
Setelah berhasil mengendarai sepeda motor milik Adam yang ada di garasi, akhirnya Stevi berhasil sampai di minimarket dengan selamat. Meski dia harus mengendarai motornya dengan begitu pelan.
Setelah mendapatkan apa yang ia cari, Stevi tak juga beranjak dari minimarket itu. Dia malah memilih duduk di depan sana sambil menikmati es krim coklat kesukaannya.
Matanya memang menatap lurus ke jalanan di depannya, tapi pikirannya teringat saat Hanif membonceng Fany tadi.
Stevi memang bukan siapa-siapa bagi Hanif. Pria itu pun tidak akan pernah memikirkan perasan Stevi seperti yang Stevi inginkan. Nyatanya tadi saat Hanif sama sekali tidak menjelaskan apapun, menegurnya saja tidak.
"Emang siapa lo Stev??" Stevi ingin menertawakan dirinya sendiri.
Dia belum pernah merasakan jatuh cinta sedalam ini. Selama ini dia terus bermain-main saja dengan pria-pria di sekitarnya. Tidak pernah menganggap perasaannya itu serius. Tapi kali ini, setelah Stevi yakin jika apa yang ia rasakan itu cinta. Dia malah di buat kecewa sebelum benar-benar mendapatkannya.
"Apa ini karma gue karena udah biasa mainin cowok??"
Ketika hari sudah mulai sore, Stevi baru tiba di area perkebunan Raisa setelah berdiam begitu lama didepan minimarket. Dia bahkan menghiraukan beberapa pesan serta panggilan dari Fany dan Raisa.
Kedatangan Raisa itu di sambut oleh Raisa dan Fany di teras rumah Adam.
"Ya Allah Stev, lo kemana aja sih??" Fany menghampiri Stevi yang baru saja melepas helmnya.
"Beli ini" Stevi mengambil bungkusan plastik yang ia letakkan di motornya.
"Tapi kenapa lama banget?? Kata Fany lo pergi udah dari pagi. Lo nggak ikut makan siang juga"
"Hehe, maaf Sa. Gue keasikan lihat pemandangan di sekitar sini jadi gue betah. Cuma jalan-jalan di sekitar sini aja kok. Gue juga udah makan tadi" Jelas Stevi tak sepenuhnya berbohong.
"Lagian lo kan bisa ngajak gue kan Stev, biar ngga sendiri" Fany sebenarnya takut jika Stevi marah terkait hal yang tadi. Tapi di samping itu, dia juga khawatir kalau Stevi kenapa-napa di jalan.
"Lo katanya lagi sakit, ya udah dong gue pergi sendiri aja. Udah deh, sekarang kan gue udah pulang dan sehat-sehat aja. Masuk yuk, gue mau ganti. Gerah banget"
Itu hanya alasan Stevi saja untuk menghindar dari kedua sahabatnya. Dia tau kalau keduanya pasti akan bertanya begitu rinci kepadanya.
*
*
*
__ADS_1
Fiuhhhh.....
Raisa terkejut karena Adam meniup telinganya dari belakang.
"Maaassss!!!" Keluh Raisa dengan manja.
"Habisnya kamu ngelamun aja. Mas masuk dari tadi aja kamu nggak sadar, Mikirin apa??"
Adam sebenarnya sudah sejak tadi masuk ke kamar, dan hanya melihat istrinya yang duduk menghadap ke jendela tanpa menyadari kedatangannya.
"Maaf Mas"
"Eh, ngapain Mas??"
Adam meraih tangan Raisa untuk membantunya berdiri, lalu Adam duduk di kursi yang di duduki Raisa tadi. Baru kemudian, Raisa di tarik kembali untuk duduk di depan Adam. Jadi sekarang posisinya Adam bisa memeluk Raisa dari belakang dalam posisi duduk.
"Gini kan enak, bisa peluk istri sepuasnya"
"Emang biasanya belum puas peluknya??" Raisa melirik suaminya di belakang.
"Kalau sama kamu nggak pernah puas. Pingin peluk terus"
"Sakit dong yank, Mas nggak mau di cubit. Maunya di gigit"
"Dasar omes kamu ya Mas"
"Cuma sama kamu loh yank"
Raisa menggelengkan kepalanya, seakan melihat Adam yang lain saat ini.
"Tadi kamu ngelamun mikirin apa?? Coba cerita sama Mas. Kita udah janji kalau ada apa-apa bakalan cerita loh"
Raisa menyandarkan kepalanya bahu Adam yang sangat nyaman itu.
"Sebenarnya bukan masalah kita sih Mas"
"Terus??"
__ADS_1
"Kamu tau kalau Stevi suka sama Mas Hanif kan??" Adam hanya mengangguk.
"Tadi pagi, Fany itu sakit kepala dan di antar Hanif ke puskesmas. Terus, pas mereka pulang nggak sengaja di lihat sama Stevi"
"Mungkin perasaan Fany aja atau emang Stevi cemburu. Habis itu, Stevi pergi ke bawah naik motor sendirian, katanya mau ke minimarket tapi dari pagi sampai sore baru pulang"
Adam mengecup bahu Raisa yang tak tertutup kain dengan lembut. Tangannya juga mengusap perut besar istrinya dengan gerakan yang teratur.
"Sekarang Mas tanya sama kamu. Kalau kamu lihat Mas naik motor berdua sama wanita lain kamu marah nggak?? Walaupun kamu belum jadi istri atau pacar Mas, tapi kamu kan udah suka sama Mas nih, gimana reaksi kamu?? Cemburu, marah atau biasa aja??"
"Ya pasti cemburu, kesel aja lihatnya" Raisa saja sampai benci banget sama Adam karena dia melihat Adam sama Ayu waktu itu.
"Nah itu kamu udah tau jawabannya. Meskipun Stevi belum jadi siapa-siapa buat Hanif tapi rasa itu udah ada kan?? Terlepas dari Hanif berniat baik mengantar Fany berobat. Tapi masalah hati nggak ada yang bisa memaksa kan yank. Kita belum tau masalah Hanif suka atau enggak sama Stevi"
"Nah itu masalahnya Mas. Kalau Ica lihat, Mas Hanif malah sukanya sama Fany. Gimana dong?? Ica takut persahabatan kita rusak gara-gara cinta"
"Kita doakan yang terbaik buat mereka aja. Kita juga nggak bisa ikut campur terlalu dalam masalah mereka kan"
Raisa mengangguk, memeluk tangan Adam yang berada di perutnya.
"Yank"
"Hemm??"
"Kamu wangi banget sih, pakai parfum apa??"
Adam yang semula hanya mengecup bahu, kini mulai berpindah ke tengkuk Raisa. Memberi kecupan-kecupan basah di sana.
"Mas, jangan mulai ya. Ica belum bisa kasih lebih"
"Mas tau sayang, Mas nggak mungkin setega itu sama kamu dan anak kita. Tapi Mas benar-benar nggak tahan sebenarnya"
Raisa menoleh ke belakang, menatap suaminya mata suaminya yang sudah benar-benar berkabut.
"Masshhh" Suara Raisa benar-benar sudah tak terkendali karena Adam terus saja bermain pada tengkuknya.
"Hemm"
__ADS_1
"Besok kita ke dokter aja, kita tanya gimana kondisi kandungan aku. Bisa nggak kalau buat itu" Raisa benar-benar kasihan melihat suaminya itu.
"Beneran yank??" Adam menjauh dari tengkuk Raisa, kemudian menatap istrinya itu penuh binar.