Terjerat Cinta Bodyguard Tampan

Terjerat Cinta Bodyguard Tampan
Kesalahpahaman


__ADS_3

"Tunggu!!" Raisa berhenti di ambang pintu.


"Jawab dengan jujur, sebenarnya apa alasan Nona begitu membenci saya!!"


Raisa berbalik, memperlihatkan mata yang penuh dengan luka seperti milik Adam saat ini. Namun bedanya, mata Raisa terlalu kabur tertutup air mata sedangkan milik Adam mengkilat penuh kebencian.


"Karena aku terlalu mencintai Mas Adam"


"Cih" Adam merasa Raisa terlalu naif. Dia bahkan menunjukkan menaikkan salah satu ujung bibirnya hingga membentuk senyuman licik. Mana percaya Adam dengan jawaban Raisa itu.


"Apa Nona sudah kehabisan alasan untuk membela diri sampai menebar kebohongan lagi??" Adam berbalik menatap Raisa tak suka.


Tatapan hangat yang akhir-akhir ini di berikan Adam sudah tak ada lagi. Semua itu sudah tergantikan dengan rasa kecewa yang amat dalam.


Meski Adam tau jika cinta sepihaknya di balas dengan dusta, tapi Adam tetap merasa kesakitan. Hati yang di paksa kuat untuk di sakiti berkali-kali itu akhirnya remuk sudah. Tak bisa bertahan kokoh lagi, hancur dan tak tersisa.


Hatinya yang sebenarnya lembut meski tertutup aura dingin selama ini sebenarnya hangat dan penuh cinta. Tapi semua itu kini terasa mati rasa, Adam tak yakin jika hatinya akan kembali sembuh seperti semula.


"Tapi Ica nggak bohong Mas!!" Tegas Raisa dengan suara lirihnya.


"Jangan pakai nama itu lagi, Ica yang saya kenal bukan wanita yang angkuh, sombong, munafik dan keras kepala seperti Nona!!"


Raisa mencengkeram ujung piyamanya. Raisa kini tau apa yang di rasakan Adam saat dia menghinanya dulu.


"Tapi aku memang nggak bohong Mas. Maaf karena rasa cinta ku sama Mas Adam justru membuat hubungan kita jauh waktu itu. Semua memang salahku" Raisa menunduk menyesali semuanya.


Kenapa dari dulu dia tidak menanyakan apa hubungan Adam dengan Ayu. Tidak mendengarkan pembicaraan Adam dan Ibunya sampai selesai.

__ADS_1


"Aku marah waktu itu karena melihat Ayu dan Mas Adam. Apalagi mendengar Ayu yang mengatakan jika dia mencintai Mas Adam. Aku cemburu dan aku marah waktu itu. Di tambah lagi..." Raisa rasanya tak bisa mengatakan apa yang menjadi sebab kecurigaannya kepada Adam selama ini.


"Di tambah lagi, waktu itu, aku mendengar pembicaraan Mas Adam sama Ibu Mas Adam hang ingin menguasai harta Papa" Tubuh Raisa merosot ke lantai, menutup wajahnya yang kini terisak dengan kedua telapak tangannya.


"Hu..hu..hu..hu.." Suara tangisan itu terdengar pilu di telinga siapapun.


Dia tidak peduli jika Adam akan menertawakannya saat ini. Atau mungkin Adam yang akan mendorong tubuhnya ke luar dari kamarnya. Tapi Raisa sudah tidak kuat lagi. Dia sudah pasrah saat ini.


Kini ingatan Adam mundur jauh ke beberapa tahun silam, dia ingat Ayu memang menemuinya waktu itu. Tapi Adam sudah jelaskan pada Raisa jika dia tidak punya hubungan apa-apa dengan wanita itu.


Dia hanya teman Adam dari kecil, mereka berdua memang di jodohkan orang tua mereka. Tapi Adam tidak mau dan menolak keras keinginan Ibu tirinya karena dia tidak mencintai Ayu sedikitpun. Ya Ibu tiri, karena memang Ibu kandung Adam sudah meninggal sejak dia kecil.


"Dasar bodoh!!" Gumam Adam membuat Raisa semakin hanyut dalam tangisannya.


Tidak perlu di perjelas, Raisa sudah mengakui jika dirinya benar-benar bodoh dan tak tau berterimakasih. Tapi mendengarnya langsung dari Adam membuat dirinya semakin ingin menghilang dari muka bumi ini.


Raisa menggeleng masih dengan menutup wajahnya, dia tidak berani menatap Adam yang kini mulai meninggikan suara kepadanya.


Raisa menerima kemarahan Adam, Raisa juga tau pria itu sudah terlampau kecewa, tapi untuk menghadapi Adam saat ini, tak bisa bohong jika dirinya memang ketakutan.


"Dari dulu saya tidak tau kenapa sikap Nona berubah sama saya. Saya juga tidak tau kenapa Nona selalu menatap saya dengan tatapan kebencian. Juga kata-kata kasar yang kerap kali saya terima padahal saya tidak tau salah saya di mana"


"Nona selalu menghindar dari saya saat saya ingin menanyakan apa kesalahan saya saat itu. Tapi semenjak itu pula saya sadar jika kita berdua memang tidak selevel, saya sadar jika saya memang tidak pantas mempunyai perasaan lebih pada anak dari majikan saya sendiri"


Kali ini Raisa mengangkat kepalanya, menatap penuh kesakitan pada Adam. Lagi-lagi ungkapan perasaan Adam itu tidak membuatnya bahagia namun justru membuat hatinya sakit.


"Benar kata Nona jika saya memang manusia rendahan, miskin, penjilat, pembohong dan masih banyak lagi tuduhan yang Nona berikan sama saya, saya terima semuanya. Memang lebih baik kita kembali seperti dulu lagi. Diaman Nona hanya menganggap saya sebagai manusia paling menjijikkan di mata Nona"

__ADS_1


Raisa menggelengkan kepalanya, tak terima dengan apa yang Adam utarakan itu.


"Enggak Mas, kamu bukan orang seperti itu. Jujur meski aku sering mengatakan semua itu, tapi hatiku menolaknya Mas. Hatiku selalu berpihak sama kamu, tapi aku yang bodoh karena selalu mengikuti apa yang ada di pikiran ku"


"Sudahlah Nona, semuanya sudah terjadi. Biarkan kesalahpahaman itu tetap melekat pada Nona. Menjelaskannya pun untuk apa lagi. Lagipula, penjelasan saya belum tentu membuat Nona percaya sama saya. Saya juga sudah tidak peduli lagi dengan pandangan buruk Nona sama saya"


Adam bergerak mengambil jaketnya pada lemari kayu yang ada di depannya. Entah mau pergi kemana pria itu malam-malam begini.


Dia mendekat ke arah pintu yang artinya mendekat pada Raisa juga karena wait hamil itu masih terduduk di lantai dan bersandar pada daun pintu.


"Dan satu lagi"


Raisa mendongak menatap Adam yang begitu tinggi.


"Setelah anak saya lahir, saya akan menuruti semua keinginan Nona, termasuk berpisah"


Deg...


Kepala Raisa berdenyut hebat, dadanya sampai berdenyut karena jantungnya yang berdetak terlalu kencang.


Perpisahan yang dulu sering Raisa ucapkan, justru keluar dari bibir Adam.


Pria itu bahkan sudah melenggang pergi tanpa peduli pada Raisa lagi.


Raisa memukul dadanya yang terasa sangat sulit memasok oksigen.


"Adakah kata lain yang menggambarkan rasa sakit ku ini??" Gumam Raisa terus menatap suaminya yang mulai menjauh.

__ADS_1


"Ica nggak mau pisah dari kamu Mas"


__ADS_2