
Raisa dan Adam sudah di depan ruang kerja milik Satya. Raisa akhirnya memutuskan untuk menemui Papanya dengan membawa kabar gembira tentang kehamilannya itu. Itu pun atas bujukan Adam karena menurutnya, Satya akan sangat gembira menyambut kehadiran calon cucunya itu.
"Tapi aku takut Mas" Raisa tampak ragu saat Adam ingin mengetuk pintu ruangan itu. Bahkan kata itu sudah Raisa ucapkan beberapa kali.
Raisa takut jika dia akan di marahi Papanya karena hamil dari kesalahan yang ia lakukan pada saat malam itu.
"Nggak papa, percaya sama aku" Adam menggenggam tangan Raisa lalu mengetuk pintu ruangan Satya.
"Masuk"
Raisa semakin di buat gugup dengan suara Satya yang menyahut dari dalam.
"Pa, maaf ganggu" Adam yang tetap selalu sopan di hadapan Satya meski sudah menjadi menantunya.
"Tidak, Papa sudah selesai. Ada apa kalian malam-malam berduaan ketemu Papa di sini?? Ada yang penting??" Satya menatap pasangan itu silih berganti.
Raisa yang terus menundukkan wajahnya, dan Adam yang terus mengulas senyumnya. Sungguh berbanding terbalik.
"Ada yang ingin kami sampaikan Pa"
"Apa itu?? Jangan bilang kalian akan melakukan hal yang aneh-aneh. Papa nggak akan mau dengar, sudah cukup berita kemarin bisa kita redam sekarang jangan bikin ulah lagi"
Raisa merasa jika ucapan Papanya itu tertuju kepadanya, karena memang Satya masih terlihat begitu dingin kepadanya.
"Bukan Pa, yang akan kita sampaikan ini adalah kabar bahagia"
Satya menatap menantunya itu penuh dengan tanda tanya.
"Angkat kepalamu dan katakan sama Papa" Bisik Adam.
"Mas aja" Balas Raisa dengan manja.
"Apa-apaan kalian ini?? Cepat katakan ada apa??" Geram Satya pada kedua anaknya itu.
Pria yang tak lagi muda itu tampaknya sudah tak sabar melihat pasangan itu tak kunjung menyampaikan niat mereka datang menemuinya.
"Pa, kami hanya ingin mengatakan kalau sebentar lagi Papa akan menjadi seorang Kakek" Jelas Adam namun tampaknya Satya masih belum bisa mencerna ucapan menantunya itu.
__ADS_1
"Maksudnya??"
Tangan Adam bergerak menyentuh perut Raisa yang masih rata itu.
"Maksudnya, di dalam sini sudah ada calon cucu Papa"
Satya melepaskan kacamata yang sejak tadi bertengger di hidungnya. Kelopak matanya yang sudah keriput itu membuat matanya semakin terlihat sayu. Satya berjalan mendekati Raisa dengan wajahnya yang masih terlaku terkejut.
"Ini benar Sa?? Kamu hamil?? Kamu mengandung cucu Papa??" Satya terlihat begitu haru dengan perasaan bahagianya.
"Iya Pa, hiks..hiks..." Raisa menghambur ke pelukan Papanya. Papa yang begitu ia rindukan akhir-akhir ini.
Suasana haru mendadak menyelimuti ketiganya. Saat Raisa justru menangis terisak-isak di pelukan Papanya, juga Satya yang tak bisa menahan tangisannya karena putrinya yang terus menangis. Serta Adam yang diam-diam mengusap air matanya tanpa sepengetahuan kedua orang itu.
"Sudah, jangan nangis lagi. Kamu sebentar lagi menjadi Ibu, harus jadi lebih dewasa. Jangan cengeng kaya gini"
"Raisa cuma masih nggak percaya aja Pa kalau Raisa sekarang lagi hamil"
Satya mengusap lembut kepala putrinya. Putri kecilnya yang sudah dewasa dan siap menjadi seorang Ibu.
"Itu tandanya Allah sudah percaya sama kamu Sa. Allah memberikan rizki yang tiada tara ini. Maka dari itu, kedepannya kamu harus menjaganya lebih baik lagi. Sayangi dia dengan sepenuh hati. Jadilah istri dan Ibu yang baik untuk Adam dan anak-anak kalian"
"Ini baru putri Papa" Bukan hanya Satya, tapi sejak tadi Adam terus tersenyum melihat Raisa yang terlihat semakin dewasa. Juga aura keibuannya yang mulai terpancar dari wajah cantiknya itu.
"Jaga istri dan calon anakmu dengan baik Dam. Walau bandel kaya gini, tapi Raisa tetap putri kesayangan Papa"
"Tentu saja Pa, saya akan menjaga mereka seperti saya menjaga diri saya sendiri selama ini. Mereka segalanya untuk saya, karena saya menyayangi mereka berdua"
Raisa sempat terkejut dengan pernyataan Adam itu. Matanya menatap Adam begitu dalam, mencari kebohongan di sana.
"Apa yang dia maksud tadi?? Dia sayang sama gue??"
"Papa percaya sama kamu" Satya menepuk bahu Adam.
"Tapi Pa, ada yang ingin saya bicarakan, ini menyangkut pekerjaan"
Satya menoleh pada Raisa, seolah memberi isyarat pada putrinya itu untuk keluar dari sana lebih dulu.
__ADS_1
"Kamu ke kamar dulu ya, nanti aku nyusul" Adam bahkan dengan berani menyentuh pipi Raisa saat ini.
"Iya" Patuh Raisa meski dia sangat penasaran dengan apa yang ingin Adam bicarakan.
Raisa melangkah pergi dari ruangan itu. Namun dengan sengaja Raisa tidak menutup pintunya dengan rapat. Sedikit menyisakan ruang agar Raisa bisa mendengar percakapan dari dalam sana.
Karena rasa penasarannya, Raisa mempertaruhkan dirinya untuk mencuri dengar pembicaraan di dalam sana dari balik pintu.
"Pa, sebenarnya saya sudah ingin membicarakan hal ini sejak kemarin-kemarin. Tapi karena Papa terlalu sibuk, jadi baru bisa sekarang"
Raisa masih bisa mendengar dengan jelas meski pintunya hanya terbuka sedikit.
"Memangnya apa?? Kayaknya penting banget"
"Itu Pa, masalah uang itu"
"Uang?? Uang apa yang Mas Adam maksud??" Raisa menajamkan pendengarannya.
"Tidak usah bahas uang itu lagi. Itu Papa berikan kepadamu, kamu berhak mendapatkannya"
"Tapi Pa, bukankah itu sama saja mendapatkannya secara cuma-cuma. Dan itu terlalu banyak"
Kemudian Raisa teringat akan uang dengan jumlah banyak yang dikirim perusahaan ke rekening Adam.
"Kamu tidak perlu berpikir seperti itu Dam, Papa sudah menganggap kamu sebagai anak Papa sendiri, bukan menantu lagi. Jadi jangan sungkan"
"Terimakasih Pa"
"Sama-sama, sekarang kembalilah ke kamar. Kasihan Raisa sudah menunggu mu"
Buru-buru Raisa pergi dari sana sebelum Adam keluar dan melihatnya masih ada di sana.
Raisa memilih bersembunyi di ruangan yang letaknya tepat di sebelah ruang kerja Satya. Tak mungkin baginya untuk berlari ke kamarnya karena terlalu jauh.
"Hufff.." Raisa mengusap peluhnya ketika melihat Adam melewati ruangan itu dan berjalan menuju ke kamar mereka.
"Uang itu, apa jangan-jangan uang itu yang mereka maksud?? Jadi Mas Adam mendapatkan uang sebanyak itu dari Papa secara cuma-cuma??"
__ADS_1
Raisa menggeleng tak percaya, di saat dia mencoba percaya pada Adam. Justru hal-hal yang membuatnya ragu terus berdatangan.