Terjerat Cinta Bodyguard Tampan

Terjerat Cinta Bodyguard Tampan
Kejutan


__ADS_3

Hari ini Adam berangkat ke kantor sendirian. Namun raut bahagia terpancar jelas dari wajahnya. Dia begitu bahagia hanya karena Raisa yang meminta untuk tidak ikut ke kantor. Istrinya itu katanya ingin menyiapkan sebuah kejutan untuk Adam.


Entah apa yang akan di lakukan istrinya, tapi mendengar keinginan istrinya itu saja sudah membuat Adam merasa begitu bahagia.


"Pak Adam kok berangkat sendirian, di mana Bu Raisa Pak??" Gaby di buat keheranan dengan Adam yang tampak datang sendiri.


"Di rumah, dia ingin menyiapkan kejutan untuk saya katanya" Jawab Adam dengan sumringah sampai membuat Gaby menganga. Pasalnya baru kali ini Gaby melihat Adam dengan senyum selebar itu. Tak biasanya juga Adam menjawab pertanyaan Gaby tentang maslahah pribadinya. Sungguh sesuatu yang membuat Gaby keheranan.


"Wah pantas aja Pak Adam kelihatan bahagia sekali hari ini" Puji Gaby pada Adam yang senyumnya belum surut juga. Pria itu berkali-kali lipat lebih tampan dengan senyumnya itu.


Memang benar kata orang jika orang jarang tersenyum, ketika tersenyum pasti akan begitu memukau.


"Apa terlihat seperti itu??"


"Tentu saja, Pak Adam terlihat makin ganteng aja" Gaby yang sudah tak mengenal malu malah terang-terangan memuji suami orang.


Tanpa menyahuti Gaby lagi, Adam berlalu ke ruangannya. Yang ada di dalam pikirannya saat ini hanyalah istrinya.


"Apa Raisa mulai menerimaku??"


"Kalau benar, apa aku harus mengungkapkan perasaanku??"


"Tapi kejutan apa yang dia siapkan sebenarnya??"


Adam seperti anak remaja yang sedang kasmaran. Terus tersenyum sepanjang waktu saat mengingat istrinya itu. Adam bahkan merasa waktu berjalan begitu lama. Dia serasa tidak sabar ingin segera pulang dan menemui pujaan hatinya.


Namun, waktu yang terasa begitu lama itu terus bergulir hingga jam menunjukkan angka lima. Dimana Adam sudah bisa pulang saat ini.

__ADS_1


Adam kembali bersemangat. Wajah lelah dan kusamnya sejak tadi sudah berganti lagi dengan wajah sumringah layaknya matahari yang terbit di pagi hari tadi.


Dia kelar dari ruang kerjanya, melewati meja Gaby tanpa menyapa sekretarisnya itu. Seolah dia tak menganggap kehadiran wanita genit itu sama sekali.


Biasanya Gaby akan menggerutu kesal karena di abaikan oleh Adam, namun kali ini dia justru tersenyum dengan aneh menatap punggung Adam yang mulai menjauh.


Meski sempat terhalang oleh kemacetan kota Jakarta di jam pulang kantor, tapi Adam termasuk cepat sampai di rumah.


Dia memarkirkan mobilnya dengan asal. Lalu menghampiri Raisa yang ternyata sudah menunggunya di depan pintu. Wanita kesayangannya itu tampak cantik dengan rambut lurusnya yang sengaja di buat curly di bagian ujungnya. Juga dress warna putih sebatas lutut tampa lengan sudah membuatnya tampak begitu cantik.


"Maaf lama" Adam ingin sekali mendekap Raisa saat ini juga karena terlalu gemas dengan istrinya.


"Tidak juga, ayo berangkat" Raisa meraih tangan Adam lebih dulu. Sesuatu yang belum pernah Raisa lakukan. Namun begitu membahagiakan bagi Adam.


"Sebenarnya kita mau ke mana??" Adam masih penasaran dengan tujuan Raisa membawanya.


"Jalan aja dulu, nanti juga tau"


Adam hanya menurut. Pria yang kaku dan garang itu kini justru terlihat manis karena terlalu menuruti keinginan istrinya.


Sepanjang jalan, mereka berdua sering melemparkan candaan yang sederhana namun begitu membahagiakan di hati Adam. Dia juga enggan melepaskan tangan Raisa yang sejak tadi di genggamnya.


Menurut petunjuk yang Raisa katakan, Adam menghentikan mobilnya di sebuah taman yang sudah begitu sepi karena hari sudah gelap.


"Kamu yakin di sini??" Heran Adam karena melihat situasi sekitarnya tampak sepi dan gelap.


"Iya yakin, ayo turun"

__ADS_1


Keduanya berjalan berdampingan masuk lebih dalam ke taman yang terlihat aneh dalam perasaan Adam.


"Sebenarnya kamu siapin apa sih Sa??"


Raisa tak menyahut, dia justru berjalan selangkah di depan Adam dengan menarik tangan Adam untuk mengikutinya.


Untuk sejenak, Adam sempat terperangah dengan apa yang dilihatnya. Taman yang tadi tampak gelap kini tiba-tiba menjadi terang.


Lampu-lampu menyoroti ke satu titik dimana sebuah meja dengan dua kursi sudah di siapkan di sana. Dengan bebagai hiasan lilin dan bunga membuat suasana terkesan romantis.


"Kamu yang siapkan semua ini??"


Pertanyaan Adam hanya di jawab sebuah senyuman tipis oleh Raisa. Senyuman yang tampak aneh di mata Adam.


Tapi pikiran itu langsung di tepis, dia masih tak percaya dengan apa yang Raisa siapkan untuknya. Seharusnya sebagai seorang pria, dia yang memberikan kejutan seperti ini untuk istrinya itu. Mungkin juga degan begitu, Adam bisa mendapatkan waktu yang tepat untuk mengungkapkan segala perasaanya.


Tapi melihat semua ini, Adam semakin yakin jika Raisa mulai membuka hati untuknya. Cinta terpendam Adam ternyata mulai menemukan titik terang saat ini. Setelah bertahun-tahun, kapal cintanya akan berlayar juga.


"Memangnya dalam rangka apa kamu siapkan semua ini Sa??" Tanya Adam masih dalam kebahagiaannya.


"Tentu untuk bertemu dengan ku Tuan Adam yang terhormat"


Adam menoleh mencari sumber suara lain yang ada di sama.


"Siapa kalian??"


Adam yang masih mencerna apa yang terjadi terlihat kebingungan karena dia tiba-tiba di kepung banyak orang.

__ADS_1


__ADS_2