
Kursi roda yang di dorong Satya telah berhasil mengantar Raisa masuk ke dalam ruangan Adam yang berada tepat di samping kamar Raisa.
Meski rasa takut bercampur malu itu masih begitu kuat, namun akhirnya Raisa berani juga masuk ke dalam sana.
Yang Raisa tangkap pertama kali di dalam ruangan itu adalah Adam, suaminya yang berbaring memunggungi pintu. Mungkin karena punggungnya yang terluka membuatnya tak bisa berbaring terlentang. Juga seorang pria yang Raisa perkirakan hampir seumuran Papanya, namun baru kali ini Raisa lihat.
Tapi Raisa tak peduli siapa dia saat ini. Yang ia pemilikan hanya Adam. Rasanya sakit melihat Adam dalam keadaan seperti itu. Kalau bisa, Raisa ingin berbaring di sana menggantikan Adam sebagai penebusan dosanya meski itu tak akan bisa membalas semua pengorbanan Adam selama ini.
Satya mendorong Raisa semakin mendekat hingga dia bisa melihat wajah Adam yang lebam dan di balut perban bagian pelipisnya
"Dia tidur??" Tanya Satya pada orang itu karena melihat Adam yang memejamkan mata.
"Tidak Pak, hanya istirahat saja. Katanya pusing" Jawab orang yang tidak Raisa kenal itu.
"Ayo keluar dulu, biarkan mereka berdua"
"Baik Pak"
"Apa dia Pak Rudolf yang di maksud Papa dan Mas Adam??" Raisa terus menatap pria yang sudah tak bisa di bilang muda namun masih bugar dengan badannya yang bagus dan kekar.
Mendengar pintu ruangan itu tertutup, jantung raisa berdetak semakin kencang. Apalagi saat ini Adam juga tidak tidur sama sekali.
Perlahan Raisa beranjak dari kursi rodanya. Memilih mendekat untuk duduk di kursi yang berada di samping ranjang Adam.
Sudah beberapa menit tapi Raisa masih belum mengeluarkan suara. Dia masih setia menatap wajah Adam yang tampak tenang meski Raisa yakin jika wajahnya yang penuh luka itu begitu menyakitkan.
Raisa takut hanya untuk mengeluarkan suaranya, dia takut mendapat penolakan dari Adam, dia tidak siap menerima kemarahan pria di depannya itu.
"Kalau nggak ada yang mau di sampaikan, lebih baik keluar. Saya mau istirahat"
Deg....
Sakit...
Perih...
Benar dugaannya jika dia tidak siap menerima sikap seperti itu dari Adam. Dadanya seperti di robek sampai hatinya terkoyak di dalam sana.
Meski Adam mengatakannya dengan mata yang masih terpejam, Raisa sudah bisa merasakan aura kebencian dari pria itu.
Harusnya dia berkaca dari Adam, satu kalimat itu belum seberapa dibandingkan dengan apa yang selama ini lakukan kepadanya. Tapi sampai di sini saja Raisa sudah tidak sanggup.
"M-mas" Suara lirih dan bergetar itu akhirnya lolos juga dari bibir Raisa.
__ADS_1
"Maafkan Ica Mas" Jari-jemari Raisa bersatu dan saling meremas.
"Mungkin ribuan kata maaf tidak akan pernah bisa menghapus semua kesalahan ku, tapi saat ini hanya itu yang bisa aku katakan Mas" Raisa mengigit bibir bawahnya untuk menahan tangisannya.
Wajah tampan itu tiba-tiba mengeluarkan senyuman sinis.
Raisa seperti di lempar batu tepat mengenai hatinya. Melihat senyuman itu saja Raisa sudah ingin terisak. Sudah bisa Raisa tebak bagaimana bencinya Adam kepadanya.
Deg...
Jantung Raisa seperti berhenti tiba-tiba saat Adam membuka mata tajamnya dan tatapannya yang seperti tombak itu langsung menghujam tepat mengenai seluruh jiwa dan raganya.
"Untuk apa minta maaf?? Bukannya ini yang Nona mau?? Setelah ini apa lagi?? Cepat katakan biar Nona puas"
Raisa terdiam menundukkan kepalanya, punggungnya mulai bergetar, air matanya yang tidak ingin ia keluarkan nyatanya berlahan mengkhianatinya satu persatu, namun sekuat mungkin giginya mengerat agar tidak menimbulkan suara yang mungkin saja membuat Adam semakin membencinya.
"Sebenarnya apa salah saya kepada anda Nona Raisa??" Raisa mengangkat wajahnya, Rasanya ingin menolak saat Adam memanggilnya seperti itu. Terlihat jelas jika Adam telah membuat jarak di antara mereka.
"Kenapa Nona sangat membenci saya??"
Hati Raisa semakin tersayat-sayat saat melihat mata Adam mulai berkaca-kaca. Raisa ikut hancur saat ini. Lebih perih daripada sakit hatinya sendiri.
"Maaf"
Jangan di tanya Raisa menyesal apa tidak, tentu saja sangat menyesal. Apalagi dia mengetahui satu kebenaran jika selama ini cintanya tak bertepuk sebelah tangan. Bahkan Papanya saja tau jika Adam memiliki rasa yang sama.
Dengan bodohnya dia mengikuti rencana orang misterius itu yang ternyata Rio dan Papanya.
FLASHBACK ON
Halo??" Raisa yang belum selsai melihat video itu sampai habis justru mendapat telepon dari nomor yang berbeda lagi dari pengirim video.
"Apa kau sudah melihatnya??"
"Apa maksud semua ini??" Raisa bingung sebenarnya ada hubungan apa antara video itu dengan orang yang sering menghubunginya itu.
"Adam sudah tau siapa aku dan apa niat ku menghubungi mu"
"Apa???" Raisa terkejut karena Adam terlihat biasa saja kepadanya, tidak pernah bertanya tentang misterius itu.
"Sekarang kau percaya kan kalau dia memang berniat buruk kepada mu dan juga Papamu?? Kalau tidak, kenapa dia tidak jujur kepadamu kalah ternyata dia sudah tau tentang ku?? Lalu kenapa dia harus datang ke sini dan menghajar semua anak buah ku??"
Raisa masih diam mencerna apa yang pria itu katakan.
__ADS_1
"Alasannya hanya satu, dia tidak ingin aku membongkar tabiatnya selama ini karena aku telah mengantongi semua bukti kecurangannya. Dia mengancam akan menghancurkan aku jika aku sampai mengganggu mu lagi dan menunjukkan bukti itu"
"Tidak mungkin" Gumam Raisa antara percaya dan tidak percaya.
"Memangnya siapa kau?? Kenapa Mas Adam bisa tau siapa dirimu??"
"Kau tidak perlu tau siapa aku. Yang penting sekarang adalah waktunya untuk bertindak karena aku tidak bisa terus menghubungi mu lagi karena dia bisa saja membuktikan ancamannya itu"
"Maksud mu??"
"Ikuti apa yang ku katakan, dan aku akan memberikan semua bukti itu kepadamu"
Raisa tampak berpikir sejenak dan tak kunjung menjawab perintah orang itu.
"Apa lagi yang kau pikirkan, bukankah tujuan mu selama ini sudah ada di depan mata?? Apa kau mau menyia-nyiakan kesempatan ini??"
"Apa rencana mu??"
Orang misterius itu tampak tertawa renyah di seberang sana.
"Lusa, bawa dia ke suatu tempat. Berpura-puralah menyiapkan kejutan untuknya. Tapi ingat, jangan sampai anak buahnya mengikuti mu. Akan ku kirimkan tempatnya kepadamu setelah ini. Apa kau setuju"
"Baiklah" Raisa tak tau keputusannya itu benar atau tidak, tapi otaknya yang terus mendiktenya itu telah membuatnya mengambil keputusan.
"Bagus, kau akan segera mendapatkan bukti-bukti itu"
Tut....
Raisa mencengkeram erat ponsel pintarnya. Entah kenapa seperti ada yang mengganjal dalam hatinya saat ini.
FLASHBACK OFF
"Keluarlah, saya mau istirahat" Ucap Adam dengan begitu dingin. Pria itu lalu menutup matanya kembali.
"T-tapi Mas..."
"Keluarlah"
Tes....
Air mata Raisa kembali menghujani pipinya yang masih basah. Ternyata sesakit itu menjadi seseorang yang di benci. Keadaannya sekarang sudah berbalik, sungguh seperti roda yang berputar dan menempatkan Raisa pada titik dimana Adam dulu berada. Bukan lagi membenci namun dia yang di benci.
"Iya Ica keluar, Mas Adam istirahat ya, maaf sudah menyakiti Mas Adam sedalam ini"
__ADS_1