.

__ADS_1


Sementara Adam, dia ingin sekali menyentil bibir Raisa yang lancang menertawakannya itu dengan bibirnya. ******* bibir itu sampai habis agar tidak bisa lagi meledeknya seperti itu.


Raisa tak tau saja, dulu saat Adam cemburu, dia sampai menyuruh anak buahnya untuk mematikan aliran listrik sebuah cafe yang menjadi tempat kencan Raisa dengan salah satu teman dekatnya.


"Oh, sekarang kamu mulai menghina Mas lagi?? Berani sekarang??" Adam menggelitiki pinggang Raisa.


"Ampun Mas, maafin Icaaa!!!!" Raisa tak bisa menahan geli karena ulah suaminya itu.


Tok..tok..tok...


"Dam!!" Suara Yuli menghentikan aksi Adam itu.


"Mbak Yuli tu Mas, buka dulu" Raisa mencoba mengatur nafasnya. Terus tertawa ternyata menguras tenaganya.


"Kenapa Mbak??" Tanya Adam begitu membuka pintunya.


"Ada Ayu di luar. Katanya ada yang mau dia katakan sama kamu"


Meski Yuli mengatakannya dengan pelan, namun telinga Raisa jelas mendengar kalau Yuli menyebut nama Ayu.


"Bilang tunggu bentar Mbak, aku ganti baju dulu" Yuli pun mengangguk lalu pergi dari depan kamar Adam.


Sementara Adam, dia berbalik ke dalam untuk mengganti sarungnya yang masih di pakai sejak tadi dengan celana panjang.


"Yank, Mas keluar dulu ya. Kata Mbak Yuli, di depan ada Ayu. Mas nggak tau mau apa dia ke sini tapi katanya dia mau ngomong sesuatu. Kamu mau ikut keluar nggak??"


"Enggak" Jawab singkat Raisa.


"Ya udah Mas keluar dulu ya, Mas janji nggak lama"


"Hemm" Jawab Raisa sambil memainkan ponselnya.


Cklek...


Begitu pintu kamarnya tertutup, rasanya Raisa ingin melempar ponselnya itu ke arah pintu.


"Kenapa juga masih mau ketemu sama dia???"


"Harusnya di tolak bisa kan??"


Kini Raisa baru menyuarakan apa yanga di dalam pikirannya sejak tadi.


"Nggak bisa di biarin nih!!"

__ADS_1


Dia kemudian buru-buru melepas mukenanya, dia tidak akan membiarkan Adam dan Ayu berduaan di luar sana. Dia tidak akan membiarkan celah sedikitpun untuk wanita lain mendekati Adam.


Adam menemui Ayu di teras rumahnya. Adam langsung melihat wanita itu diam menunduk sambil meletakan kedua tangannya di atas pangkuannya.


"Hemm" Dehem Adam untuk membuat Ayu melihat ke arahnya.


"Mas" Sapanya dengan senyum tipis.


Adam tidak memilih duduk di kursi dekat dengan Ayu yang hanya berjarak satu meja. Adam malah memilih berdiri agak jauh dari Ayu.


"Apa yang mau kamu katakan?? Aku nggak bisa lama" Adam tentunya ingin menepati janjinya pada Raisa tadi.


"Aku ke sini mau minta maaf sama kamu Mas. Sekarang aku sadar kalau cinta itu emang ngga bisa di paksa. Maaf karena selama ini Mas Adam terganggu sama aku"


"Aku juga minta maaf karena sempat menuruti apa kata orang itu untuk menemui Mas Adam. Sekarang, Mas Adam udah punya kehidupan baru, dan aku juga kepingin kaya Mas Adam. Jadi sekali lagi maafin aku ya Mas"


Ayu sekarang benar-benar merasa ikhlas tentang Adam. Dia sudah sadar jika keinginan Ning untuk menjadikannya istri Adam tidak akan pernah bisa dia paksakan lagi.


"Syukurlah kalau kamu sudah bisa menerima Yu. Aku yakin kalau kamu bisa mendapatkan laki-laki yang baik di luar sana, kamu wanita yang baik" Adam berbalik menatap Ayu.


Ayu berdiri untuk mendekat kepada Adam. Wanita itu sudah benar-benar legowo pada takdirnya yang tak bisa mendapatkan cintanya.


"Makasih ya Mas. Tapi, boleh kan kalau kita tetap temenan kaya dulu??" Ayu mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Adam.


Adam tampak berpikir sebentar sebelum akhirnya menerima uluran tangan Ayu.


"Tentu" Jawab Adam dengan senyum tipis di bibirnya.


"Ya udah, sekarang aku pulang dulu ya Mas. Oh ya, salam buat Mbak Raisa ya Mas"


"Nanti aku sampaikan, kamu pulang sama siapa?? Ini udah mau maghrib"


"Aku bawa motor di depan kok Mas, aku pergi dulu ya"


"Iya hati-hati"


Adam menatap kepergian Ayu dengan rasa lega, setidaknya dia tidak akan melihat Ning memaksanya lagi untuk menikahi Ayu.


Setelah Ayu tak terlihat lagi, Adam berbalik untuk kembali ke dalam. Tapi betapa terkejutnya Adam saat dia di sambut istrinya yang menatapnya dengan tajam.


"Yank"


Panggil Adam namun Raisa sudah melengos dan pergi lebih dulu.

__ADS_1


"Mampus" Adam menepuk keningnya dengan keras.


__ADS_2