Terjerat Cinta Bodyguard Tampan

Terjerat Cinta Bodyguard Tampan
Musibah


__ADS_3

Lagi-lagi senyum tak pernah lepas dari bibir Adam saat baru saja kembali dari dokter kandungan. Tentu saja kalian bisa menebak apa penyebab Adam memasang wajah secerah itu. Raisa benar-benar mengajak Adam ke dokter kandungan sesuai janjinya kemarin.


Meski sebenarnya malu menanyakan hal sensitif seperti itu pada dokter, tapi Raisa melakukan itu demi membahagiakan suaminya.


Dan kata dokter tadi tentu saja membuat suaminya itu bahagia. Di samping kandungan Raisa yang kembali kuat, Adam juga sudah boleh melalukan hubungan suami istri dengan syarat mereka harus melakukannya dengan hati-hati.


"Berati nanti malam boleh dong yank??"


Entah sudah berapa kali Adam bertanya seperti itu sejak keluar dari rumah sakit tadi.


"Maaasss, udah dong malu kalau di dengar yang lain. Sekali lagi Mas tanya, nggak usah jadi aja!!" Raisa menekuk wajahnya karena malu sekaligus kesal. Dia berjanji akan melayani suaminya itu sepenuh hati meski baru pertama kali ini di melakukannya secara sadar. Tetapi, dia malu kalau Adam terus-terusan mengungkitnya seperti itu.


"Yah yah, nggak gitu dong yank. Kamu kan udah janji" Adam.menghadang jalan Raisa.


"Ya udah makanya jangan tanya lagi!!" Raisa bersedekap tak ingin di bantah.


"Iya iya, maaf"


Raisa mengangguk, lalu kembali menarik lengan Adam. Bergelayut manja di sana sambil berjalan menuju rumah.


"Ngomong-ngomong kapan kita mau pulang ke Jakarta Mas??"


"Kamu udah nggak betah di sini??"


Raisa menggeleng di lengan Adam. Dia tentu saja betah di mana saja asalkan ada suaminya itu. Tapi, dia merindukan Papanya. Dia juga tidak bersiap membawa barang-barangnya jika ingin menetap di kampung.


"Ica kangen Papa. Kalau besok Mas tetap ingin tinggal di sini, Ica mau kok. Tapi temenin Ica ambil barang-barang Ica dulu ya??"


"Kamu mau kalau kita menetap di sini??" Adam berhenti dan menatap Raisa dengan serius.


"Mau, asal sama Mas, Ica mau tinggal di mana aja"


Cup...


Raisa memejamkan mata saat bibir Adam mengecup keningnya dengan lembut.

__ADS_1


"Mas juga pingin tinggal di sini yank, suasananya enak. Hening nggak kaya di Jakarta. Tapi, kerjaan Mas juga ada di sana. Papa juga sendirian di sana"


"Ya udah, besok kita pikirin lagi. Kita omongin juga sama Papa" Putus Raisa membuat Adam tersenyum senang. Dia bahagia karena Raisa sudah bisa berpikir begitu dewasa.


"Dam!!"


Kebahagiaan mereka harus terhenti karena Widodo yang datang berlari dari kejauhan dengan wajah paniknya.


"Kenapa Mas??"


"Ayo ikut dulu, ada masalah di kebun"


Adam bisa membaca dari raut wajah Widodo jika masalah yang sedang mereka hadapi bukanlah hal yang kecil.


"Kamu masuk dulu ya, istirahat di dalam. Mas lihat kebun dulu"


"Iya, hati-hati" Raisa yang tidak tau apa-apa tetap khawatir dengan suaminya.


Dia hanya bisa berdoa supaya tidak terjadi hal-hal yang buruk terhadap suaminya.


Widodo membawa Adam ke daerah perkebunan cabai, tomat, dan kacang panjang. Setiba di sana, sudah banyak pekerja di sana termasuk juga Hanif.


"Benar Mas Adam, ini ndak wajar to kayaknya. Ndak masuk akal wae kalau dalam waktu semalam jadi kaya gini" Parman, pria tua itu terduduk lesu karena selama ini dia yang memegang kendali untuk penanaman, perawatan serta panen cabai dan tomat.


Adam masih diam, dia mencoba mendekati tanaman yang kini benar-benar layu layaknya dan tak menunjukkan tanda-tanda bisa hidup lagi.


"Aku rasa semua tanaman ini di racun Mas" Ucap Hanif yang ikut berjongkok saat Adam memegang tanah di bawah pohon cabai itu.


"Benar Nif, rumput di sekitarnya juga ikut mati. Kayaknya ini sejenis herbisida non selektif, seperti glusofat" Adam menepuk-nepuk tangannya yang kotor terkena tanah.


"Benar Mas, cairan itu tidak berbau dan bening, apa mungkin itu di campur di aliran air untuk menyiram tanaman ini. Di lihat dari tanaman yang semuanya layu merata, pasti herbisida itu di campur di dalam air dalam tandon Mas"


"Berarti kemarin sore pas Mas nyiram sama Pak Parman, airnya udah terkontaminasi yo Dam??" Widodo menyesal karena tidak menyadari jika air itu sudah di campur obat.


"Kalau pun benar, Mas juga nggak akan sadar. Karena warnanya ada yang bening kaya air Mas" Sahut Adam tak mau menyalahkan Widodo dan Parman.

__ADS_1


"Sekarang Mas Dodo sama Pak Parman jangan sedih lagi kaya gini. Kalau sudah layu seperti ini ya sudah, berarti bukan rejeki kita. Lebih baik, Pak Parman bantu kuras tandon yang untuk menyiram kemarin. Untuk Mas dodo, tolong cari pekerja yang lain untuk menguras semua tandon dulu. Siapa tau ada juga yang terkontaminasi"


"Baik Mas, saya kuras dulu sampai bersih" Parman akhirnya bangkit dengan semangat lagi.


"Tapi Dam, kira-kira sopo sing tega kaya gini yo Dam??" Dodo masih amat sangat sedih melihat tanam cabai yang hampir siap panah tiba-tiba mati, dan tomat yang hampir memerah sudah busuk dalam semalam.


"Kita selidiki dulu Mas, jangan menebak-nebak nanti jatuhnya fitnah"


"Mas lihat tandon yang lain dulu"


Dodo kemudian beranjak dari sana. Meninggalkan Adam, Hanif, juga pekerja yang lain.


"Sekarang ini gimana Mas??"


"Ya mau gimana lagi Nif, sudah kaya gini ya kita cabut semuanya dulu. Bersihkan dan netralkan tanahnya dulu. Sambil nunggu tanahnya siap, kamu siapkan bibitnya lagi"


"Baik Mas"


"Ayo Pak, bersihkan semuanya aja sekarang" Perintah Adam pada para pekerja yang masih bingung dan kecewa dengan tanaman yang mereka rawat.


"Baik Mas"


Adam meraup wajahnya dengan kasar, menatap luasnya kebun tanaman cabai, tomat juga kacang panjang yang kini telah hancur tak bersisa.


Kalau di hitung, tentu saja rugi puluhan juta apalagi kata Widodo tadi harga cabai dan tomat sedang tinggi saat ini.


Tapi mau bagaimana lagi?? Saat ini Adam hanya perlu mencari siapa pelakunya.


Saat senja tiba, Adam baru kembali ke rumah. Dia langsung masuk ke dalam kamar mencari wanita yang mampu membuat dirinya tenang saat ini.


Meski sejak tadi dia berusaha setenang mungkin di hadapan pekerjanya, tapi sebenarnya Adam juga merasa sedih.


"Mas, baru pulang??" Raisa yang sejak tadi cemas menunggu Adam, kini langsung menghampiri Adam, begitu pria tampan dengan wajah lesu itu masuk ke dalam kamarnya.


"Sebenarnya ada ap..."

__ADS_1


Grepp....


"Mas??" Raisa terkejut karena Adam yang tiba-tiba memeluknya dengan erat.


__ADS_2