
"Ahhh ****!!" Umpat Adam saat berhasil melepas dua benda sintal itu keluar dari sangkarnya.
"Mas siapkan airnya dulu" Adam langsung beranjak menyalahkan shower dan mengatur suhu yang pas untuk Raisa meski dia harus menahan agar ajun tidak semakin memberontak meski sudah terlihat jelas tonjolan besar di celananya.
Raisa yang begitu gugup terus menghilangkan kedua tangannya di depan dada. Melindungi dua asetnya itu. Karena tidak tau kenapa, Adam tidak membuka penutup aset bawahnya itu.
( Ya takut Ajun makin nggak bisa di kendalikan dong Mbak Ica..Masa nggak tau sih🤣🤣🤣🤣🤣)
"Mas siram ya??"
Raisa mengangguk karena Raisa tau kalau Adam mengatakan itu supaya dia tidak terkejut dengan tetesan air yang pertana mengenai tubuhnya tapi tetap saja akhirnya tubuh Raisa bergeser hebat, apalagi Adam yang terus menatapnya seolah menelan***nginya. ( Ya emang udah tela**ang 🤣)
Deg....
Serrr...
Raisa berteriak dalam hati ampun-ampunan. Sudah di buat hampir pingsan dengan mandi berdua seperti itu, kini Raisa harus di uji karena tangan Adam mulai membaluri rambut, bahu dan punggungnya dengan sabun.
"Hentikan penyiksaan ini Mas!!!! Please?!!"
Tanpa Raisa ketahui, tanpa dia sadar jika bukan dirinya saja yang tersiksa. Adam juga jauh lebih tersiksa. Kini ajun sudah tidak terkendali lagi. Benda keramat yang baru di pakai sekali itu sudah mengembang sempurna di bawah sana hingga membuat Adam berkali-kali meringis menahan nyeri yang minta di tuntaskan.
Adam dengan telaten membersihkan seluruh tubuh Raisa hingga kini dia berjongkok di depan Raisa seperti tadi.
Glek...
Lagi-lagi Adam menelan ludahnya karena harus berhadapan dengan dua benda yang menggantung udah itu, apalagi kini Raisa tak lagi menutupinya. Ingin sekali dia meraihnya, mencium dan memainkannya.
"Tahan Dam!!"
Adam mencoba mengalihkan pandangannya dengan matanya yang bergerak naik menatap manik mata Raisa.
Entah dugaan Adam saja atau bagaimana, Adam melihat mata itu sayu dan seperti tertutup kabut.
Mata Adam mulai turun, melihat bibir semerah cherry meski tanpa di poles lipstik itu.
__ADS_1
Bibir ranum yang terasa manis, Adam masih ingat bagaimana lembutnya bibir itu saat Adam memungutnya beberapa kali waktu itu. Bibir yang seakan menjadi candunya meski susah sekali untuk merasakannya lagi.
Tangannya yang masih berbalut busa sabun terangkat untuk mengusap bibir yang begitu menggoda itu.
Serrr....
Raisa memejamkan matanya merasakan sentuhan tangan Adam pada bibirnya, apalagi jarinya yang panjang itu ikut menyentuh rahang Raisa. Seluruh tubuhnya ikut berdesir hebat.
Rasanya munafik sekali kalau Raisa mengatasnamakan hormon kehamilannya yang naik karena menginginkan sentuhan Adam yang lebih dari itu. Raisa memang mendamba sentuhan Adam saat ini, tapi itu murni dari hari dan tubuhnya, bukan karena hormon.
Tapi itu tidak akan mungkin karena kondisinya saat ini tidaklah memungkinkan.
"Apa-apaan gue?? Kenapa jadi kaya jablay gini??" Raisa merasa seperti wanita yang haus belaian. Tapi memang begitu kenyataannya.
Sementara Adam yang masih terpukau dengan bibir kecil dan penuh milik Raisa terus menggeram dalam hatinya. Rasanya sudah tidak bisa lagi untuk menahan keinginan untuk meraup bibir itu.
"Sayang??" Suara Adam mulai parau.
"Hemm??"
"Boleh nggak kalau Ma.."
Baru kali ini, untuk pertama kalinya Raisa bisa membaca pikiran Adam, jika biasanya pikirannya yang di baca oleh pria yang masih berjongkok di depannya itu.
Tidak peduli lagi rasa malu, dia juga menginginkan Adam saat ini.
Jawaban Raisa membuat Adam tersenyum kemudian meraih wajah Raisa dengan kedua tangannya. Menemukan bibir Raisa dengan bibirnya sendiri.
Adam bukannya mengecup dengan lembut atau sekedar menempelkan bibirnya saja. Tapi pria itu benar-benar langsung meraupnya. Seolah-olah ingin menghabiskannya dengan cepat.
Adam yang di selimuti kerinduan membuat Raisa mulai terbuai dengan permainannya bibirnya yang terkesan tergesa-gesa namun terasa lembut. Tangan Raisa pun sudah bertengger indah di leher Adam.
Pria itu benar-benar pintar memimpin pergulatan bibir itu. Raisa yang amatiran tentu saja sempat susah mengimbangi suaminya. Tapi Adam yang membimbingnya dengan gerakan lembut membuat Raisa mulai bisa mengimbangi Adam.
Pautan itu belum juga terlepas selama beberapa menit, bahkan lidah Adam saja sudah bisa menerobos masuk membelit dan menyisir seluruh rongga mulut Raisa.
__ADS_1
Tangannya yang sejak tadi terus menopang wajah Raisa kini mulai turun ke bahu, menyusur ke bawah hingga menemukan sesuatu yang menurutnya begitu indah itu.
"Akhhhh...."
Raisa memekik hingga ciuman mereka terlepas begitu Adam menyentuh benda itu dengan lembut.
"Mas, aku lagi nggak baik-baik aja. Kamu tau itu kan??" Raisa tak bermaksud menolak jika Adam menginginkan yang lebih dari itu, tapi dia mengingat kandungannya yang lemah saat ini.
Tapi Adam menatap wajah Raisa yang memerah dan bibirnya yang agak bengkak membuat Raisa semakin menggoda di mata Adam.
"Mas tau sayang, Mas nggak akan sampai ke sana. Mas cuma kangen sama kamu"
Cup....
Adam kembali menautkan bibirnya lagi. Dia belum puas dengan mainan yang sekarang menjadi kesukaannya itu.
Bukannya Adan tak peduli dengan keadaan Raisa yang masih lemah saat ini. Dia juga tau kapan dia harus berhenti karena keadaan Raisa. Dia hanya ingin melepas rindunya saat ini.
Adam juga memainkan benda sintal itu dengan hati-hati. Hanya memainkannya dengan lembut. Karena yang Adam tau, itu bisa menyebabkan kontraksi pada kandungan Raisa. Adam pernah membaca tentang hal itu sebelumnya.
"Emmmhhh..." Leguhan Raisa itu keluar saat Adam memindahkan bibirnya pada leher Raisa yang basah.Bermain di sana dengan kecupan-kecupan lembut.
Semua itu membuat Adam menggila, suara Raisa, harum tubuhnya, lembutnya kulit Raisa, bibirnya yang manis, Adam seakan tak ingin menghentikan semua itu dan berharap dia bisa melakukan hal yang lebih dari itu. Tapi dia sadar semua yang ia lalukan nyatanya menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.
"Stop Dam!!" Sesuatu dari dalam diri Adam menghentikan Adam yang hampir tak terkendali.
Cup...
Adam kembali mengecup bibir Raisa, kini dengan begitu singkat.
"Mas bilas sekarang ya sayang. Mas takut kebablasan"
Adam langsung berdiri dan membasuh seluruh tubuh Raisa dengan cepat. Tepatnya berusaha secepat mungkin karena ada suatu hal yang harus dia tuntaskan setelah ini.
Padahal Raisa tau jika suaminya itu sedang berada di puncak ha*ratnya saat ini. Hal itu di tandai dengan Raisa yang melihat benda yang terlihat keras menonjol dari balik boxer yang di pakai Adam.
__ADS_1
"Maaf ya Mas" Lirih Raisa pada suaminya yang masih membilas seluruh badan Raisa.
"Nggak papa sayang, Mas bisa nahan. Tapi nggak tau sampai kapan" Adam masih meringis menahan rasa yang semakin menyiksa.